Menjaga Rumah Besar dengan Adab dan Hikmah

Publish

27 December 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
760
Istimewa

Istimewa

Menjaga Rumah Besar dengan Adab dan Hikmah

Dalam perjalanan dakwah dan pengabdian, seorang pengurus perempuan, sebut saja Salma, selalu hadir dengan hati dan tangan terbuka. Sejak bertahun-tahun, ia membersamai umat bukan demi jabatan, bukan demi pengakuan, tetapi demi manfaat nyata. Dakwahnya hadir dalam pengajian tematik, pelatihan energi bersih, hingga ikhtiar menghadirkan panel surya di sekolah-sekolah. Relasi yang dibangun bukan relasi transaksional, melainkan relasi keumatan—lahir dari kepercayaan, konsistensi, dan aksi nyata.

Suatu ketika, Salma diingatkan bahwa setiap kegiatan di wilayah harus melalui jalur resmi, MoU, atau nota kesepahaman. Aturan yang tak tertulis, tetapi hidup dan dijaga turun-temurun. Ia menanggapi dengan tenang. Bukan menolak aturan, tetapi ingin memahami agar niat baik, inovasi, dan kebaikan tidak terhambat.

Di sini terlihat benturan antara dua kultur: kerja organik berbasis trust versus struktur hierarkis yang menjaga tertib organisasi dan akuntabilitas. Keduanya penting. Keduanya lahir dari niat menjaga kebaikan.

Dengan bijak, Salma berkata,

“Jika aturan itu jelas, saya siap menjalaninya. Rumah besar ini harus inklusif, ramah, terbuka, dan cerdas.”

Kata-kata itu bukan protes, tetapi refleksi dan visi: agar setiap perempuan yang berdakwah dengan caranya sendiri tetap diterima, dihargai, dan didengar. Dalam Islam, keteraturan dan amanah adalah bagian dari ibadah, sebagaimana Allah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).

Ibrah dari kisah ini sederhana namun penting: aturan organisasi hadir untuk melindungi, inovasi dan relasi umat adalah napas dakwah. Keduanya harus berjalan beriringan, saling meneguhkan. Rumah besar seperti ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah akan tetap kokoh dan hidup, jika dijaga dengan adab, kasih sayang, dan hikmah, sambil tetap memegang amanah Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90).

Dengan demikian, kita belajar bahwa kepatuhan, kreativitas, dan ketulusan dapat berjalan bersama. Rumah besar ini akan selalu menjadi tempat yang aman, hangat, dan penuh cahaya bagi semua generasi perempuan yang berdakwah dengan sepenuh hati.

[Hening Parlan]


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Washli Sjafie: Nusantarakan Pendidikan Muhammadiyah Kalimantan Barat Oleh: Amalia Irfani Keb....

Suara Muhammadiyah

6 October 2023

Humaniora

Sakit Cerpen Affan Safani Adham Tangan kananku masih memegang bor cordless ketika jarum jam suda....

Suara Muhammadiyah

23 January 2026

Humaniora

Menjaga Titik dan Koma Oleh: Isngadi Marwah Atmadja Pada mulanya titik dan koma  Lalu huruf ....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Humaniora

Cerpen Rusmin Sopian Usai purna tugas sebagai abdi negara, perubahan drastis terjadi pada sosok Mat....

Suara Muhammadiyah

21 March 2025

Humaniora

Deni Asyari; Tukang Adzan Ekonomi Jamaah Muhammadiyah Oleh: Ganjar Sri Husodo “Ternyata, har....

Suara Muhammadiyah

2 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah