Pendekar Peradaban di Usia 63 Tahun
Oleh: Ki Drs Anton Eknathon, MHum, Dewan Penasihat PimDa 03 Sleman DI Yogyakarta
Enam puluh tiga tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah organisasi. Rentang waktu itu cukup untuk menguji keteguhan cita-cita, kematangan kelembagaan, sekaligus relevansi terhadap perubahan zaman. Pada 31 Juli 2026, Tapak Suci Putera Muhammadiyah memasuki Milad ke-63 dengan tema "Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia." Tema ini tidak hanya menjadi slogan seremonial, tetapi juga arah gerak yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Tapak Suci lahir dari rahim Muhammadiyah pada 31 Juli 1963. Sejak awal, perguruan ini tidak didirikan semata-mata untuk melahirkan jago bela diri, melainkan membentuk manusia beriman, berilmu, berakhlak, dan memiliki keberanian menegakkan kebenaran. Karena itu, Tapak Suci merupakan bagian dari gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar yang menggunakan pencak silat sebagai media pembinaan karakter.
Dalam perspektif Muhammadiyah, olahraga bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari ikhtiar memelihara amanah Allah berupa jasmani yang sehat dan ruhani yang kuat. Rasulullah SAW bersabda, "Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah." Kekuatan yang dimaksud tentu bukan semata kekuatan otot, tetapi juga kekuatan iman, ilmu, moral, dan integritas.
Di tengah derasnya arus globalisasi, Tapak Suci menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding enam dekade lalu. Digitalisasi, kecerdasan buatan, media sosial, hingga budaya instan telah mengubah pola pikir generasi muda. Tantangan terbesar bukan lagi sekadar memenangkan pertandingan, melainkan memenangkan pertarungan melawan degradasi moral, hoaks, kekerasan, intoleransi, serta krisis keteladanan.
Di sinilah Tapak Suci harus terus melakukan tajdid, sebagaimana ruh Muhammadiyah. Pembaruan bukan berarti meninggalkan jati diri, melainkan mengembangkan metode tanpa kehilangan nilai. Tradisi tetap dijaga, tetapi cara penyampaiannya harus mengikuti perkembangan zaman. Latihan fisik perlu dipadukan dengan literasi digital, kepemimpinan, kewirausahaan, kecakapan global, dan penguatan ideologi Islam Berkemajuan.
Pengakuan pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2019 membawa konsekuensi moral. Seluruh perguruan, termasuk Tapak Suci, memikul tanggung jawab menjaga keluhuran pencak silat sebagai budaya yang mengedepankan etika, persaudaraan, dan kemanusiaan. Prestasi olahraga memang penting, tetapi pembentukan karakter jauh lebih utama.
Bagi Muhammadiyah, dakwah selalu berorientasi pada kemaslahatan. Karena itu, pendekar Tapak Suci seyogianya hadir di tengah masyarakat sebagai pelopor perdamaian, relawan kemanusiaan, pendidik, pelindung yang lemah, dan teladan dalam kehidupan sosial. Kehebatan seorang pendekar tidak diukur dari banyaknya lawan yang dikalahkan, tetapi dari kemampuannya mengalahkan hawa nafsu, kesombongan, dan amarah.
Milad ke-63 juga menjadi momentum memperkuat sinergi dengan Amal Usaha Muhammadiyah. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, serta organisasi otonom merupakan ruang strategis bagi Tapak Suci untuk melahirkan kader yang unggul secara spiritual, intelektual, dan fisik. Pendekar Muhammadiyah harus menjadi insan yang mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan kompas nilai Islam.
Ke depan, Tapak Suci perlu memperluas kiprah internasional melalui diplomasi budaya, kompetisi olahraga, pertukaran pelatih, hingga pemanfaatan teknologi digital. Mendunia bukan berarti kehilangan identitas, tetapi menghadirkan wajah Islam Indonesia yang damai, berkemajuan, dan berkeadaban kepada masyarakat global.
Milad ke-63 hendaknya menjadi momentum muhasabah sekaligus akselerasi. Tapak Suci harus tetap berakar pada tradisi luhur, tetapi menjulang tinggi menyongsong masa depan. Sebab, akar yang kuat akan membuat pohon tetap kokoh diterpa badai, sementara dahan yang menjulang akan memberi manfaat lebih luas bagi sesama.
Selamat Milad ke-63 Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Semoga terus melahirkan pendekar yang tidak hanya tangguh dalam gelanggang, tetapi juga menjadi pelopor dakwah, penjaga persatuan, dan pembangun peradaban. Sebab, pada akhirnya, kemenangan yang paling agung bukanlah menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri demi menggapai ridha Allah Swt.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb

