Pemimpin Teladan dan Pembawa Perubahan
Oleh: Prof DR H Haedar Nashir, M.Si.
Dunia kebangsaan heboh. Sejumlah elite di tubuh bangsa menjadi sorotan karena masing-masing terlibat dalam kasus yang menunjukkan krisis atau peluruhan moral dan etika luhur kebangsaan. Kasus paling menonjol ialah diberhentikannya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait pelanggaran moral-etik dan hukum. Kasus paling baru mundurnya seorang pesohor agama yang menjadi unsur pejabat pemerintahan karena kasus yang menyentuh persoalan kepatutan etika dalam berinteraksi sosial dengan sesama.
Kita masih dapat mendaftar persoalan bangsa yang bersifat struktural seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, politik uang, politik transaksional, dan persoalan-persoalan politik yang juga menyentuh ranah moral dan etika hingga ranah hukum dengan melibatkan para elite bangsa. Dalam konteks inilah pepatah dalam bahasa Italia yang dirujuk Presiden Prabowo Subianto sewaktu pelantikan di Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) sangatlah tepat, bahwa “ikan busuk dari kepala”.
Karenanya jika ingin melakukan perubahan di bidang apapun, termasuk memperbaiki moral dan etika niscaya dimulai dari para pemimpinnya. Tokoh agama, tokoh adat, para begawan ilmu di kampus, hingga para tokoh bangsa penting menjadi sosok-sosok teladan yang dapat diikuti praktik hidupnya. Teladan di dunia nyata lebih dari sekadar berkata-kata, yang menurut Buya Syafii Maarif penting menunjukkan konsistensi “kata sejalan tindakan”. Para elite itu memiliki kekuatan sosial dan “kharisma” sebagai rujukan berperilaku bagi warga. Kehadirannya mesti apa adanya (genuine, autentik) dan tidak entertainment di atas panggung populisme.
Teladan Pejabat Publik
Jika ingin mengubah masa depan Indonesia dan menyelesaikan permasalahan bangsa memang harus dimulai dari para pejabat publik yang semestinya menjadi “role model” atau teladan baik. Transformasi mentalitas menuju manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila, beragama, dan berkebudayaan luhur bangsa dapat dilakukan melalui sistem individual, antara lain melalui aktualisasi “role model” dalam bentuk keteladanan dari para tokoh wibawa. Jika para pemimpin jadi teladan, maka warga pun akan ikut mencontoh, karena masyarakat Indonesia bersifat komunal-patrimonial.
Para elite dan warga bangsa penting belajar, berguru, serta menjadikan contoh teladan pada pandangan, sikap hidup, dan jiwa kenegarawanan dan keteladanan para pendiri Indonesia. Sebagaimana antara lain ditunjukkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Banyak kesaksian para tokoh nasional dari berbagai golongan yang mengakui keteladanan Sultan IX, sebagaimana terekam dalam buku “Tahta Untuk Rakyat”. Para tokoh bangsa memberikan kesaksian, betapa luhur HB IX menghadirkan contoh baik tentang kenegarawanan dan keluhuran budi yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan dinasti. Sikap hidupnya autentik, menjadi mutiara berharga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Mochtar Lubis dalam Pengantar Buku “Tahta Untuk Rakyat” memberikan catatan penting. Ketika Sri Sultan HB IX menjatuhkan pilihan politik memilih Negara Republik Indonesia ketimbang bujuk rayu Belanda, sungguh merupakan langkah yang sangat besar sekaligus menunjukkan konsistensi sikap kenegarawanan. Lubis memberikan kesaksian berikut: “Belanda tidak berhasil sama sekali membujuknya dengan berbagai tawaran yang muluk-muluk. Dan Sultan Hamengku Buwono IX, pada setiap saat kritis dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia melawan kembalinya kekuasaan penjajah Belanda dan kemudian setelah kemerdekaan dapat direbut kembali, senantiasa hadir dan melakukan kewajibannya dengan tenang, penuh keyakinan, dan keberanian. Ia bukan tokoh pemimpin yang gembar-gembor, tetapi kehadirannya membawa keyakinan perjuangan yang mantap.”.
Mochtar Lubis juga melukiskan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dikenal karena “kesederhanaan sikapnya, tingkahlakunya yang amat demokratis, dan terasa amat wajar.” Pemikiran dan pengetahuan Sri Sultan IX sangatlah luas. Di balik kesederhanaanya, tulis Lubis “Ia menyembunyikan pikiran yang amat terbuka pada dunia sekelilingnya … Ia banyak tahu tentang apa yang terjadi di negeri ini”. Lebih khusus Mochtar Lubis bersaksi, “Satu lagi yang berkesan pada saya ialah betapapun ia tidak menyetujui sesuatu atau kelakuan seseorang, maka “Bung Sultan” tidak pernah saya dengar mempergunakan kata-kata yang keras dalam mengomentarinya. Paling banyak ia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.”. Beliau menunjukkan sikap moderat dan luhur budi, sehingga tidak menunjukkan sikap keras apalagi radikal dalam menyikapi keadaan yang tidak sejalan.
Pemimpin Umat
Umat Islam merupakan mayoritas di Indonesia. Jika ingin memperbaiki bangsa maka peran pemimpin umat sangatlah penting. Pemimpin umat niscaya menjadi role-model baik dalam sikap dan tindakan maupun dalam memerankan diri untuk memajukan bangsa. Pemimpin umat tidak cukup bersikap dan bertindak saleh secara individual semata, tetapi mesti proaktif dalam membangun kemajuan kehidupan kebangsaan yang bermakna berdasarkan nilai-nilai luhur Ajaran Islam yang bersifat inklusif atau berkemajuan bagi semua. Kesalehan diri harus berbanding lurus dengan kesalehan publik.
Pemimpin umat atau pemimpin agama niscaya mengurus keduniaan, dengan mengubah keadaan buruk menjadi baik dan lebih baik. Dalam Islam pemimpin umat mesti mengurus agama sekaligus dunia, bukan hanya mengurus keagamaan dan bersifat ulama khusus semata. Menurut Al-Mawardi, kepemimpinan dalam Islam ialah proyeksi dari kepemimpinan Nabi yang menjalankan peran “hirasat al-din” (menegakkan nilai-nilai dan ajaran agama) dan “siasat al-dunya” (mengurus urusan dunia), artinya menjadi pemimpin profetik yang membumikan Islam sekaligus menjadi pemimpin keduniaaan.
Dalam praktik kepemimpinan negara di dunia Islam para pemimpinnya tidak otomatis mereka yang “ahli agama” (ulama) tetapi terdiri dari para pemimpin pada umumnya. Namun dasar negara dan karakter kepemimpinan kenegaraannya ialah agama yakni Islam, meskipun bentuk negaranya dapat bermacam macam seperti kerajaan semisal Saudi Arabia atau Republik semisal Mesir atau lainnya. Karenanya menjadi reduksi manakala kepemimpinan agama diidentikkan dengan sistem negara semata, lebih-lebih sistem negara Islam yang tunggal dan absolut yang sejatinya produk ijtihad. Syarat keulamaan dalam kepemimpinan umat dan bangsa tidaklah terbatas pada ilmu semata, tetapi juga menuntut kemampuan kepemimpinan transformatif yang membawa kemajuan bagi kehidupan yang luas.
Para pimpinan Muhammadiyah mesti menjadi pemimpin pergerakan Islam yang berpikir dan berbuat nyata dalam membawa kemajuan. Bukan pemimpin dogmatik-normatif yang serba melarang ini dan itu hingga organisasi mandek karena tanpa langkah nyata berdampak kemajuan. Tidaklah cukup sekadar bicara kritis ke sana ke mari tanpa membesarkan organisasi dan memajukan kehidupan bersama. Bukankah Kyai Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah hadir dengan mendobrak kejumudan dan ketertinggalan, serta menjadi pelopor gerakan pembaruan. Jiwa, pikiran, sikap, dan tindakan para pimpinan Muhammadiyah mesti maju, terbuka, berlapang dada, dan luas pandangan. Sebaliknya tidak picik, eksklusif, dan sempit wawasan. Bawalah Muhammadiyah dan umat Islam menjari inklusif dan bersedia bekerjasama dengan berbagai pihak demi kemajuan Persyarikatan untuk umat dan bangsa sejalan Kepribadian Muhammadiyah.
Muhammadiyah niscaya dibawa makin berkemajuan untuk kejayaan umat dan bangsa. Sikap kritis itu baik, tetapi mesti diiringi dengan tanggung jawab membangun keunggulan bagi kemajuan umat dan bangsa yang memang memerlukan peran pimpinan Muhammadiyah berjiwa pergerakan secara optimal. Persoalan-persoalan bangsa menuntut solusi, bukan hanya dipersoalkan semata. Pada saat yang sama Muhammadiyah juga harus dibawa makin berkemajuan, karena di kanan kiri makin bertumbuh organisasi lain yang maju. Jadilah pemimpin berkemajuan atau menurut Kyai Dahlan “pemimpin kemajuan Islam”. Muhammadiyah saat ini dan ke depan di tangan para pemimpinnya yang berjiwa maju niscaya menjadi organisasi unggul untuk menghadapi dinamika lokal, nasional, dan global yang sarat persaingan. Marwah Muhammadiyah justru berada pada pemikiran maju dan karya nyata para pemimpin Muhammadiyah yang secara signifikan membawa keunggulan dan kemajuan gerakan yang memberi kemaslahatan terbaik bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta yang rahmatan lil-'alamin.
Sumber: Majalah SM Edisi 1 Tahun 2025

