JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan kehormatan dari delegasi Kedutaan Besar Maroko dalam sebuah pertemuan yang menandai "babak baru" hubungan kerja sama yang lebih erat. Pertemuan ini dihadiri oleh Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni, didampingi oleh Armei Arief dari Diktilitbang, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah Dr. Maskuri, serta Muhammad Iman Sastra Mihajat, Ph.D dari Uhamka.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Kedutaan Maroko menyampaikan rasa hormat dan senangnya dapat bertemu dengan pimpinan Muhammadiyah, yang mereka sebut sebagai salah satu organisasi Islam terbesar, tertua, dan paling berpengaruh di dunia. Fokus utama diskusi ini adalah penguatan kerja sama di tiga aspek krusial: pendidikan tinggi antara universitas di Maroko dan Muhammadiyah, sinergi antar organisasi, serta pengembangan institusi pendidikan agama.
Salah satu poin penting yang dibahas adalah mengenai akses pendidikan bagi anak-anak Muhammadiyah. Saat ini, Maroko memberikan kuota 50 beasiswa per tahun untuk pelajar Indonesia melalui Kementerian Agama. Namun, menyadari adanya kendala kemampuan bahasa Arab bagi calon mahasiswa, pihak Kedutaan menawarkan solusi konkret berupa penyelenggaraan dauroh intensif bahasa Arab selama enam bulan dengan mendatangkan pengajar langsung dari Maroko yang difasilitasi oleh Kedutaan.
Duta Besar Maroko juga berkomitmen untuk meminta kementerian terkait di negaranya guna mempermudah proses serta persyaratan masuk universitas bagi pelajar Indonesia,.
Pertemuan ini juga menindaklanjuti Nota Kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani antara Muhammadiyah dengan Ma'had Mohammed VI lil Qiraat wa Ad Dirasat Qur'aniyyah. Pihak Kedutaan menyatakan kesiapan untuk mengawal implementasi MoU ini agar berjalan maksimal.
Selain itu, kedua belah pihak sepakat untuk mempromosikan citra Islam yang toleran, moderat, dan berkemajuan di tengah tantangan global saat ini. Sebagai langkah nyata, direncanakan sebuah seminar atau simposium internasional bertema "Islam Toleran dan Moderat" yang akan digelar di Indonesia pada akhir tahun ini dengan menghadirkan para pembicara dari Maroko.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap peran intelektual Muhammadiyah, pihak Maroko mengupayakan agar tokoh-tokoh Muhammadiyah dapat diundang untuk berbicara dalam forum bergengsi Durus Hassania.
Pertemuan ini diharapkan menjadi awal dari dialog-dialog berkelanjutan di masa depan. "Ini bukanlah akhir dari pertemuan kita, melainkan pembukaan halaman baru dalam kerja sama yang produktif antara Maroko dan Muhammadiyah," ungkap perwakilan delegasi Maroko.

