Samudra Ilmu dalam Senyap Kerendahan Hati: Mengenang Prof Hamim Ilyas
Oleh: Sobirin Malian, Dosen Universitas Ahmad Dahlan
Sabtu dini hari, 23 Mei 2026, jarum jam seakan bergerak lebih lambat di Yogyakarta. Di tengah keheningan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, sebuah berita duka menyebar dan seketika menyelimuti dunia keislaman serta akademik Indonesia dengan mendung kesedihan yang pekat. Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus [Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah], telah mengembuskan napas terakhirnya. Sosok pelita yang selama puluhan tahun menerangi umat dengan kejernihan berpikirnya, kini telah berpulang ke haribaan Ilahi.
Kepergian beliau meninggalkan ruang kosong yang teramat besar. Namun, yang beralih sesungguhnya hanyalah jasad duniawinya; sementara warisan ilmu, gagasan besar, dan kilau keteladanan sifatnya akan tetap hidup, menetap abadi di sanubari setiap murid dan umat yang pernah merengkuh teduh ajarannya.
Filosofi Padi yang Autentik
Jika kita bertanya kepada siapa pun yang pernah bersinggungan langsung dengan beliau—baik rekan dosen, aktivis persyarikatan, hingga mahasiswa di ruang kuliah—maka satu kata yang akan selalu berdengung seragam adalah: tawadhu. Kerendahan hati Prof. Hamim bukan sekadar hiasan bibir atau pencitraan di atas mimbar, melainkan sebuah laku hidup yang autentik. Beliau adalah penjelmaan nyata dari filosofi ilmu padi: kian berisi, kian merunduk.
Bayangkan seorang tokoh yang memegang otoritas tertinggi dalam merumuskan fatwa keagamaan bagi jutaan warga Muhammadiyah, sekaligus menyandang gelar akademik tertinggi. Dengan segala atribut mentereng itu, Prof. Hamim tidak pernah sedikit pun membangun tembok eksklusivitas. Beliau tetaplah pria bersahaja asal Klaten yang tutur katanya santun, lembut, dan menenangkan. Beliau tidak pernah menonjolkan kebesaran gelarnya, melainkan membiarkan keluasan ilmunya mengalir senyap seperti air yang menghidupkan tanah gersang.
Oase Teduh di Ruang Kelas
Bagi para mahasiswanya di [Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga], Prof. Hamim bukan sekadar pengajar yang berdiri kaku di depan papan tulis. Beliau adalah seorang ayah rohani. Di ruang-ruang kelas, beliau tidak pernah menggunakan otoritas intelektualnya untuk membungkam argumen mahasiswa yang masih mentah. Sebaliknya, dengan penuh kesabaran dan senyum yang tulus, beliau mendengarkan setiap pertanyaan. Beliau menghargai proses berpikir anak-anak didiknya tanpa sedetik pun menunjukkan arogansi.
Di bawah bimbingannya, ruang kuliah tidak pernah menjadi tempat yang menegangkan atau penuh tekanan. Bersama Prof. Hamim, berdiskusi tentang hukum Islam terasa seperti mereguk air dari oase yang jernih. Beliau tidak mendikte, melainkan menuntun; beliau tidak menghakimi, melainkan merangkul.
Arsitek Teologi Kasih Sayang
Di panggung pemikiran Islam kebangsaan, Prof. Hamim Ilyas dihormati sebagai salah satu arsitek utama yang merumuskan gagasan "Tauhid Rahamutiyah" atau Teologi Kasih Sayang. Bagi beliau, tauhid dan keimanan tidak boleh berwujud sebagai dogma yang garang, kaku, dan gemar menghukum. Beliau menempatkan kasih sayang transformatif (Rahmatan lil 'Alamin) sebagai inti paling dasar dari keimanan dan amal saleh.
Beliau selalu menegaskan bahwa seluruh syariat Islam diturunkan oleh Allah demi satu tujuan utama: menghadirkan kemaslahatan nyata, keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Pemikiran inilah yang membuat corak keislaman yang beliau bawa selalu terasa fungsional dan berkemajuan. Agama, di mata Prof. Hamim, harus hadir menjawab tantangan zaman yang konkret—bukan sekadar berhenti di riuhnya perdebatan konseptual atau sunyinya ritual keagamaan. Sikap hidupnya yang washatiyah (moderat) menjadikannya sosok pemersatu yang mampu menjembatani berbagai perbedaan mazhab dan pandangan keagamaan dengan kepala dingin.
Kini, sang samudra ilmu yang berselimut kesunyian itu telah merampungkan bait-bait pengabdiannya di dunia. Rumah duka di Sorowajan, Banguntapan, Bantul, dipenuhi air mata dan doa-doa yang mengalir dari hati yang kehilangan. Kita kehilangan senyum teduhnya, kita kehilangan jernih pandangan fikihnya, dan kita kehilangan teladan nyata dari figur ulama yang benar-benar menyatu antara ilmu dan amalnya.
Namun, cara terbaik untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Prof. Hamim Ilyas bukanlah dengan larut dalam ratapan kesedihan yang panjang. Cara terbaik adalah dengan merawat warisan pemikirannya, menghidupkan teologi kasih sayang yang selalu beliau dengungkan, serta meniru langkah hidupnya yang bersahaja dan penuh kerendahan hati.
Selamat jalan menuju keabadian, Prof. Hamim. Terima kasih telah menjadi kompas moral dan intelektual bagi kami. Terima kasih telah mengajarkan bahwa ilmu yang tinggi tidak diukur dari seberapa megah kita berdiri di hadapan manusia, melainkan dari seberapa tunduk kita bersujud dan mengabdi untuk kemaslahatan umat. Semoga Allah Swt. melapangkan kuburmu, melipatgandakan pahala atas setiap bulir ilmu yang kau amalkan, dan menempatkanmu di tempat termulia, Jannatun Na'im. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

