Pentingnya Kesabaran Melihat Dua Sisi dari Peristiwa yang Terjadi

Suara Muhammadiyah

10 February 2026

614
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Bulan Ramadhan ekuivalen dengan syahrus sabr (bulan kesabaran). Kontekstualisasinya, tersebut di Qs al-Kahfi ayat 60-82, yang memuat episode pengembaraan Nabi Musa mencari Nabi Khidir.

Misi pencarian tersebut dimaksudkan untuk menempuh perjalanan jauh menemui Nabi Khidir yang dianugerahi ilmu khusus. “Nabi Musa bermaksud untuk berguru (kepada Nabi Khidir),” ucap Muhammad Saad Ibrahim. 

Kemudian, diberikan syarat oleh Nabi Khidir, “Janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu." Ketika keduanya berada dalam sebuah perahu besar, Nabi Khidir melobangi perahu tersebut.

“Perahu itu di dalamnya banyak orang kalau dilobangi akan tenggelam,” kata Saad, menyebut Nabi Musa melayangkan protes atas perbuatan Nabi Khidir itu. “Satu kesalahan telah dibuat (melanggar prasyarat yang diberikan),” ucap Saad.

Kemudian, keduanya bersua dengan anak muda. Nabi Khidir membunuh anak muda tersebut. “Siapa yang kemudian tidak langsung protes melihat anak kecil kemudian tiba-tiba dibunuh?”, ucapnya, merespons protes Nabi Musa kepada Nabi Khidir. 

“Sekali lagi, Nabi Musa menyalahi syarat yang diberi (Nabi Khidir),” sambung Saad.

Selanjutnya, keduanya sampai kepada penduduk. Mereka meminta untuk dijamu. “Begitu bakhilnya penduduk kawasan itu. Sekadar dimintai minum, makan, enggak ada satu pun (yang memberi),” bebernya. 

Lalu, di situ ada tembok yang hampir roboh. Maka, Nabi Khidir memperbaiki dinding tersebut. Celetuk Nabi Musa, Nabi Khidir diminta untuk menarik imbalan atas tindakan itu. 

“Ini pelajaran yang amat penting tentang kesabaran,” tegasnya dalam Khutbah Jum’at di Masjid Subulussalam Al-Khoory Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, Jum’at (6/2).

Lebih-lebih, setiap bulan Ramadhan, umat Islam diajarkan melalui al-madrasah ar-ruhiyah. Di mana jiwa ditempa untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melatih untuk menumbuhkan kesabaran. 

“Maka kita perlu merenungkan, merenungkan. Prinsip kesabaran itu harus menjadi bagian penting kita untuk bersikap,” jelas Saad.

Prinsip kesabaran itu, pertama, tidak boleh responsif. “Tidak boleh langsung membuat kesimpulan,” tuturnya. Kedua, harus berusaha memahami latarbelakang dan latardepan. 

“Maknanya, sabar memberikan perspektif kepada kita untuk selalu melihat apa yang tidak nampak yang ada dibelakang. Dan apa yang diproyeksikan ke depan,” pungkas Saad. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Antusiasme warga Muhammadiyah dukung timnas Indonesia di Piala Asi....

Suara Muhammadiyah

30 April 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Gerakan Subuh Mengaji (GSM) mengadakan pengajian secara daring Pada Ha....

Suara Muhammadiyah

3 September 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prodi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan (TRP) PoltekMu Makassar ....

Suara Muhammadiyah

17 October 2025

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Ratusan takjil yang berupa sop buah sejumlah 300 cup dan 120 snac....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tak begitu mendadak. Dua hari sebelumnya, salah satu staf dari Pena....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah