Menjaga Rumah Besar dengan Adab dan Hikmah

Suara Muhammadiyah

27 December 2025

1150
Istimewa

Istimewa

Menjaga Rumah Besar dengan Adab dan Hikmah

Dalam perjalanan dakwah dan pengabdian, seorang pengurus perempuan, sebut saja Salma, selalu hadir dengan hati dan tangan terbuka. Sejak bertahun-tahun, ia membersamai umat bukan demi jabatan, bukan demi pengakuan, tetapi demi manfaat nyata. Dakwahnya hadir dalam pengajian tematik, pelatihan energi bersih, hingga ikhtiar menghadirkan panel surya di sekolah-sekolah. Relasi yang dibangun bukan relasi transaksional, melainkan relasi keumatan—lahir dari kepercayaan, konsistensi, dan aksi nyata.

Suatu ketika, Salma diingatkan bahwa setiap kegiatan di wilayah harus melalui jalur resmi, MoU, atau nota kesepahaman. Aturan yang tak tertulis, tetapi hidup dan dijaga turun-temurun. Ia menanggapi dengan tenang. Bukan menolak aturan, tetapi ingin memahami agar niat baik, inovasi, dan kebaikan tidak terhambat.

Di sini terlihat benturan antara dua kultur: kerja organik berbasis trust versus struktur hierarkis yang menjaga tertib organisasi dan akuntabilitas. Keduanya penting. Keduanya lahir dari niat menjaga kebaikan.

Dengan bijak, Salma berkata,

“Jika aturan itu jelas, saya siap menjalaninya. Rumah besar ini harus inklusif, ramah, terbuka, dan cerdas.”

Kata-kata itu bukan protes, tetapi refleksi dan visi: agar setiap perempuan yang berdakwah dengan caranya sendiri tetap diterima, dihargai, dan didengar. Dalam Islam, keteraturan dan amanah adalah bagian dari ibadah, sebagaimana Allah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).

Ibrah dari kisah ini sederhana namun penting: aturan organisasi hadir untuk melindungi, inovasi dan relasi umat adalah napas dakwah. Keduanya harus berjalan beriringan, saling meneguhkan. Rumah besar seperti ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah akan tetap kokoh dan hidup, jika dijaga dengan adab, kasih sayang, dan hikmah, sambil tetap memegang amanah Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90).

Dengan demikian, kita belajar bahwa kepatuhan, kreativitas, dan ketulusan dapat berjalan bersama. Rumah besar ini akan selalu menjadi tempat yang aman, hangat, dan penuh cahaya bagi semua generasi perempuan yang berdakwah dengan sepenuh hati.

[Hening Parlan]


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Kang Dayat, Pak Guru yang Bermanfaat Sepanjang Hayat Oleh: Yudha Kurniawan, Ketua LPO PDM Bantul K....

Suara Muhammadiyah

31 October 2025

Humaniora

Sebait Kisah Perjalanan Perempuan 'Aisyiyah Generasi Pre Boomers Kalimantan Barat Penulis: Amalia I....

Suara Muhammadiyah

18 January 2026

Humaniora

Kami memanggilnya: Paman Jangkung. Badannya tinggi. Kurus. Beliau adik kandung ibu. Tetapi, ibu dan ....

Suara Muhammadiyah

8 November 2024

Humaniora

Perempuan Bercadar Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul) Penasehat PRM Troketon, Pedan Klaten. "Menutup ....

Suara Muhammadiyah

19 September 2026

Humaniora

Legiun 'Ndregil' Selasa pagi 17 Oktober 2023, tersiar kabar duka wafatnya tokoh sepuh Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

23 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah