Perlunya Menambah Jumlah Kader Persyarikatan di Akar Rumput

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
109
Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. Foto: Pachrul

Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. Foto: Pachrul

PADANG PANJANG, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah lahir di Yogyakarta tahun 1912, tepatnya di Kampung Kauman. Tetapi, Muhadjir Effendy menyebut, “tumbuh berkembangnya di Sumatera Barat,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Tetapi, fakta lain menampakkan, pada perkembangan tersebut, Muhammadiyah Sumatera Barat sempat tertinggal dengan yang lain. Kenapa hal demikian terjadi?

“Karena banyak orang Muhammadiyah Sumatera Barat pada pergi meninggalkan Sumatera,” bongkarnya.

Di situlah, Muhadjir mendorong terus memproduksi kader-kader Persyarikatan lebih banyak lagi. “Sehingga kalau nanti ada yang pergi, tidak kekurangan kader,” sebutnya, seraya menjadi sumber utama kelahiran kader yang terus mengalir kini dan ke depannya.

“Berapapun jumlah yang keluar dari padang panjang, padang panjang tidak pernah kering dengan kader. Itu yang harus jadi konsen dari tokoh-tokoh, pengasuh, dan pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat, khususnya Padang Panjang,” kata Muhadjir.

Padang Panjang, menurutnya, memiliki kekayaan intelektual yang besar layaknya tambang yang belum sepenuhnya digali. Karena itu, dibutuhkan semangat dan kerja keras dari seluruh civitas akademika untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

“Itu bagian dari upaya menggali pembangkas semangat kembali Muhammadiyah di sini,” tekannya, Sabtu (2/5) saat Resepsi Milad Ke-98 Pesantren Kauman & Haflah Takhakrruj Kelas XII.

Bersamaan dengan itu, Muhadjir juga menekankan pentingnya kaderisasi. Banyak kader Muhammadiyah asal Sumatera Barat yang berkiprah di berbagai daerah di Indonesia.

“Pesantren, termasuk yang dahulu dikenal sebagai Kuliyatul Muballighin, diharapkan terus mencetak kader unggul agar keberlanjutan dakwah Muhammadiyah tetap terjaga,” jelasnya.

Muhadjir juga mengapresiasi kemampuan para santri yang telah menguasai berbagai bahasa asing seperti Mandarin, Tagalog, Inggris, dan Belanda. Namun, ia mengingatkan agar santri tidak melupakan bahasa daerah sebagai identitas budaya.

“Harus dipelihara dan kembangkan ke depan,” pinta Muhadjir, sekali lagi.

Muhadjir berharap, Pesantren Kauman Padang Panjang dapat menjadi pusat gravitasi baru Muhammadiyah di masa depan, sekaligus menjadi poros kebangkitan di tingkat nasional.

Saya doakan mudah-mudahan terus meningkat selanjutnya jumlahnya tetapi juga tetap terjaga kualitasnya dan insyaallah akan terus berkembang,” tandasnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan prosesi launching Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang sebagai langkah strategis menuju penguatan peran pesantren di kancah global.

“Yang terjadi hari ini adalah impian para pendahulu, dan tugas kita adalah membangun masa depan,” tutupnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof. Dr. Ma’mun M....

Suara Muhammadiyah

30 May 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momen liburan bag....

Suara Muhammadiyah

28 September 2023

Berita

WONOGIRI, Suara Muhammadiyah — Geliat dakwah Muhammadiyah di Kecamatan Eromoko, Wonogiri, teru....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Berita

CHIANG MAI, Suara Muhammadiyah - Dosen Uhamka Hendra Apriyadi dan peneliti di bidang Pendidikan Baha....

Suara Muhammadiyah

9 December 2025

Berita

Universitas Muhammadiyah Prof.DR. HAMKA (Uhamka) melalui Badan Pembinaan dan Pengembangan Kemahasisw....

Suara Muhammadiyah

27 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah