Pengajian ASLAMA PTMA, Saatnya Asrama Jadi “Laboratorium Kehidupan”

Suara Muhammadiyah

26 September 2026

52
Foto Istimewa

Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pengurus Asosiasi Pengelola Asrama Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) menggelar Pengajian Online bertajuk “Menjadikan Asrama Sebagai Ruang Aman bagi Mahasiswa di Era Disrupsi Global” pada Jumat, 25 September 2026/14 Rabi’ul Akhir 1448 H, pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini diikuti oleh pengelola asrama, pondok pesantren dan Ma’had dari PTMA se-Indonesia sebagai forum penguatan pengasuhan (human development) berbasis nilai-nilai Muhammadiyah.

Pengajian dibuka dengan sambutan dari Dra. Muamarah, M.Hum., Ph.D., selaku Ketua Asosiasi Pengelola Asrama PTMA, serta Taufiqur Rahman, S.IP., MA., Ph.D., Direktur Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Materi inti disampaikan oleh Talqis Nurdianto, Lc., MA., Ph.D., Kepala Sub Direktorat Kepemimpinan dan Kaderisasi Unires, Direktorat AIK UMY, dengan moderator Rokhmani, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakartqa.

Dalam paparannya, Talqis Nurdianto menegaskan bahwa gagasan besar yang perlu dibangun di seluruh asrama PTMA adalah pergeseran cara pandang: dari sekadar mengelola bangunan menuju mendampingi manusia. Ia menggarisbawahi bahwa mahasiswa masa kini membawa tekanan dunia digital langsung ke dalam kamar mereka melalui apa yang ia sebut sebagai pressure funnel — empat sumber tekanan yang bekerja secara bersamaan, yakni tekanan akademik (kompetisi, penggunaan AI, ekspektasi), tekanan sosial dan identitas, kecemasan ekonomi dan masa depan, hingga tekanan digital seperti cyberbullying, doxing, dan kecanduan media sosial. Tumpukan tekanan tersebut, menurutnya, bermuara pada kelelahan emosional (emotional exhaustion) yang harus direspons dengan pergeseran paradigma mendasar: berhenti melabeli mahasiswa “bermasalah”, dan mulai memandang mereka sebagai pribadi yang “sedang menghadapi masalah”.

Poin krusial yang ditekankan adalah bahwa keamanan fisik semata tidak cukup. Mengutip riset Worsley dkk. (2021), Talqis menyampaikan bahwa gedung yang aman secara fisik tidak otomatis menciptakan rasa aman; justru kualitas relasi antarmanusia di dalamnyalah yang menumbuhkan rasa aman itu. Karena itu, konsep “ruang aman” (safe space) di asrama modern perlu dibangun di atas enam dimensi sekaligus: keamanan fisik, psikologis, sosial, digital, institusional (tersedianya sistem pengaduan), dan spiritual.

Batasan Tegas, Bukan Kebebasan Tanpa Aturan

Talqis yang juga Koordinator Bidang III Pemberdayaan Korps Mubaligh dan Kemasjidan  Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa ruang aman bukan berarti tanpa batasan. Ada hal-hal yang tetap didukung dengan pendekatan trauma-informed — seperti keberanian berbeda pendapat, mengakui kesalahan, atau sekadar mengatakan “saya tidak baik-baik saja” — namun ada pula batasan mutlak tanpa toleransi (zero tolerance), yakni kekerasan fisik/verbal, pelecehan seksual, dan kekerasan digital. Pendekatan ini mendorong perubahan dari “tata tertib” yang berbasis larangan-sanksi menjadi living agreement yang dibangun dari nilai, kesepakatan, hingga proses restorasi.

Sense of belonging atau rasa memiliki disebut sebagai fondasi utama pelindung kesehatan mental mahasiswa, karena secara empiris terbukti menurunkan gejala depresi dan kecemasan (Gopalan dkk., 2022). Karenanya, ukuran keberhasilan asrama diusulkan untuk bergeser: bukan lagi sekadar “berapa kegiatan yang terlaksana”, melainkan “berapa mahasiswa yang benar-benar merasa memiliki asramanya”.

Pengajian ini juga memaparkan pergeseran peran pengurus asrama, dari house manager yang berfokus menemukan pelanggaran, menjadi student development professional yang hadir dan mendampingi — dari model lama disciplinary dormitory menuju model baru developmental residence yang menanamkan nilai-nilai PTMA seperti rahmah, ta’awun, dan adab dalam interaksi sehari-hari.

Sebagai kerangka kerja operasional, disampaikan siklus SAFE–CARE–GROW–LEAD: memastikan mahasiswa aman, diperhatikan, bertumbuh, hingga akhirnya menjadi pemimpin. Pengurus juga diposisikan sebagai early warning system melalui tiga langkah: mengenali perubahan perilaku, merespons secara empatik, dan merujuk ke pihak berwenang bila diperlukan — dengan penekanan keras bahwa pengurus asrama bukan psikolog dan tidak berwenang mendiagnosis atau memberi terapi atas persoalan kesehatan mental mahasiswa.

Untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang “terjebak” tanpa jalan keluar, materi menawarkan konsep tiga pintu pertolongan: peer door (kakak asuh/sebaya), caregiver door (pengurus/pembina), dan professional door (konselor/psikolog).

Tujuh Program Konkret dan Instrumen Audit Keselamatan

Sebagai langkah implementasi, disampaikan tujuh program yang dapat langsung diterapkan di asrama PTMA: One Student One Mentor, Safe Talk (sesi ngobrol santai bulanan), Check-in singkat berkala, kelas literasi digital (digital well-being), pelatihan resolusi konflik, literasi kesehatan mental, hingga penyediaan Safe Reporting Channel atau jalur pengaduan terintegrasi (luring, digital, dan darurat).

Sebagai alat evaluasi mandiri, turut diperkenalkan instrumen Student Safety Audit dengan skala 1–5 pada enam aspek: keamanan fisik, psikologis, sosial, digital, sistem dukungan, dan tata kelola pengaduan. Selain itu dipaparkan riset internal berupa 13 faktor yang membuat mahasiswa nyaman tinggal di asrama, dengan bobot tertinggi pada rasa aman fisik-psikologis (12%), rasa diterima sebagai bagian komunitas (11%), dan ketersediaan teman untuk bercerita saat menghadapi masalah (10%).

Talqis menutup paparan dengan menekankan bahwa tantangan pembinaan asrama PTMA bukan sekadar membendung pengaruh dunia luar — sesuatu yang menurutnya mustahil dilakukan secara total — melainkan membentuk moral agency pada diri mahasiswa, yakni perpaduan literasi keagamaan dan kemampuan berpikir kritis. Tujuannya agar mahasiswa mampu berkata, “Saya memilih tindakan ini karena memahami nilai Islam di baliknya,” bukan sekadar patuh karena takut aturan.

Sebagai penutup, disampaikan model sintesis Asrama 5A — Aman, Akrab, Asuh, Aktif, Akhlak — sebagai peta jalan pengembangan asrama PTMA ke depan, dengan tujuan akhir melahirkan kader berkemajuan yang berintegritas, cakap digital, dan sejahtera secara psikologis.

“Kita tidak sedang mengelola bangunan. Kita sedang mendampingi manusia,” demikian salah satu pesan kunci yang mengemuka dalam pengajian tersebut, seraya mengingatkan bahwa pertanyaan bagi pimpinan dan pengelola asrama bukan lagi “Apakah asrama kita sudah tertib?”, melainkan “Apakah mahasiswa kita merasa aman untuk bertumbuh di dalamnya?”

Pengajian online ini diselenggarakan dari Pengurus Asosiasi Pengelola Asrama (Aslama) Penguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Asyiyah (PTMA) kerja bareng dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan diikuti secara serentak oleh pengelola asrama PTMA di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari ikhtiar bersama memperkuat ekosistem pengasuhan mahasiswa di lingkungan Persyarikatan.

(Supardi)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah – Bertempat di Gedung Serbaguna SMK Muhammadiyah Kajen, Pimpina....

Suara Muhammadiyah

5 May 2025

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Pondok, Grogol, Sukoharjo melaksana....

Suara Muhammadiyah

1 April 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikd....

Suara Muhammadiyah

21 January 2026

Berita

PALEMBANG, Suara Muhammadiyah – Pembinaan dan Penguatan Kemuhammadiyahan bagi Civitas Akademik....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Berita

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Atlet Putri STIE Muhammadiyah Cilacap, meraih juara 3 Kejuaraan Pekan....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah