Muhammadiyah Tidak Perlu Dibela
Oleh: Dr Hasbullah, MPdI, Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu, Sekertaris Asosiasi Lembaga AL Islam Kemuhammadiyahan PTMA
Ada sebuah esai legendaris karya Gus Dur yang berjudul "Tuhan Tidak Perlu Dibela". Intinya sederhana namun menusuk: kebenaran sejati tidak memerlukan pembelaan dengan cara-cara keras, karena yang perlu dibela adalah manusia yang tertindas, bukan Tuhan yang Maha Kuasa. Namun, ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja mengajar, mencobah, dan merancang strategi untuk merobohkan Muhammadiyah serta mencoreng nama baik organisasi ini, maka sikap "tidak perlu dibela" bukan berarti diam. Ia adalah pernyataan kepercayaan diri bahwa Muhammadiyah terlalu besar untuk dijatuhkan oleh fitnah, terlalu kokoh untuk digoyang oleh kebencian, dan terlalu berakar untuk dicabut oleh tangan-tangan yang tidak berkenan dengan kiprahnya.
Justru karena terlalu besar, Muhammadiyah tidak perlu terseret ke dalam polemik murahan yang hanya akan menguras energi dan mengalihkan fokus dari misi utama: memajukan umat dan mencerdaskan bangsa. Sikap "tidak perlu dibela" adalah bentuk kedewasaan organisasi yang telah belajar dari sejarah bahwa setiap gelombang fitnah pasti berlalu, sementara amal kebajikan akan tetap abadi.
Ketika ada yang berteriak menjatuhkan, Muhammadiyah menjawab dengan membuka sekolah baru. Ketika ada yang menyebarkan kebencian, Muhammadiyah membalas dengan mendirikan rumah sakit. Ketika ada yang mencoreng nama baik, Muhammadiyah menunjukkan wajah sebenarnya melalui jutaan alumni yang tersebar di seluruh negeri, mengabdi tanpa pamrih, membangun peradaban dengan tangan dingin dan hati yang tulus.
Mereka yang Mengajar untuk Membenci
Yang paling menyedihkan bukan sekadar adanya kritik, melainkan adanya upaya sistematis untuk mengajar kebencian terhadap Muhammadiyah. Ada dosen, ada penceramah, ada penulis, bahkan ada aktivis yang dengan sadar menyisipkan narasi negatif dalam ceramah, kuliah, atau tulisan mereka. Mereka tidak mengkritik berdasarkan data, tidak berdebat berdasarkan argumen, melainkan menyebarkan stigma: Muhammadiyah kaku, Muhammadiyah eksklusif, Muhammadiyah tidak ramah, Muhammadiyah musuh bersama.
Ini bukan lagi kritik intelektual. Ini adalah indoktrinasi kebencian yang dibungkus dengan jubah akademik atau religius. Mereka mengajar mahasiswa untuk membenci sebelum memahami. Mereka mencobah jamaah untuk menjauhi sebelum mengetahui. Mereka merobohkan fondasi kepercayaan publik terhadap salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bukan dengan argumen, melainkan dengan narasi yang dipaksakan.
Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang mengajar kebencian ini sering kali adalah orang-orang yang seharusnya menjadi teladan: pendidik yang seharusnya mencerdaskan, dai yang seharusnya menyejukkan, dan intelektual yang seharusnya mencerahkan. Namun, mereka justru memilih jalan yang lebih mudah: menjadi corong kebencian yang merusak tatanan sosial dan memecah belah umat. Mereka tidak pernah bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah aku sumbangkan untuk negeri ini? Apa yang sudah aku bangun untuk umat? Atau mereka hanya puas menjadi parasit yang hidup dari menjatuhkan orang lain, menjadi tukang fitnah yang bangga dengan kemampuan merusak nama baik organisasi yang justru lebih banyak berjasa daripada mereka?
Pertanyaannya: mengapa harus membenci Muhammadiyah? Apa salah organisasi yang sejak 1912 telah mendirikan ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, puluhan universitas, dan memberdayakan jutaan umat? Apa dosa organisasi yang kontribusinya bagi pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan Indonesia tidak perlu diragukan?
Mencoreng Nama Baik: Strategi yang Usang
Mencoreng nama baik Muhammadiyah bukanlah hal baru. Sejak masa kolonial, Muhammadiyah sudah dituduh sebagai alat penjajah. Di era Orde Baru, dituduh sebagai organisasi yang terlalu dekat dengan kekuasaan. Di era Reformasi, dituduh sebagai kelompok yang tidak toleran. Dan kini, di era digital, dituduh sebagai bagian dari konspirasi yang ingin menguasai negeri.
Namun, semua tuduhan itu tidak pernah berhasil menjatuhkan Muhammadiyah. Mengapa? Karena Muhammadiyah tidak dibangun di atas popularitas, melainkan di atas amal nyata. Ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, puluhan universitas, jutaan anggota, dan puluhan juta simpatisan adalah bukti bahwa Muhammadiyah hadir bukan untuk cari pujian, melainkan untuk memberi kontribusi.
Mereka yang mencoba mencoreng nama baik Muhammadiyah sebenarnya sedang menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk berkontribusi selevel dengan Muhammadiyah. Alih-alih membangun, mereka memilih menghancurkan. Alih-alih berkarya, mereka memilih mencela. Alih-alih bersaing secara sehat, mereka memilih menjatuhkan dengan fitnah.
Ironisnya, mereka yang sibuk mencoreng nama baik Muhammadiyah sering kali adalah orang-orang yang justru menikmati buah dari keberadaan Muhammadiyah. Mereka menyekolahkan anak di sekolah Muhammadiyah, berobat di rumah sakit Muhammadiyah, bahkan menempuh pendidikan di universitas Muhammadiyah. Namun, di saat yang sama, lidah mereka tak henti-henti mencela, jari mereka tak lelah mengetik fitnah, dan mulut mereka tak pernah berhenti menyebarkan kebencian. Ini adalah bentuk ketidakjujuran intelektual dan kemunafikan yang nyata: mengambil manfaat, tetapi menolak mengakui jasa; menikmati hasil, tetapi menolak menghargai yang menanam.
Kritik yang Sehat vs. Kebencian yang Sistematis
Perlu ditegaskan: kritik terhadap Muhammadiyah adalah hal yang sehat. Setiap organisasi besar harus terbuka terhadap kritik konstruktif. Namun, ada garis tipis antara kritik yang membangun dan kebencian yang sistematis. Kritik yang sehat datang dari keinginan untuk memperbaiki, sedangkan kebencian yang sistematis datang dari keinginan untuk menghancurkan.
Mereka yang mengajar kebencian terhadap Muhammadiyah tidak pernah menawarkan alternatif. Mereka tidak pernah menunjukkan apa yang lebih baik dari apa yang telah dibangun Muhammadiyah. Mereka hanya pandai mencela, tetapi tidak pernah berkarya. Mereka hanya pandai menjatuhkan, tetapi tidak pernah membangun.
Kritik yang sehat datang dengan data, disertai solusi, dan disampaikan dengan adab yang baik. Ia tidak menyudutkan, tidak memfitnah, dan tidak bermaksud menghancurkan. Sebaliknya, kebencian yang sistematis datang dengan stigma kosong, tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, dan disampaikan dengan nada yang penuh emosi dan prasangka. Mereka yang membawa kebencian tidak pernah duduk bersama untuk berdiskusi, tidak pernah hadir dalam forum terbuka untuk berdebat, melainkan bersembunyi di balik mimbar, di balik layar komputer, atau di balik kelompok tertutup untuk menyebarkan racun pemikiran yang merusak.
Muhammadiyah Tidak Perlu Dibela, Tapi Perlu Dipahami
Judul "Muhammadiyah Tidak Perlu Dibela" bukan ajakan untuk pasif. Ia adalah pernyataan bahwa Muhammadiyah tidak memerlukan pembelaan emosional, melainkan pemahaman yang mendalam. Yang perlu dilakukan bukan membabi-buta membela, melainkan terus-menerus menunjukkan bukti: bukti pendidikan yang berkualitas, bukti layanan kesehatan yang terjangkau, bukti pemberdayaan umat yang nyata, bukti kontribusi bagi bangsa yang tidak perlu diragukan.
Kepada mereka yang mengajar kebencian, kepada mereka yang mencobah untuk merobohkan, kepada mereka yang mencoreng nama baik: Muhammadiyah tidak akan jatuh karena fitnah kalian. Muhammadiyah akan tetap berdiri karena jutaan tangan yang bekerja diam-diam, karena ribuan guru yang mengajar dengan ikhlas, karena ratusan dokter yang melayani dengan sabar, karena jutaan anggota yang beramal tanpa cari pujian.
Yang justru perlu dilakukan adalah memperkuat narasi positif tentang Muhammadiyah melalui karya nyata yang terus mengalir. Setiap lulusan yang sukses, setiap pasien yang sembuh, setiap keluarga yang terbantu, setiap komunitas yang diberdayakan adalah bukti hidup bahwa Muhammadiyah hadir untuk memberi manfaat. Narasi inilah yang harus diperbanyak, bukan narasi defensif yang hanya akan menyeret kita ke dalam kubangan polemik yang tidak berujung. Biarkan karya yang berbicara, biarkan amal yang menjadi saksi, biarkan sejarah yang mencatat kontribusi nyata ini untuk generasi mendatang.
Pada saat yang sama, warga Muhammadiyah perlu terus meningkatkan literasi dan pemahaman tentang organisasi sendiri. Banyak fitnah yang beredar karena ketidaktahuan, baik dari pihak luar maupun dari dalam. Ketika warga Muhammadiyah sendiri tidak memahami sejarah, nilai, dan kontribusi organisasinya, maka mereka mudah terpengaruh oleh narasi negatif yang disebarluaskan. Karena itu, penguatan identitas, pendalaman nilai-nilai perjuangan, dan penyebaran informasi yang benar tentang Muhammadiyah adalah kunci untuk membentengi diri dari serangan fitnah yang tidak berdasar.
Gus Dur pernah menulis: “Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak dibela.” Maka, Muhammadiyah pun tidak perlu dibela dengan cara-cara yang justru merendahkan martabat sendiri. Cukup tunjukkan karya, cukup buktikan kontribusi, cukup layani umat dengan tulus. Biarkan mereka yang sibuk mencoreng tenggelam dalam kebencian mereka sendiri. Sementara kita? Kita terus bekerja, terus berkarya, terus membangun negeri. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling banyak memberi manfaat.

