Muhammadiyah Terus Memberi Terang

Publish

28 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
332
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Muhammadiyah Terus Memberi Terang 

Penulis: Amalia Irfani, Sekretaris LPP PWM Kalbar/LPPA PWA Kalbar

Ramadhan dan Syawal 1447 Hijriyah tahun 2026 menjadi salah satu momentum dakwah Muhammadiyah yang sekali lagi menemukan rintangan terjal. Penolakan pelaksanaan shalat Ied serta cemoohan berupa statement berseliweran di media sosial, ditanggapi sangat tenang dan santun oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, M.Si. 

Pernyataan beliau yang ditujukan ke masyarakat, secara eksplisit memberi penjelasan detail kepada warga Muhammadiyah agar tidak terpancing dengan debat tanpa arah yang sengaja dipelintir oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk memecah persatuan umat Islam. Dilansir dari Medcom.id, Beliau meminta seluruh pihak, untuk tidak memperpanjang perdebatan perbedaan Idul Fitri yang sudah menjurus ke arah debat kusir, menghina, dan permusuhan. 

Di beberapa WAG pun, dan kebetulan penulis menjadi salah satu anggota, tidak terlihat ekspresi marah berlebihan, tersinggung, atau bahkan statement ingin menjatuhkan kubu yang viral memberikan statement. Warga Persyarikatan hanya men share informasi namun ditanggapi bijak, agar tidak terprovokasi. Bagi warga Muhammadiyah-'Aisyiyah penolakan adalah dakwah yang harus dihadapi, dijelaskan dengan bukti ilmiah dan kebermanfaatan. Sebagai organisasi Islam terkaya dunia, seperti pesan Kiai Ahmad Dahlan, dakwah membutuhkan keteguhan hati, tidak mudah goyah, dan bertawakal hanya kepada Allah, bahkan dalam kondisi tersulit. 

Rangkaian kata tersebut ini tidak hanya sekedar pesan, tetapi amanah yang harus terpatri di hati para kader Muhammadiyah, bahwa Muhammadiyah harus tetap konsisten sebagai gerakan Islam, Tajdid, dakwah rahmatan lil alamin. Tantangan berupa penolakan, cemoohan bahkan dianggap anti budaya lokal, organisasi komersialisasi tersemat begitu saja, tanpa terlebih dahulu melihat ke dalam seperti apa tajdid yang dilakukan oleh Muhammadiyah.

Faktanya banyak hati yang jatuh cinta dan menjadi kader militan setelah melihat bagaimana ide, konsistensi para kader Muhammadiyah yang bergerak murni karena Allah SWT. Sejatinya Muhammadiyah hadir tidak hanya sebagai gerakan pembaruan pemikiran, tetapi juga gerakan sosial kemasyarakatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara sosial dan pendidikan tanpa mempersoalkan perbedaan yang tampak. 

Tantangan Muhammadiyah 

Usia 114 tahun pada November mendatang adalah bukti gerakan Islam, dakwah yang dilakukan Muhammadiyah bukanlah gerakan biasa. Gerakan jika diibaratkan barang atau benda ia disebut tahan lama, tahan banting (durable goods), kualitas dan kuantitas tersebut membuat Muhammadiyah layak disebut gerakan berkemajuan, (Irfani, 2024). 

Dalam perjalanannya Muhammadiyah akan terus dihadapkan pada berbagai persoalan keagamaan-sosial-politik. Misalnya perbedaan pandangan dalam beragama, krisis moral, konflik horizontal, dan penurunan kualitas kehidupan masyarakat. Penolakan shalat Ied 1447 tahun 2026 menjadi salah satu bagian evaluasi diri bukan hanya untuk Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga bagi persatuan bangsa. Padahal siapapun penguasa di negeri ini harus memegang teguh UUD 1945, jujur, beretika, dan mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi. 

Secara tegas dijelaskan pelanggaran konstitusi dan HAM yakni Penolakan dan persekusi terhadap kegiatan ibadah, melanggar UUD 1945 Pasal 29 Ayat (2), yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.

Beberapa lokasi yang viral menolak dan menjadi perdebatan di jagad virtual, yakni : Lapangan Merdeka, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Masjid Nurul Tajdid, Barru, Sulawesi Selatan dan Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. 

Penolakan ini memunculkan perdebatan yang akhirnya berujung dengan minta maaf oleh pimpinan daerah setempat. Tentu saja ini menjadi preseden buruk terkait hak warga negara dalam menjalankan ritual agamanya. Kemudian statement dari Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, yang menyatakan haram hukumnya mengumumkan awal Ramadhan atau Idulfitri secara mandiri yang berbeda atau mendahului ketetapan pemerintah. 

Fakta sosial diatas memang menyulut emosi, namun sebagai organisasi Islam, realitas tersebut sebagai uji komitmen Muhammadiyah untuk tetap teguh pada prinsip rahmatan lil 'alamin, fleksibel dalam metode dakwah kultural. 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Psychozoic, Evolusi Kesadaran di Tengah Krisis Bumi Oleh : Ratna Arunika, Anggota LLHPB Pimpinan Wi....

Suara Muhammadiyah

5 December 2025

Wawasan

"Islam" dalam Al-Qur`an: Memahami Makna Sejati Ketundukan kepada Tuhan Oleh: Donny Syofyan, Dosen F....

Suara Muhammadiyah

23 August 2024

Wawasan

Menelusuri Akar Sejarah Kelahiran Yesus: Komparasi Al-Qur'an, Injil Kanonik, dan Naskah Apokrifa Pe....

Suara Muhammadiyah

25 December 2025

Wawasan

Silaturahmi untuk Islam Berkemajuan  Oleh Muhammad Qorib, PWM Sumatera Utara dan Dekan FAI UMS....

Suara Muhammadiyah

18 April 2024

Wawasan

Anak Saleh (31) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

20 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah