Ramadhan, Ruang Menemukan Makna Hidup yang Sesungguhnya

Suara Muhammadiyah

15 March 2026

431
Drs Muhammad Afnan Hadikusumo. Foto: Cris

Drs Muhammad Afnan Hadikusumo. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Apa tujuan hidup itu? Tanya Afnan Hadikusumo. Demikian betapa luasnya spektrum kehidupan tersebut.

Yang semua orang boleh menentukannya sendiri. Tapi, satu hal yang pasti, “tujuan hidup itu satu untuk beribadah,” sambung Afnan. Ini pokok substansialnya, yang pertama.

Sejurus dengan itu, Qs adz-Dzariyat ayat 56, pun demikian menyingkap fakta sebenarnya tujuan hidup. Selain derivat berikutnya, kata Afnan, yaitu mencari bekal terbaik.

“Bekalnya apa? Amal,” ucapnya, tegas. Menggarisbawahi konteks ini, senyampang masih diberikan kesempatan hidup, hal demikian itu mesti dijadikan prioritas utama.

“Karena setiap orang yang sudah meninggal itu tidak bakal apa berhenti pahalanya kecuali doa anak yang sholeh, ilmu yang berguna, amal jariyah,” sebut Dewan Pakar Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Apa yang hendak dituju? Jelaslah di sini tampak arahnya pada proses peningkatan setiap diri personal menjadi pribadi premium, yakni pribadi takwa. Cirinya, pertama, berinfak kala lapang dan sempit.

Berinfak, tidak hanya bermanifes pada materi, melainkan bisa menjelma dalam bentuk yang lain. Sepanjang hal demikian itu untuk kemaslahatan umat.

“Nek (kalau) tidak punya harta ya tenaga. Kalau tidak punya harta tidak punya tenaga dengan doa,” ujarnya, Ahad (15/3) saat Pengajian Berbuka Puasa PCPM dan PCNA Jetis Yogyakarta di Masjid Noor Pakuningratan Yogyakarta.

Ciri kedua, menahan amarah. Orang bertakwa, tampak secara kediriannya mampu mengendalikan diri dari rangsangan berbuat marah. “Jadi mereka adalah orang yang bisa memanage emosi,” sambung Afnan.

Ciri ketiga, memaafkan kesalahan orang lain. Banyak persoalan di permukaan yang acap kali orang tidak sadar banyak melakukan kesalahan.

Yang ini menjadi keniscayaan dialami semua manusia. Di titik krusial ini, sesungguhnya menjadi medium untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain.

“Nah bulan Ramadan ya itu semua unsurnya itu masuk. Jadi targetnya itu taqwa,” tegasnya.

Tapi, bentang ciri takwa di atas, acapkali masih menjadi paradoks, lebih-lebih pasca-Ramadhan belalu. Sehingga timbul pertanyaan mendasar: apakah ciri itu sudah terhunjam dalam diri ini?

“Jadi, kalau setelah berpuasa justru menjadi pelit, atau malah mudah marah dan tidak mudah memaafkan, maka derajat ketakwaannya patut dipertanyakan,” beber Afnan.

Di sinilah letak fundamentalnya Ramadhan. “Kesempatan refleksi, muhasabah diri,” tegasnya, sekali lagi. Hal itu amat perlu, untuk melongok kembali apakah tujuan hidup hakiki sudah teaktualisasi, atau justru jauh panggang dari api. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Momen Iduladha 1446 H menjadi lebih bermakna bagi anak-anak di L....

Suara Muhammadiyah

23 June 2025

Berita

ROKAN HULU, Suara Muhammadiyah - Komplek Perguruan Muhammadiyah Rambah menggelar salah satu agenda r....

Suara Muhammadiyah

5 October 2023

Berita

GRESIK, Suara Muhammadiyah - Pada Rabu, 14 Agustus 2024, sebuah inisiatif kemanusiaan yang penuh har....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sebagai ajang unjuk kreativitas dan memperkuat rasa cinta budaya Ind....

Suara Muhammadiyah

15 October 2024

Berita

BULUKUMBA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UM Bulukumba) menjadi tuan ....

Suara Muhammadiyah

12 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah