YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Pergantian kepemimpinan di lingkungan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan sekadar seremoni estafet organisasi. Bagi Pimpinan Komisariat (PK) IMM Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pergantian periode juga menjadi momentum untuk meneruskan gagasan sekaligus meninggalkan karya.
Spirit tersebut terlihat dalam pelantikan PK IMM FSIP UMY periode 2026/2027 yang digelar di Amphiteater E6, Gedung Ibrahim Lantai 5 UMY, Jumat (25/9/2026). Pelantikan diikuti jajaran pimpinan baru dan demisioner serta kader Ar. Fakhruddin.
Rangkaian kegiatan diawali pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars IMM. Prosesi pelantikan kemudian dipandu Sekretaris Umum Pimpinan Cabang IMM Ar. Fakhruddin, Immawan M. Amir Shaduq AR, dilanjutkan pembacaan sumpah dan ikrar oleh jajaran pimpinan baru.
Ketua Umum PK IMM FAI UMY periode 2025/2026, Immawan Agung Rezki, dalam pidato wada’ menyampaikan refleksi mengenai perjalanan IMM sekaligus pentingnya akselerasi gerakan. Menurutnya, akselerasi ikatan merupakan manifestasi strategi kepemimpinan dan agenda perubahan agar IMM mampu bergerak lebih cepat, adaptif, dan responsif menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpijak pada trilogi IMM.
“Immawan dan immawati harus memiliki niat yang tulus sebagai pondasi awal dalam mengemban amanah kepemimpinan. Kader IMM adalah cendekiawan berpribadi, yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan, tetapi juga taat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.
Agung juga menekankan pentingnya IMM melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya kuat dalam gagasan, tetapi siap mengambil peran kepemimpinan di berbagai sektor profesional. Karena itu, proses kaderisasi perlu diarahkan untuk membentuk kader yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus integritas dan keteguhan nilai.
Sementara itu, Ketua Umum PK IMM FSIP UMY periode 2026/2027, Muhammad Aulia Akbar Al-Khalifah, dalam pidato iftitah menyampaikan empat agenda fundamental yang menjadi pijakan kepengurusan baru.
Pertama, IMM perlu memanifestasikan gerakan di tengah arus disrupsi modern. Menurutnya, PK IMM FSIP merupakan bagian dari pilar ortonom Persyarikatan Muhammadiyah yang mengemban trilogi IMM di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Kedua, IMM perlu mendekonstruksi kapitalisasi pendidikan melalui nalar profetik dengan berpijak pada humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga, membangun inklusivitas sebagai ruang emansipasi kolektif agar IMM tidak menjadi ruang eksklusif bagi kader, melainkan mampu hadir di tengah persoalan mahasiswa dan masyarakat.
Keempat, menegakkan integritas dan menolak apatisme. Setiap pimpinan, menurut Aulia, harus memiliki integritas moral melalui kerja nyata dan konsistensi dalam membela kebenaran.
“Setiap pimpinan memiliki integritas moral yang utuh melalui kerja nyata serta konsistensi membela kebenaran,” tegasnya.
Pelantikan tersebut turut dihadiri Dekan Fakultas Studi Islam dan Peradaban UMY, Nurwanto, S.Ag., M.A., M.Ed., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran pimpinan baru sekaligus mendorong mereka menjalankan amanah organisasi dengan lebih baik pada periode mendatang.
Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Ar. Fakhruddin Kota Yogyakarta, Shidiq Setyo Adhi Nugroho, S.IP., juga menitipkan sejumlah amanah kepada kepengurusan baru. Salah satu yang ditekankan adalah pentingnya pemetaan kader sebagai bagian dari fokus program kerja ke depan.
Menurutnya, pemetaan kader diperlukan agar proses kaderisasi dapat berjalan lebih terarah dan mampu mengembangkan potensi setiap kader sesuai kapasitas dan minatnya.
Semangat berkarya menjadi salah satu warisan penting dari kepengurusan periode sebelumnya. Dalam rangkaian pelantikan, PK IMM FSIP UMY periode 2025/2026 meluncurkan empat buku karya pimpinan, yaitu Sarjana Tanpa Kampus, Risalah yang Tumbuh dari Sebuah Perjalanan, Resonansi Ikatan, dan Titik Arah.
Selain buku, turut diluncurkan lagu pembuka Dahlan Culture Festival serta website baru IMM FSIP UMY. Enam karya tersebut menjadi penanda bahwa aktivitas organisasi dapat ditransformasikan menjadi karya yang terdokumentasi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karya-karya tersebut lahir dari berbagai program yang bersentuhan dengan mahasiswa dan masyarakat. Gagasan, pengalaman, serta proses perjalanan kepengurusan kemudian dihimpun dan didokumentasikan dalam bentuk buku, musik, dan platform digital.

