Pentingnya Kesabaran Melihat Dua Sisi dari Peristiwa yang Terjadi

Suara Muhammadiyah

10 February 2026

712
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Bulan Ramadhan ekuivalen dengan syahrus sabr (bulan kesabaran). Kontekstualisasinya, tersebut di Qs al-Kahfi ayat 60-82, yang memuat episode pengembaraan Nabi Musa mencari Nabi Khidir.

Misi pencarian tersebut dimaksudkan untuk menempuh perjalanan jauh menemui Nabi Khidir yang dianugerahi ilmu khusus. “Nabi Musa bermaksud untuk berguru (kepada Nabi Khidir),” ucap Muhammad Saad Ibrahim. 

Kemudian, diberikan syarat oleh Nabi Khidir, “Janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu." Ketika keduanya berada dalam sebuah perahu besar, Nabi Khidir melobangi perahu tersebut.

“Perahu itu di dalamnya banyak orang kalau dilobangi akan tenggelam,” kata Saad, menyebut Nabi Musa melayangkan protes atas perbuatan Nabi Khidir itu. “Satu kesalahan telah dibuat (melanggar prasyarat yang diberikan),” ucap Saad.

Kemudian, keduanya bersua dengan anak muda. Nabi Khidir membunuh anak muda tersebut. “Siapa yang kemudian tidak langsung protes melihat anak kecil kemudian tiba-tiba dibunuh?”, ucapnya, merespons protes Nabi Musa kepada Nabi Khidir. 

“Sekali lagi, Nabi Musa menyalahi syarat yang diberi (Nabi Khidir),” sambung Saad.

Selanjutnya, keduanya sampai kepada penduduk. Mereka meminta untuk dijamu. “Begitu bakhilnya penduduk kawasan itu. Sekadar dimintai minum, makan, enggak ada satu pun (yang memberi),” bebernya. 

Lalu, di situ ada tembok yang hampir roboh. Maka, Nabi Khidir memperbaiki dinding tersebut. Celetuk Nabi Musa, Nabi Khidir diminta untuk menarik imbalan atas tindakan itu. 

“Ini pelajaran yang amat penting tentang kesabaran,” tegasnya dalam Khutbah Jum’at di Masjid Subulussalam Al-Khoory Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, Jum’at (6/2).

Lebih-lebih, setiap bulan Ramadhan, umat Islam diajarkan melalui al-madrasah ar-ruhiyah. Di mana jiwa ditempa untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melatih untuk menumbuhkan kesabaran. 

“Maka kita perlu merenungkan, merenungkan. Prinsip kesabaran itu harus menjadi bagian penting kita untuk bersikap,” jelas Saad.

Prinsip kesabaran itu, pertama, tidak boleh responsif. “Tidak boleh langsung membuat kesimpulan,” tuturnya. Kedua, harus berusaha memahami latarbelakang dan latardepan. 

“Maknanya, sabar memberikan perspektif kepada kita untuk selalu melihat apa yang tidak nampak yang ada dibelakang. Dan apa yang diproyeksikan ke depan,” pungkas Saad. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pemahaman lintas budaya antara Indonesia dan Amerika Serikat k....

Suara Muhammadiyah

22 July 2025

Berita

TEGAL, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka hari Ber-Muhammadiyah yang dilaksanakan setiap ahad k....

Suara Muhammadiyah

11 December 2023

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah – Mahasiswa peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM)....

Suara Muhammadiyah

19 September 2023

Berita

BEKASI, Suara Muhammadiyah — Dalam rangka meningkatkan kapasitas, kualitas dakwah, serta mempe....

Suara Muhammadiyah

22 August 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (....

Suara Muhammadiyah

23 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah