Menjaga Rumah Besar dengan Adab dan Hikmah

Publish

27 December 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
710
Istimewa

Istimewa

Menjaga Rumah Besar dengan Adab dan Hikmah

Dalam perjalanan dakwah dan pengabdian, seorang pengurus perempuan, sebut saja Salma, selalu hadir dengan hati dan tangan terbuka. Sejak bertahun-tahun, ia membersamai umat bukan demi jabatan, bukan demi pengakuan, tetapi demi manfaat nyata. Dakwahnya hadir dalam pengajian tematik, pelatihan energi bersih, hingga ikhtiar menghadirkan panel surya di sekolah-sekolah. Relasi yang dibangun bukan relasi transaksional, melainkan relasi keumatan—lahir dari kepercayaan, konsistensi, dan aksi nyata.

Suatu ketika, Salma diingatkan bahwa setiap kegiatan di wilayah harus melalui jalur resmi, MoU, atau nota kesepahaman. Aturan yang tak tertulis, tetapi hidup dan dijaga turun-temurun. Ia menanggapi dengan tenang. Bukan menolak aturan, tetapi ingin memahami agar niat baik, inovasi, dan kebaikan tidak terhambat.

Di sini terlihat benturan antara dua kultur: kerja organik berbasis trust versus struktur hierarkis yang menjaga tertib organisasi dan akuntabilitas. Keduanya penting. Keduanya lahir dari niat menjaga kebaikan.

Dengan bijak, Salma berkata,

“Jika aturan itu jelas, saya siap menjalaninya. Rumah besar ini harus inklusif, ramah, terbuka, dan cerdas.”

Kata-kata itu bukan protes, tetapi refleksi dan visi: agar setiap perempuan yang berdakwah dengan caranya sendiri tetap diterima, dihargai, dan didengar. Dalam Islam, keteraturan dan amanah adalah bagian dari ibadah, sebagaimana Allah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).

Ibrah dari kisah ini sederhana namun penting: aturan organisasi hadir untuk melindungi, inovasi dan relasi umat adalah napas dakwah. Keduanya harus berjalan beriringan, saling meneguhkan. Rumah besar seperti ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah akan tetap kokoh dan hidup, jika dijaga dengan adab, kasih sayang, dan hikmah, sambil tetap memegang amanah Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90).

Dengan demikian, kita belajar bahwa kepatuhan, kreativitas, dan ketulusan dapat berjalan bersama. Rumah besar ini akan selalu menjadi tempat yang aman, hangat, dan penuh cahaya bagi semua generasi perempuan yang berdakwah dengan sepenuh hati.

[Hening Parlan]


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Di tengah lingkungan yang mayoritas beragama Katolik, Masjid Nurul Asfar di Minggir, Sleman, Yogyaka....

Suara Muhammadiyah

17 March 2025

Humaniora

Sebait Kisah Perjalanan Perempuan 'Aisyiyah Generasi Pre Boomers Kalimantan Barat Penulis: Amalia I....

Suara Muhammadiyah

18 January 2026

Humaniora

Hormati Tetangga, Muliakan Tamu Oleh: Wahyudi Nasution Doso, begitu nama panggilan teman ngobrol P....

Suara Muhammadiyah

3 October 2024

Humaniora

Berbagi dan Kehangatan di Ujung Menteng Raya Oleh: Mahli Zainuddin Tago Jalan Menteng Raya Jakarta....

Suara Muhammadiyah

6 June 2024

Humaniora

Mutiara dari Sipirok, Ketulusan yang Tetap Bersinar di Tengah Bencana Oleh: Haidir Fitra Siagian, K....

Suara Muhammadiyah

30 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah