Merdeka untuk Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

8 August 2026

62
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Merdeka untuk Berkemajuan

Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Agustus selalu membawa suasana yang berbeda. Merah putih muncul di halaman rumah, sepanjang jalan, sekolah, masjid, kantor, hingga sudut-sudut kampung. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Kita mengenang mereka yang menyerahkan tenaga, harta, bahkan nyawa agar bangsa ini dapat berdiri di atas kehendaknya sendiri. Di tengah suasana itu, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan dengan lebih jujur, setelah delapan puluh satu tahun merdeka, sudah sejauh mana kemerdekaan itu benar-benar hadir dalam kehidupan kita?

Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan arti Proklamasi. Justru sebaliknya. Karena kemerdekaan diperoleh dengan harga yang begitu mahal, ia tidak selayaknya berhenti sebagai peristiwa sejarah yang kita peringati setahun sekali. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus diisi, diperluas, dan disempurnakan. Penjajahan secara politik memang telah berakhir, tetapi setiap zaman melahirkan bentuk ketidakberdayaannya sendiri. Ada ketergantungan ekonomi, ketertinggalan ilmu, lemahnya daya produksi, keterbelahan sosial, kerusakan integritas, ketidakmampuan mengendalikan keinginan, hingga kepemimpinan yang kadang lebih kuat dalam retorika daripada dalam menghadirkan perubahan.

Karena itu, bangsa merdeka tidak cukup hanya memiliki wilayah, pemerintah, bendera, dan lagu kebangsaan. Kemerdekaan harus tumbuh menjadi kemampuan menentukan masa depan dengan kekuatan sendiri. Kita belum sungguh-sungguh merdeka apabila kekayaan alam melimpah tetapi nilai tambahnya lebih banyak dinikmati di luar masyarakat yang memilikinya. Kita belum cukup berdaulat apabila teknologi hanya dapat kita beli tetapi tidak mampu kita kuasai. Kita belum benar-benar kuat apabila anak-anak muda lebih disiapkan menjadi konsumen daripada pencipta. Dan kita belum sepenuhnya bebas apabila keputusan-keputusan hidup mudah dikendalikan oleh ketakutan, fanatisme, hawa nafsu, atau kebutuhan akan pengakuan.

Dalam perspektif Muhammadiyah, keadaan semacam ini seharusnya dibaca dengan semangat tajdid. Tajdid bukan kegemaran mengganti sesuatu hanya karena ia lama. Tajdid adalah keberanian mengembalikan kehidupan kepada nilai yang benar sekaligus mencari cara yang lebih tepat untuk menjawab kenyataan yang berubah. Ia membuat kita setia kepada wahyu tanpa kehilangan keberanian menggunakan akal, ilmu, dan pengalaman. Itulah salah satu watak Islam Berkemajuan, agama tidak ditempatkan sebagai alasan untuk menjauh dari perubahan, tetapi menjadi sumber nilai yang mengarahkan perubahan agar menghasilkan kemaslahatan. 

Kiai Ahmad Dahlan telah meninggalkan pelajaran yang sangat kuat tentang hal itu. Agama tidak cukup dipahami; agama harus menggerakkan. Al-Ma’un menjadi hidup bukan karena berulang kali dibaca, tetapi karena pesan tentang kaum lemah diterjemahkan menjadi tindakan. Dari kesadaran semacam itulah kemudian tumbuh tradisi pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pengkhidmatan yang menjadi kekuatan Muhammadiyah sampai hari ini. Tantangan kita sekarang adalah memastikan semangat tersebut tidak berhenti pada kebanggaan terhadap besarnya amal usaha. Pertanyaan yang lebih penting ialah, seberapa besar amal itu sedang memerdekakan manusia?

Sekolah Muhammadiyah harus memerdekakan anak dari kebodohan sekaligus menumbuhkan keberanian berpikir. Perguruan tinggi Muhammadiyah tidak cukup menghasilkan lulusan; ia harus melahirkan ilmu, riset, teknologi, kewirausahaan, dan pemecahan persoalan bangsa. Rumah sakit tidak cukup besar secara fisik; ia harus menjadi tempat ilmu kedokteran, profesionalitas, dan welas asih bertemu. Zakat tidak cukup sampai kepada mustahik; sebisa mungkin ia harus membuka jalan agar penerimanya mempunyai kapasitas untuk berdiri sendiri. Wakaf harus berani bergerak lebih luas menuju pendidikan, penelitian, kesehatan, dan kegiatan produktif. Amal usaha menemukan kebesarannya bukan ketika asetnya semakin banyak, melainkan ketika semakin banyak manusia memperoleh martabat karena kehadirannya.

Di bidang ekonomi, kemerdekaan juga harus dibaca secara jernih. Kemandirian bukan berarti mengasingkan diri dari dunia. Kita membutuhkan perdagangan, investasi, teknologi, dan kerja sama internasional. Yang harus kita hindari adalah hubungan yang membuat kapasitas kita tidak pernah tumbuh. Setiap keterbukaan seharusnya menjadi jalan untuk belajar, menguasai teknologi, meningkatkan keterampilan, memperkuat industri, dan memperbesar nilai tambah di dalam negeri. Kita harus bergerak dari menjual bahan mentah menuju mengolahnya, dari memakai teknologi menuju mengembangkannya, dari menjadi pasar menuju menjadi produsen. Bangsa yang merdeka bukan bangsa yang menolak dunia, melainkan bangsa yang mampu berhubungan dengan dunia tanpa menyerahkan masa depannya kepada dunia.

Hal serupa berlaku dalam kehidupan intelektual. Kita tidak perlu takut belajar dari peradaban mana pun. Ilmu pengetahuan tidak menjadi tercela karena ditemukan di negeri yang berbeda agama atau kebudayaan. Yang berbahaya justru ketika kita berhenti berpikir, lalu memilih salah satu dari dua ekstrem, menolak segala sesuatu yang datang dari luar atau menerimanya tanpa daya kritis. Keduanya sama-sama menempatkan kita sebagai pengikut. Umat berkemajuan belajar dari siapa pun, mengujinya dengan ilmu, menimbangnya dengan nilai, lalu mengembangkannya menjadi sesuatu yang memberi manfaat lebih luas. Keterbukaan tidak harus menghasilkan kehilangan identitas; justru identitas yang matang membuat seseorang cukup percaya diri untuk belajar.

Kemerdekaan juga membutuhkan persaudaraan. Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah al-Anfal ayat 46 agar perselisihan tidak membuat kita gagal dan kehilangan kekuatan. Peringatan itu sangat relevan pada zaman ketika perbedaan kecil dapat berubah menjadi permusuhan besar hanya karena dipelihara terus-menerus di ruang digital. Energi umat terlalu berharga untuk dihabiskan dalam pertengkaran yang tidak menghasilkan perbaikan. Muhammadiyah dengan tradisi tarjih dan ijtihadnya seharusnya menjadi contoh bahwa keteguhan prinsip dapat berjalan bersama kelapangan hati. Kita boleh berbeda dengan terang, tetapi tidak perlu kehilangan adab. Ukhuwah bukan keseragaman; ukhuwah adalah kemampuan menjaga tujuan besar ketika pandangan kita tidak selalu sama.

Begitu pula dengan ekonomi Islam. Larangan riba mempunyai kedudukan yang jelas dalam Al-Qur’an, tetapi pesan ekonomi Islam tidak boleh menyempit menjadi urusan nama akad. QS. al-Baqarah ayat 279 meletakkan prinsip yang sangat dalam: lā taẓlimūna wa lā tuẓlamūn—jangan menzalimi dan jangan dizalimi. Di situlah ekonomi Islam memperoleh orientasinya. Sistem ekonomi harus memperbesar kesempatan, melindungi pihak yang lemah, mendorong kegiatan produktif, dan mencegah keuntungan dibangun di atas ketidakberdayaan orang lain. Ekonomi syariah akan semakin bermakna ketika petani lebih berdaya, usaha kecil lebih mudah tumbuh, pekerja memperoleh kehidupan yang bermartabat, dan masyarakat mempunyai jalan yang sehat menuju kepemilikan aset.

Namun segala kemajuan ekonomi akan mudah rusak apabila akhlak ditinggalkan. Korupsi pada hakikatnya adalah perampasan terhadap kemerdekaan orang lain. Ia mengambil hak masyarakat untuk pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang layak, jalan yang aman, dan kesempatan hidup yang lebih baik. Ketidakjujuran menghancurkan kepercayaan. Penyalahgunaan jabatan merusak institusi. Kemalasan menurunkan produktivitas. Karena itu amanah, disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab bukan hanya kebajikan individual. Semuanya merupakan modal untuk membangun peradaban.

Tetapi kita tidak boleh berhenti pada seruan moral. Manusia yang baik tetap membutuhkan institusi yang baik. Pemimpin yang amanah tetap harus dapat dimintai pertanggungjawaban. Pengelola amal usaha tetap memerlukan transparansi. Niat ikhlas tetap membutuhkan profesionalitas. Sistem yang sehat bukan penghinaan terhadap kesalehan seseorang; justru ia menjaga agar amanah tidak bergantung pada kesempurnaan pribadi. Tajdid harus sampai ke wilayah tata kelola, berani mengevaluasi, menggunakan data, memperbaiki kekurangan, membuka regenerasi, dan memastikan organisasi tetap hidup jauh setelah tokoh-tokohnya berganti.

Di tengah semua itu terdapat satu bentuk ketidakmerdekaan yang semakin halus, ketidakmampuan manusia menguasai keinginannya sendiri. Kita hidup dalam zaman yang terus membisikkan bahwa kebahagiaan berada pada barang berikutnya yang harus dibeli, tempat berikutnya yang harus dikunjungi, atau pengakuan berikutnya yang harus diperoleh. Islam tidak memusuhi kesejahteraan. Tetapi seorang Muslim seharusnya mengetahui perbedaan antara memiliki dunia dan dimiliki dunia. Puasa, qana’ah, kesederhanaan, dan pengendalian diri mengajarkan kemerdekaan paling personal, kemampuan berkata cukup ketika hawa nafsu terus meminta lebih.

Semua itu akhirnya bermuara pada kepemimpinan. Umat tidak kekurangan gagasan, tetapi sering kekurangan kemampuan mengubah gagasan menjadi tata kerja yang bertahan. Kepemimpinan bukan hanya kecakapan memberi arah, melainkan kemampuan membangun manusia dan institusi yang mampu melanjutkan arah itu. Pemimpin yang baik tidak takut melahirkan orang yang lebih cakap daripada dirinya. Ia tidak menjadikan organisasi sebagai panggung kebesaran pribadi. Ia meninggalkan sistem, budaya kerja, kader, dan nilai yang tetap hidup ketika masa pengabdiannya selesai.

Dalam konteks kebangsaan, Muhammadiyah telah menempatkan Indonesia sebagai Dār al-‘Ahdi wa al-Syahādah, negeri kesepakatan sekaligus ruang pembuktian. Artinya, cinta kepada Indonesia tidak berhenti pada menerima konsensus kebangsaan. Ia harus dibuktikan melalui karya yang membuat negeri ini semakin maju, adil, damai, dan bermartabat. Maka mengisi kemerdekaan bagi warga Muhammadiyah adalah memperbaiki sekolah, memajukan rumah sakit, mengembangkan ilmu, memperkuat ekonomi masyarakat, menjaga persatuan, menegakkan integritas, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat yang dapat dirasakan siapa pun.

Agustus karena itu tidak hanya mengundang kita mengenang keberanian generasi terdahulu. Ia juga meminta pertanggungjawaban generasi hari ini. Mereka telah memerdekakan tanah air dari penjajahan. Tugas kita adalah terus memerdekakan manusia Indonesia dari kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, ketidakadilan, perpecahan, dan kehilangan arah.

Muhammadiyah sejak kelahirannya dibesarkan oleh orang-orang yang tidak berhenti pada kegelisahan. Mereka melihat persoalan lalu mendirikan sekolah. Melihat penderitaan lalu membangun pelayanan. Melihat keterbelakangan lalu menghidupkan ilmu. Melihat kebutuhan zaman lalu melakukan tajdid. Watak itulah yang perlu terus kita warisi.

Sebab kemerdekaan tidak selesai ketika sebuah bangsa berhasil mengusir penjajah. Kemerdekaan menemukan maknanya ketika sebuah bangsa mempunyai kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Dan bagi Muhammadiyah, barangkali di situlah kemerdekaan dan Islam Berkemajuan bertemu, keduanya memanggil manusia keluar dari ketidakberdayaan menuju kemampuan, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari pertengkaran menuju kerja bersama, dari kesalehan yang berhenti pada diri menuju amal yang memajukan kehidupan.

Merah putih yang berkibar pada Agustus ini semestinya tidak hanya mengingatkan kita pada apa yang telah diwariskan para pendahulu. Ia seharusnya bertanya kepada kita, kemajuan apa yang akan kita wariskan kepada mereka yang datang setelah kita?

Itulah kemerdekaan yang harus terus diperjuangkan—merdeka untuk berkemajuan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kisah Yusuf as: Kritik Kepakaran dan Paceklik Masa Kini Oleh: Al-Faiz MR Tarman, M.Ag/Dosen Univers....

Suara Muhammadiyah

22 March 2025

Wawasan

Dari Soekarno hingga Prabowo: Watak dan Kelucuan Politik Kita Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM L....

Suara Muhammadiyah

31 May 2026

Wawasan

Tafsir Kontemporer: Ekoteologis dalam QS. Al Baqarah Ayat 30 Oleh: Amtsal Ajhar/Mahasiswa Universit....

Suara Muhammadiyah

15 April 2025

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (25) Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tinggal di M....

Suara Muhammadiyah

22 February 2024

Wawasan

Menghapus Guru Honorer, Memuliakan Martabat Guru Indonesia Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang....

Suara Muhammadiyah

16 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah