Menjaga Nyala Intelektual: IMM dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Publish

10 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
91
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menjaga Nyala Intelektual: IMM dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Oleh: Muh. Khalifah P.H.W, Sekretaris Umum DPD IMM Sulawesi Selatan

“Ilmu pengetahuan harus melahirkan keberanian untuk membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan. Tanpa keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan, intelektualitas hanya akan melahirkan generasi yang cerdas tetapi kehilangan nurani.”
(Ahmad Syafii Maarif)

Di tengah arus perubahan zaman yang bergerak cepat, gerakan mahasiswa tidak cukup hadir sebagai penonton sejarah. Ia dituntut menjadi kekuatan moral sekaligus intelektual yang memberi arah bagi perjalanan bangsa. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), sebagai bagian dari denyut gerakan Islam berkemajuan, memikul tanggung jawab untuk menjaga nyala ilmu sekaligus menghadirkannya dalam amal kebangsaan yang nyata. Pada titik itu gerakan kader akan menemukan suatu makna: berpikir dengan kedalaman, bergerak dengan kesadaran, dan memberi dampak bagi kehidupan bermasyarakat.

Milad ke-62 IMM yang mengusung tema “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia” menjadi momentum reflektif untuk menimbang kembali arah gerakan kader di tengah dinamika kebangsaan yang semakin kompleks. Bagi organisasi kader, usia bukan sekadar penanda perjalanan waktu, tetapi ruang evaluasi untuk memastikan bahwa gerakan tetap hidup dalam tradisi intelektual dan keberpihakan sosial. karena organisasi mahasiswa tidak hanya diukur dari keberlangsungan secara struktur, melainkan sejauh mana gagasan dan kontribusi dapat memberi makna bagi kehidupan bangsa.

Sejak awal berdirinya pada 1964, IMM diproyeksikan sebagai ruang kaderisasi yang mengintegrasikan dimensi keagamaan, keilmuan, dan kemasyarakatan. Trilogi ini menegaskan bahwa kader IMM bukan hanya aktivis organisasi, tetapi insan akademis yang memiliki kesadaran spiritual, kecakapan intelektual, dan tanggung jawab sosial. Dalam kerangka ini, gerakan kader tidak berhenti pada aktivitas organisasi semata, melainkan menghadirkan pemikiran dan tindakan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Namun perjalanan panjang gerakan mahasiswa tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Dalam sejumlah refleksi kader, muncul kegelisahan mengenai kemungkinan stagnasi gerakan yang terjadi ketika aktivitas organisasi lebih banyak berkutat pada rutinitas pragmatis dibandingkan penguatan tradisi intelektual. Ketika energi kader terserap pada dinamika internal dan orientasi jangka pendek, ruang refleksi dan produksi gagasan sering kali mengalami pelemahan. Akibatnya, organisasi tetap berjalan, tetapi tidak selalu bergerak secara substantif dalam menjawab persoalan masyarakat.

Dalam berbagai kajian mengenai dinamika internal IMM, fenomena tersebut sering disebut sebagai gejala stagnasi gerakan. Kondisi ini terjadi ketika orientasi intelektual organisasi tidak lagi menjadi arus utama, sementara aktivitas organisasi lebih didominasi oleh pragmatisme gerakan. Padahal sebagai organisasi mahasiswa, kekuatan utama IMM justru terletak pada kapasitas intelektual kadernya. Tanpa penguatan tradisi intelektual, gerakan mahasiswa berisiko kehilangan daya kritisnya sebagai kekuatan moral di tengah masyarakat.

Refleksi tersebut membawa kita untuk membaca kembali akar pemikiran gerakan IMM sebagaimana diuraikan dalam buku Genealogi Kaum Merah. Buku ini menjelaskan bahwa identitas “kaum merah” dalam tradisi IMM tidak sekadar merujuk pada simbol organisasi, tetapi menggambarkan karakter kader yang memiliki keberanian berpikir dan keberpihakan terhadap nilai-nilai keadilan sosial. “Merah” dalam konteks IMM adalah metafora tentang semangat intelektual yang menyala, keberanian menyuarakan kebenaran, serta komitmen untuk memperjuangkan kemaslahatan masyarakat.

Sejak awal, IMM tumbuh dalam tradisi dialektika pemikiran yang kuat. Diskusi ilmiah, budaya membaca, serta keberanian mengkritisi realitas sosial menjadi bagian dari kultur gerakan kader. Dari ruang-ruang intelektual tersebut lahir kader-kader yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan bagi kemajuan umat dan bangsa. Tradisi intelektual inilah yang sesungguhnya menjadi ruh keberadaan IMM sebagai gerakan mahasiswa.

Dalam perkembangan zaman yang semakin kompleks, kebutuhan terhadap gerakan intelektual menjadi semakin mendesak. Arus globalisasi pengetahuan, perkembangan teknologi digital, serta menguatnya pragmatisme politik di lingkungan kampus menuntut mahasiswa untuk memiliki ketajaman analisis dan integritas moral. Tanpa keduanya, gerakan mahasiswa mudah terjebak pada aktivisme yang dangkal dan kehilangan relevansinya bagi masyarakat.

Kegelisahan terhadap kondisi tersebut mendorong lahirnya gagasan gerakan intelektual profetik,  dalam buku halim sani yang berjudul Manifesto Gerakan Intelektual Profetik. Dalam karya tersebut ditegaskan bahwa gerakan mahasiswa Islam perlu dibangun di atas fondasi intelektual yang kuat sekaligus memiliki orientasi moral yang jelas.

Konsep intelektual profetik merujuk pada gagasan ilmu sosial profetik yang diperkenalkan oleh Kuntowijoyo, yang menempatkan tiga nilai utama sebagai orientasi gerakan sosial: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi berarti memanusiakan manusia dari berbagai bentuk dehumanisasi sosial. Liberasi berarti membebaskan masyarakat dari struktur ketidakadilan. Sementara transendensi menegaskan bahwa setiap gerakan sosial harus berlandaskan kesadaran ketuhanan sebagai sumber nilai dan moral perjuangan.

Bagi IMM, kerangka pemikiran ini memberikan arah strategis bagi pengembangan gerakan kader. Sebagai organisasi mahasiswa Islam, IMM tidak hanya diharapkan melahirkan aktivis kampus, tetapi juga intelektual muda yang mampu menghadirkan gagasan transformatif bagi kehidupan masyarakat. Gerakan mahasiswa tidak cukup berhenti pada kritik terhadap realitas sosial, tetapi perlu menghadirkan alternatif pemikiran yang konstruktif bagi pembangunan bangsa.

Di sisi lain, refleksi tentang arah gerakan IMM juga berkaitan dengan upaya menjaga autentisitas organisasi, yang diuraikan dalam buku IMM Otentik. Autentisitas gerakan berarti menjaga ruh intelektual dan moral yang menjadi dasar berdirinya organisasi ini. IMM yang otentik bukan sekadar organisasi yang besar secara struktural, tetapi organisasi yang hidup dalam tradisi berpikir kritis dan keberpihakan sosial.

Autentisitas tersebut menuntut kader untuk menjaga independensi intelektual serta integritas moral dalam setiap aktivitas gerakan. Dengan demikian, IMM dapat terus memainkan peran sebagai kekuatan moral dan intelektual yang memberi kontribusi bagi kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif ini, tema “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia” memperoleh makna yang lebih mendalam. Bergerak berarti menjaga dinamika gerakan kader agar tetap responsif terhadap perubahan zaman. Sedangkan berdampak berarti memastikan bahwa setiap aktivitas organisasi memiliki kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

Gerakan yang berdampak tidak selalu hadir dalam bentuk aksi besar di ruang publik. Ia juga dapat diwujudkan melalui produksi gagasan, penelitian sosial, advokasi kebijakan, maupun pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks ini, kader IMM dituntut untuk mengembangkan kapasitas intelektualnya agar mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Indonesia hari ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan, mulai dari ketimpangan sosial, krisis lingkungan, hingga problem pendidikan dan polarisasi politik. Dalam situasi seperti ini, kehadiran generasi muda yang memiliki integritas moral dan kecakapan intelektual menjadi sangat penting. IMM memiliki potensi besar untuk melahirkan kader-kader seperti itu.

Milad ke-62 IMM diharapkan menjadi momentum untuk peneguhan kembali komitmen gerakan kader sebagai gerakan intelektual yang memberi dampak bagi kehidupan bangsa. Tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi perlu terus dihidupkan sebagai budaya gerakan yang memperkuat kapasitas kader.

Selama nyala intelektual itu tetap terjaga, IMM akan terus relevan sebagai gerakan mahasiswa yang tidak hanya bergerak di ruang organisasi, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia. Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah gerakan tidak hanya diukur dari seberapa luas organisasinya, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Dr Hidayatulloh, MSi, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Sebelum mendirikan Persyarikat....

Suara Muhammadiyah

20 May 2025

Wawasan

Kaitan IMM dan Film Jumbo Oleh: Figur Ahmad Brillian/ IMM Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam Unive....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Wawasan

Pentingnya Menjaga Batik sebagai Warisan Budaya dan Pilar Ekonomi Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat ....

Suara Muhammadiyah

2 October 2024

Wawasan

Oleh: Karim Muhammad Perdana Kusuma. Siswa Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta Saya sangat setu....

Suara Muhammadiyah

21 September 2024

Wawasan

Keluarga Muhammadiyah dan Muhammadiyah Keluarga Oleh : Rahmat Balaroa, Kader Muhammadiyah, Founder ....

Suara Muhammadiyah

6 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah