Pentingnya Spiritualitas untuk Ciptakan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

1224
Agus Taufiqurrahman

Agus Taufiqurrahman

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah – Pengajian Syawalan dan Pelepasan Jamaah Haji 1446 H Warga Muhammadiyah Gunungkidul, Sabtu (19/4) di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman.

Dalam kesempatan itu, Agus mengingatkan untuk bisa menyikapi dengan arif bahwa kehidupan di dunia hanya bersifat sementara dan fana. “Sementara hidup yang abadi ada di akhirat,” tuturnya.

Pada akhirnya, cepat atau lambat, semua manusia secara bergilir akan menghadapi titi akhir kehidupan: kematian. Karena ini menjadi keniscayaan bagi seluruh makhluk yang bernyawa.

“Umur umat Nabi Muhammad antara 60-70 tahun. Ada orang yang diberi bonus. Tapi tidak semua diberi bonus,” katanya.

Merujuk Qs al-Qashash [28] ayat 77, Agus menguraikan jika Allah SwT meminta kepada seluruh manusia agar untuk mengutamakan kehidupan akhirat. Tetapi, bersamaan dengan itu, jangan sampai melupakan kehidupan di dunia.

“Dunia dan akhirat disuruh sama-sama baik, tapi prioritaskan kehidupan akhirat dengan baik,” jelasnya.

Oleh karena itu, Agus mengajak agar umat Islam menjadikan seluruh denyut nadi aktivitas kehidupan di dunia harus diisi dengan spiritualitas guna mencari kebahagiaan di akhirat.

Salah satunya dengan bersedekah. Demikian karakteristik dari ciri orang bertakwa. “Senang sedekah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit,” ucapnya. Di sinilah mestinya menjadi semangat umat Islam, terutama umat Islam Indonesia.

Mengingat World Giving Index (WGI) dari Charities Aid Foundation (CAF) tahun 2023 menyebut, Indonesia berada di urutan pertama sebagai negara paling dermawan.

“Indonesia itu negara 7 tahun berturut-turut yang memiliki penduduk paling dermawan. Kalau ada orang yang mengakui Indonesia tidak suka sedekah, menurut penelitian ini, tidak cocok menjadi orang Indonesia,” tegasnya.

Menurut Agus, selain faktor agama sebagai penggerak untuk berbagi dengan sesama, juga karena budayanya yang sangat tinggi, yaitu budaya gotong royong.

Hal ini tercermin ketika bencana wabah Pandemi Covid-19 tempo lalu. Berkat gotong royong dari seluruh masyarakatnya, kata Agus, “Indonesia menjadi negara yang termasuk tercepat lepas dari problem Pandemi,” tambahnya.

Karena itu, tidak diragukan lagi dua faktor tersebut, yakni faktor agama dan budaya secara turun-menurun melekat di tubuh bangsa Indonesia. “Kalau ada orang menyebut Indonesia itu dijauhkan dari agama, pasti keliru,” tegasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUNINGAN, Suara Muhammadiyah – Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan), Dr. apt....

Suara Muhammadiyah

23 March 2025

Berita

LAMPUNG TENGAH, Suara Muhammadiyah - Kiprah Aisyiyah dalam mengemban tugas keumatan utamanya dalam m....

Suara Muhammadiyah

17 October 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - SMP Muhammadiyah 1 Prambanan dalam rangka menyongsong acara ASPD (Asesm....

Suara Muhammadiyah

28 January 2024

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Wilayah Muhammad....

Suara Muhammadiyah

24 June 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suasana lebaran masih terasa ketika rombongan kecil yang dipi....

Suara Muhammadiyah

9 April 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah