Misteri Sapaan "Saudara Perempuan Harun"
Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Dalam diskursus studi Al-Qur'an, salah satu ayat yang paling sering menjadi sasaran kritik oleh para sarjana Barat era lama maupun para apologet adalah Surah Maryam (19) ayat 28. Ayat ini mengabadikan momen dramatis ketika Maryam binti Imran kembali kepada kaumnya dengan menggendong bayi yang baru saja dilahirkannya secara mukjizat, yaitu Nabi Isa (Yesus). Bukannya sambutan hangat, Maryam justru dihadapkan pada kecurigaan dan penghakiman moral. Namun, fokus perdebatan ilmiah bukan pada tuduhan perzinaan tersebut, melainkan pada sapaan yang dilontarkan kaumnya: "Hai saudara perempuan Harun..."
Para kritikus sering kali menggunakan ayat ini sebagai bukti autentik bagi klaim mereka bahwa Al-Qur'an adalah produk manusia yang mengandung kesalahan sejarah atau anakronisme. Logika yang mereka bangun cukup sederhana: Dalam tradisi Alkitab (Perjanjian Lama), Harun dan Musa memang memiliki seorang saudara perempuan bernama Maryam (Miriam). Namun, Harun dan Musa hidup sekitar abad ke-13 SM (kurang lebih 1250 SM), sementara Maryam ibu Yesus hidup pada abad pertama Masehi. Ada jurang waktu yang luar biasa lebar—setidaknya 1.200 hingga 1.300 tahun—yang memisahkan kedua tokoh ini.
Tuduhan yang sering dilemparkan adalah bahwa Nabi Muhammad saw., yang menurut mereka menyusun Al-Qur'an berdasarkan fragmen informasi yang beliau dengar dari tradisi Yahudi dan Kristen, telah mencampuradukkan dua sosok Maryam yang berbeda. Mereka mengklaim beliau mengira Maryam ibu Yesus adalah orang yang sama dengan Miriam saudara perempuan Harun dan Musa. Jika benar demikian, maka otoritas Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi yang bebas dari kesalahan akan runtuh. Namun, apakah pembacaan yang begitu literal dan terburu-buru ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademis?
Dr. Shabir Ally menekankan bahwa kritik tersebut muncul dari metode pembacaan yang sangat tidak objektif dan cenderung "tidak ramah" (uncharitable reading). Jika kita menanggalkan prasangka dan menelaah Al-Qur'an secara saksama—sebagaimana yang dilakukan oleh para sarjana kontemporer seperti Sidney Griffith dalam The Bible in Arabic atau Holger Zellentin—kita akan menemukan realitas yang sangat berbeda.
Al-Qur'an bukanlah teks yang "bingung" terhadap data Biblika. Sebaliknya, Al-Qur'an menunjukkan pengetahuan yang sangat mendalam dan terperinci tentang kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur'an sering kali mengambil elemen-elemen dari kisah Biblika, namun secara sengaja mengubah atau memberikan penekanan baru pada poin-poin kunci untuk menyampaikan pesan teologis, moral, atau etis tertentu. Fenomena ini disebut sebagai reformasi atau negosiasi tekstual, di mana Al-Qur'an sedang menentukan arah baru bagi iman monoteistik dengan menggunakan terminologi yang sudah dikenal oleh audiensnya saat itu.
Bukti Konsistensi Narasi dalam Al-Qur'an
Argumen terkuat untuk membantah adanya kebingungan dalam pikiran Nabi Muhammad saw. adalah konsistensi struktur naratif Al-Qur'an itu sendiri. Jika benar ada kekeliruan identitas, maka secara logis kita akan menemukan interaksi antara Musa dan Yesus dalam kisah-kisah yang diceritakan Al-Qur'an. Namun, kenyataannya:
Nabi Musa adalah tokoh yang paling sering disebut dalam Al-Qur'an. Kisahnya diceritakan berkali-kali dalam berbagai surah dengan detail yang sangat kaya. Namun, dalam seluruh narasi Musa dan Harun tersebut, Maryam ibu Yesus maupun Yesus sendiri tidak pernah muncul atau disebut sebagai bagian dari keluarga inti mereka.
Maryam sendiri disebut sebanyak 34 kali (beberapa referensi menyebut 36 dalam konteks berbeda) dan Nabi Isa disebut 25 kali. Dalam seluruh kisah Maryam—mulai dari kelahirannya, masa kecilnya di bawah asuhan Zakaria, hingga proses persalinannya—Musa dan Harun sama sekali tidak hadir sebagai karakter fisik.
Maka, klaim bahwa ada "kebingungan" adalah pembacaan yang mengabaikan keseluruhan konteks Al-Qur'an. Jika Al-Qur'an salah mengidentifikasi Maryam sebagai saudara kandung Harun, mengapa Musa tidak muncul untuk membela saudarinya saat ia dituduh berzina? Absennya Musa dalam kisah Maryam membuktikan bahwa Al-Qur'an sepenuhnya sadar bahwa keduanya hidup di era yang berbeda.
Bagaimana kita menjelaskan sebutan "Saudara Perempuan Harun"? Salah satu kunci jawaban terletak pada tradisi budaya masyarakat saat itu. Berdasarkan penjelasan dalam Hadis, umat-umat terdahulu memiliki tradisi yang kuat untuk menamai anak-anak mereka dengan nama-nama nabi atau orang-orang saleh yang hidup sebelum mereka.
Tujuan dari praktik ini adalah sebagai bentuk tabarruk (mencari keberkahan) dan harapan agar sang anak dapat meneladani sifat serta kemuliaan tokoh tersebut. Dalam konteks Maryam, sangat mungkin bahwa ia memang memiliki saudara laki-laki kandung yang diberi nama Harun oleh orang tuanya (Imran dan istrinya), karena nama Harun adalah nama yang sangat terhormat dalam tradisi Bani Israil. Jika ini benar, maka sebutan tersebut hanyalah rujukan kepada anggota keluarga kandungnya yang bernama Harun, tanpa ada kaitannya dengan Harun saudara Musa.
Penjelasan lain yang lebih dalam berkaitan dengan penggunaan metafora dalam bahasa Semitik. Dalam tradisi mereka, istilah "saudara perempuan", "anak perempuan", atau "ayah" sering kali digunakan untuk menunjukkan garis keturunan atau afiliasi kelompok, bukan sekadar hubungan biologis langsung.
Ketika kaumnya memanggil Maryam dengan "Saudara Perempuan Harun," mereka sebenarnya sedang mengingatkan Maryam akan asal-usulnya yang mulia. Mereka seolah berkata, "Wahai keturunan Harun yang suci, ayahmu adalah orang saleh dan ibumu bukan pezina. Bagaimana mungkin kamu, yang berasal dari garis keturunan imam dan nabi yang begitu terhormat, melakukan perbuatan yang kamu anggap nista ini?"
Hal ini sejajar dengan penggunaan dalam Perjanjian Baru. Dalam Injil Lukas 1:5, Elizabet (ibu Yahya/Yohanes Pembaptis) disebut sebagai "daughter of Aaron" (putri Harun). Tentu saja Lukas tidak bermaksud mengatakan bahwa Harun yang hidup 1.300 tahun sebelumnya adalah ayah biologis Elizabet. Lukas hanya ingin menyatakan bahwa Elizabet berasal dari garis keturunan imam (suku Lewi). Mengingat Maryam adalah kerabat Elizabet, maka Maryam pun secara historis dan genealogis terhubung dengan garis keturunan Harun.
Melalui analisis ini, kita dapat melihat bahwa tuduhan anakronisme terhadap Al-Qur'an dalam ayat ini tidak memiliki dasar yang kuat secara tekstual maupun historis. Sebutan "Saudara Perempuan Harun" adalah sebuah perangkat retoris yang digunakan oleh kaum Maryam untuk menekankan kontras antara kemuliaan silsilahnya dengan tuduhan perilaku yang mereka sangkakan kepadanya.
Al-Qur'an tidak sedang melaporkan sebuah fakta biologis bahwa Maryam adalah saudara kandung nabi Harun as., melainkan sedang merekam ucapan orang-orang sezaman Maryam yang menggunakan terminologi silsilah. Dengan memahami kedalaman bahasa, tradisi penamaan, dan konsistensi naratif Al-Qur'an, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada kesalahan sejarah di sini. Yang ada hanyalah keterbatasan perspektif dari pembaca yang mencoba menghakimi teks kuno dengan kacamata yang sempit dan kurang objektif.
Al-Qur'an tetap berdiri teguh sebagai teks yang koheren, yang menggunakan simbol-simbol sejarah untuk menyampaikan kebenaran teologis yang lebih besar bagi umat manusia.

