Pengkaderan sebagai Penjaga Keberlanjutan Gerakan

Suara Muhammadiyah

21 October 2026

137
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Pengkaderan sebagai Penjaga Keberlanjutan Gerakan

Penulis: Amalia Irfani (Dosen IAIN Pontianak/Sekretaris LPP PWM Kalbar)

Menjelang Milad ke-114 Muhammadiyah pada 18 November 2026, dengan tema "Bersama Satukan Bangsa" menjadi refleksi penting bagi seluruh warga Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Tema tersebut menegaskan pentingnya persatuan, ukhuwah, dan semangat kebersamaan dalam kehidupan berbangsa di tengah berbagai dinamika sosial, politik, dan budaya yang berkembang saat ini. 

Namun persatuan bangsa tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan insan yang memiliki integritas, wawasan kebangsaan, kapasitas kepemimpinan, dan komitmen terhadap nilai-nilai keislaman serta kemanusiaan. Di titik inilah pengkaderan menemukan relevansinya. Fakta membuktikan, hingga usia lebih dari satu abad, Muhammadiyah memiliki jaringan organisasi yang sangat luas dengan 35 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, 475 Pimpinan Daerah, 3.947 Pimpinan Cabang, dan 14.670 Pimpinan Ranting.

Selain itu, Muhammadiyah mengelola 172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah, 122 rumah sakit, 231 klinik, lebih dari 5.300 sekolah dan madrasah, serta lebih dari 1.000 amal usaha sosial. Seasia Stats merilis Muhammadiyah menempati peringkat keempat sebagai organisasi keagamaan terkaya dunia, dengan estimasi kekayaan sekitar US$27,96 miliar atau berkisar Rp454,24 triliun hingga Rp464,6 triliun.

Besar dan luasnya jaringan yang telah dibangun Muhammadiyah tidak mungkin bertahan hanya mengandalkan figur-figur besar. Sejarah membuktikan bahwa kekuatan Muhammadiyah bukan terletak pada tokoh per tokoh, melainkan pada kemampuannya melahirkan kader yang siap memikul amanah perjuangan dari generasi ke generasi. Kesadaran yang sebenarnya telah hadir sejak awal berdirinya Muhammadiyah. Organisasi ini lahir agar gerakan pembaruan Islam yang dirintis Kiai Ahmad Dahlan tidak berhenti pada satu generasi. Melalui sistem organisasi dan kaderisasi, perjuangan dapat diwariskan terus-menerus tanpa bergantung pada individu tertentu. 

Tradisi kaderisasi yang kuat juga tampak dalam sejarah 'Aisyiyah. Ketika organisasi perempuan Muhammadiyah ini berdiri pada 1917, kepemimpinan pertamanya dipercayakan kepada Siti Bariyah, seorang kader muda hasil pembinaan generasi awal Persyarikatan. Ini menandakan bahwa Muhammadiyah dan 'Aisyiyah sejak awal menempatkan kaderisasi sebagai fondasi utama gerakan, siapapun memiliki hak dan kewajiban yang sama. Para kader yang menuntut ilmu di berbagai bidang diminta untuk mengamalkan ilmunya dan kembali mengabdi kepada Persyarikatan. Kiai Ahmad Dahlan berpesan “Berkorbanlah dengan ikhlas dan hati yang suci, baik harta ataupun tenaga."

Peluang dan Tantangan

Saat ini, tantangan kaderisasi justru semakin kompleks. Generasi muda hidup dalam era digital yang serba cepat, terbuka, sekaligus penuh distraksi. Arus informasi yang tak terbendung menuntut hadirnya kader-kader yang kokoh secara ideologis, cerdas secara intelektual, dan matang secara emosional. Tanpa penguatan kaderisasi, organisasi berisiko memiliki banyak anggota tetapi kekurangan pemimpin yang memahami arah perjuangan Persyarikatan.

Sebab itu tema "Bersama Satukan Bangsa"seharusnya tidak hanya dipahami dalam konteks hubungan antarkelompok di tingkat nasional. Didalamnya terselip pesan internal bahwa Muhammadiyah harus terus menyatukan visi, nilai, dan gerakan melalui kaderisasi yang kuat. Persatuan yang kokoh tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh kader-kader yang memiliki kesadaran kolektif terhadap misi besar Persyarikatan, yakni kader-kader yang memahami nilai dakwah, tajdid, dan pengabdian kepada umat.

Sejatinya, pengkaderan bukan sekadar proses regenerasi organisasi, melainkan ikhtiar menyiapkan manusia-manusia berkemajuan yang kelak menjadi perekat sosial, penggerak perubahan, dan penjaga persatuan Indonesia. Karena itu, menjelang Milad Muhammadiyah, komitmen untuk memperkuat kaderisasi sejatinya merupakan wujud nyata dari upaya mewujudkan Indonesia emas 2045. Sebab bangsa yang bersatu hanya dapat dibangun oleh kader-kader yang tercerahkan, sementara kader yang tercerahkan hanya lahir dari proses kaderisasi yang kuat dan berkelanjutan. 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengukur Potensi Diri untuk Menggapai Kesuksesan Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasehat PRM Trok....

Suara Muhammadiyah

5 May 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Di dunia kita yang semakin sibu....

Suara Muhammadiyah

7 June 2025

Wawasan

Calon Presiden Keren Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Wakil Sekretaris LPCR PP Muhammadiyah Mencermati di....

Suara Muhammadiyah

29 December 2023

Wawasan

Tauhid Murni sebagai Akar Kokoh Gerakan Muhammadiyah Pesan Mas Kiai Abdul Mu’ti - Penutupan P....

Suara Muhammadiyah

27 February 2026

Wawasan

Membayar Hutang Ayah, Menjaga Kehormatan Keluarga Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah &....

Suara Muhammadiyah

18 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah