Muktamar di Tanah Melayu: Ketika Sejarah Kembali ke Sumatera Utara

Suara Muhammadiyah

26 September 2026

388
Muktamar Medan

Muktamar Medan

Muktamar di Tanah Melayu: Ketika Sejarah Kembali ke Sumatera Utara

Oleh: Amrizal

Ada perjalanan sejarah yang bergerak seperti lingkaran. Ia berangkat dari satu titik, menempuh jalan panjang, melewati berbagai tempat, melintasi generasi, menghadapi zaman yang terus berubah, lalu pada suatu ketika kembali mendekati ruang sejarah yang pernah dilaluinya.

Demikian pula Muhammadiyah. Dari Kauman, Yogyakarta, sebuah gerakan lahir dengan kesederhanaan. Tidak ada gedung megah. Tidak ada jaringan besar. Tidak ada kekuasaan politik. Yang ada hanyalah sebuah keyakinan: bahwa Islam harus menjadi kekuatan yang mencerdaskan, membebaskan, dan memajukan kehidupan. Lebih dari satu abad kemudian, Muhammadiyah telah tumbuh menjadi gerakan besar. Ia memiliki sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, pesantren, panti sosial, lembaga ekonomi, jaringan kader, dan berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Muhammadiyah telah berjalan jauh. Dan kini, sejarah membawa langkah itu kembali ke Tanah Melayu Sumatera Utara. Bukan untuk mengulang masa lalu. Tetapi untuk melanjutkan masa depan.

Sejarah mencatat bahwa Medan bukanlah kota yang asing dalam perjalanan permusyawaratan Muhammadiyah. Pada tahun 1939, Muhammadiyah menyelenggarakan Kongres Tahunan ke-28 di Medan. Saat itu, perjalanan dari Yogyakarta menuju Sumatera bukan perjalanan sederhana. Belum ada pesawat dengan jadwal sebanyak hari ini. Belum ada jalan bebas hambatan. Belum ada komunikasi digital. Untuk datang ke Sumatera, orang harus menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut dan berbagai sarana transportasi yang tersedia pada zamannya. Tetapi jarak tidak menjadi penghalang. Para pejuang Muhammadiyah datang membawa satu semangat: menyatukan gerakan.

Kongres di Medan menjadi bukti bahwa Muhammadiyah sejak awal bukanlah gerakan yang hanya berpusat di Jawa. Muhammadiyah adalah gerakan yang tumbuh bersama Indonesia. Ketika Kongres ke-28 diselenggarakan di Medan, itu berarti Muhammadiyah sedang memperluas kesadarannya. Bahwa dakwah tidak boleh berhenti di pusat. Bahwa pembaruan harus bergerak ke seluruh Nusantara. Dan bahwa daerah bukan sekadar tempat menerima keputusan. Daerah adalah bagian dari pembentuk sejarah. 

Sumatera Utara memiliki karakter sejarah yang khas. Tanah ini adalah ruang perjumpaan. Berbagai suku bertemu. Berbagai bahasa hidup berdampingan. Berbagai tradisi tumbuh bersama.

Suku Melayu. Batak Toba. Batak Mandailing/Angkola. Batak Karo. Suku Pesisir. Suku Simalungun. Nias. Suku Pakpak. Minangkabau. Jawa. Aceh.

Dan berbagai kelompok masyarakat lainnya. Di sini pula perdagangan tumbuh. Mobilitas manusia berkembang. Pemikiran datang dari berbagai penjuru. Medan dan Sumatera Timur pada masa lalu adalah ruang yang terbuka. Orang datang untuk berdagang. Untuk bekerja. Untuk belajar. Untuk membangun kehidupan baru. Di ruang seperti itulah gagasan-gagasan pembaruan Muhammadiyah menemukan tanah yang subur. Muhammadiyah hadir bukan untuk menghapus identitas.

Muhammadiyah hadir untuk memberi pencerahan. Karena Islam Berkemajuan tidak takut kepada keragaman. Justru perbedaan adalah ruang untuk membangun peradaban.

Dari Kongres ke-28 Menuju Muktamar 2027

Ada jarak sejarah yang panjang antara Medan tahun 1939 dan Sumatera Utara tahun 2027.

Puluhan tahun (88 Tahun) penantian. Berbagai generasi. Berbagai perubahan. Indonesia ketika itu masih berada di bawah kekuasaan kolonial. Hari ini Indonesia adalah negara besar yang berdiri tegak. Dulu Muhammadiyah sedang memperluas cabang-cabangnya. Hari ini Muhammadiyah telah memiliki jaringan yang melintasi berbagai sektor kehidupan. Dulu Muhammadiyah sedang membangun sekolah-sekolah pertama. Hari ini Muhammadiyah mengelola jaringan pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dulu Muhammadiyah sedang memperjuangkan pencerdasan umat. Hari ini Muhammadiyah menghadapi tantangan baru: bagaimana mencerdaskan manusia di tengah banjir informasi?

Dulu tantangan terbesar adalah penjajahan. Hari ini penjajahan dapat datang dalam bentuk baru: ketergantungan, kebodohan digital, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, krisis nilai, dan hilangnya kemanusiaan. Karena itu, Muktamar 2027 bukan sekadar kelanjutan dari Kongres Medan 1939. Ia adalah dialog antara dua zaman.

Menjadi tuan rumah Muktamar bukan hanya soal kesiapan tempat. Bukan hanya hotel. Bukan hanya transportasi. Bukan hanya konsumsi. Bukan hanya penyambutan. Semua itu penting. Tetapi Muktamar adalah peristiwa sejarah. Karena itu, Sumatera Utara harus menjadi lebih dari sekadar lokasi. Sumatera Utara harus menjadi bagian dari gagasan. Muktamar 2027 harus meninggalkan sesuatu. Bukan hanya foto. Bukan hanya spanduk. Bukan hanya kenangan. Tetapi gagasan. Gerakan. Kader. Dan energi baru. Setelah seluruh peserta kembali ke daerah masing-masing, pertanyaan yang harus tersisa adalah: Apa yang berubah? Apakah Muhammadiyah semakin kuat? Apakah kader semakin siap? Apakah amal usaha semakin berkemajuan? Apakah masyarakat semakin merasakan manfaat Muhammadiyah? Jika tidak ada perubahan, maka Muktamar hanya menjadi pertemuan besar. Tetapi jika lahir perubahan, maka Muktamar menjadi peristiwa peradaban.

Ada sesuatu yang sangat penting dari identitas Melayu. Keterbukaan. Musyawarah. Adab. Persaudaraan. Dalam kebudayaan Melayu, hubungan manusia tidak hanya dibangun melalui kepentingan. Ia dibangun melalui penghormatan. Melalui tata krama. Melalui kemampuan menjaga perasaan. Nilai-nilai seperti ini memiliki relevansi besar bagi Muhammadiyah. Organisasi yang besar tidak akan bertahan jika hanya dibangun oleh struktur. Ia membutuhkan hati. Muhammadiyah membutuhkan aturan.Tetapi juga membutuhkan persaudaraan. Muhammadiyah membutuhkan administrasi. Tetapi juga membutuhkan keikhlasan. Muhammadiyah membutuhkan sistem. Tetapi juga membutuhkan adab. Muktamar 2027 harus menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa permusyawaratan bukan arena permusuhan. Perbedaan pendapat tidak harus melahirkan perpecahan. Perbedaan pilihan tidak harus memutus persaudaraan. Dan pergantian kepemimpinan tidak boleh melahirkan luka. Di situlah Muktamar harus menunjukkan kedewasaan Muhammadiyah. Bahwa kita boleh berbeda pandangan. Tetapi tetap berada dalam satu barisan perjuangan.

Ketika Sejarah Kembali

Pada akhirnya, sejarah memang tidak pernah benar-benar kembali ke tempat yang sama. Medan 1939 bukan Sumatera Utara 2027. Zamannya berbeda. Manusianya berbeda. Tantangannya berbeda. Tetapi semangatnya harus tetap sama. Pada tahun 1939, Muhammadiyah datang ke Medan membawa semangat pembaruan. Pada tahun 2027, Muhammadiyah kembali ke Sumatera Utara membawa tantangan yang lebih besar: membawa pembaruan menuju masa depan. Dulu, perjalanan dilakukan dengan kapal dan kereta. Hari ini, dunia bergerak melalui teknologi digital.

Dulu, Muhammadiyah menghadapi penjajahan. Hari ini, Muhammadiyah menghadapi kompleksitas peradaban. Dulu, perjuangan adalah memperluas gerakan. Hari ini, perjuangan adalah memperdalam kualitas gerakan. Karena itu, sejarah memang kembali. Tetapi Muhammadiyah tidak boleh kembali ke belakang. Sejarah kembali ke Sumatera Utara agar Muhammadiyah dapat melangkah lebih jauh ke depan.

Muktamar 2027 bukan milik Pimpinan Pusat saja. Bukan milik Panitia saja. Bukan milik Sumatera Utara saja. Muktamar adalah milik seluruh warga Muhammadiyah. Tetapi menjadi tuan rumah sejarah adalah amanah yang besar. Maka setiap kader di Sumatera Utara harus menyadari: kita bukan hanya sedang mempersiapkan acara. Kita sedang mempersiapkan sejarah. Setiap ranting. Setiap cabang. Setiap daerah. Setiap Ortom. Setiap majelis. Setiap amal usaha. Memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah tersebut. Dan mungkin, puluhan tahun dari sekarang, generasi baru Muhammadiyah akan membaca kembali:

1939 — Medan.

2027 — Sumatera Utara.

Lalu mereka akan bertanya: Apa yang telah dilakukan generasi Muktamar 2027 untuk masa depan Muhammadiyah?

Pertanyaan itu harus kita jawab bukan dengan slogan. Tetapi dengan karya. Bukan dengan kemegahan acara. Tetapi dengan kekuatan gagasan. Bukan dengan banyaknya peserta. Tetapi dengan kualitas perubahan. Sebab Muktamar akan selesai. Spanduk akan diturunkan. Panggung akan dibongkar. Peserta akan kembali ke daerah masing-masing. Tetapi sejarah akan tetap bertanya: Apa yang berubah setelah Muktamar di Tanah Melayu?

Dan jawaban terbaik yang harus kita berikan adalah: Muhammadiyah semakin berkemajuan. Kader semakin berkualitas. Persaudaraan semakin kuat. Gagasan semakin besar. Dan cita-cita peradaban semakin dekat. Dari Kauman, Muhammadiyah memulai perjalanan. Dari Medan, Muhammadiyah pernah memperluas cakrawala. Dan dari Sumatera Utara, Muhammadiyah harus kembali meneguhkan langkah menuju masa depan. Inilah Muktamar di Tanah Melayu. Ketika sejarah kembali ke Sumatera Utara. Bukan untuk mengulang masa lalu. Tetapi untuk menulis masa depan.

Wallahu a’lam bish shawab

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dari Panggung Anak-Anak hingga Keteladanan Kiai Ahmad Dahlan Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Le....

Suara Muhammadiyah

16 December 2025

Wawasan

Refleksi Milad Muhammadiyah Ke-113 Tahun "Memajukan Kesejahteraan Bangsa" Oleh: Dr. Agus Rahmat Nug....

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

Wawasan

Dari Teologi Al-Ma’un Menuju Indonesia Makmur Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Be....

Suara Muhammadiyah

17 August 2026

Wawasan

Demi Waktu, Mengapa Hidup Terasa Cepat tapi Hampa? Oleh: Ratna Arunika, Anggota Pimpinan Wilayah &l....

Suara Muhammadiyah

31 December 2025

Wawasan

Oleh: Damayanti, SSi. Ketua PDA Sumenep, Kepala SMA Muhammadiyah I Sumenep 2020-2024 Di era yang te....

Suara Muhammadiyah

25 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah