YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Iklim dunia bisnis saat ini tampak temaram. Biang keroknya perkembangan dunia yang semakin tidak pasti. Ditambah dengan, konflik berkepanjangan tingkat global, menyebabkan timbulnya ketidakstabilan pergerakan ekonomi.
Karenanya, ketika pertama kali memimpin Suara Muhammadiyah, Deni Asy’ari melihat ekosistem managerial bisnisnya belum terkonsolidasi dengan baik. Maka, ia melakukan pivot dalam bisnis, di mana membangkitkan usaha yang lesu akibat penurunan laba atau rendahnya jumlah produksi, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Awal mula melakukan pivot dilandaskan pada aspek ideologis. Melalui media ini, Deni berupaya tidak hanya sekadar menjalankan dakwah bil-qalam (dengan pena) atau tulisan, akan tetapi juga bergerak dengan tindakan nyata.
“Saya ingin mewujudkan bagaimana yadu l-'ulya khairun min yadi s-sufla, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah, itu ingin saya gerakkan dan ejawantahkan dalam bentuk gerakan bisnis. Itu secara ideologis keinginan saya,” terangnya.
Begitu pula mendasari pada keuntungan dan oplah yang mengalami penurunan. Banyak media sama-sama merasakan. Hal ini ini pun, tidak lain juga dirasakan oleh Suara Muhammadiyah. “Inilah yang kemudian mendorong saya untuk melakukan perubahan,” sebutnya, dengan hal lainnya berupa terjadinya penurunan trend media (era sunset media).
Ini sangat dirasakan dampaknya. “Penurunan oplah, penurunan bisnis,” sebutnya. Sehingga, dampaknya keuangan juga mengalami penurunan. Termasuk, tidak ada pertumbuhan usaha secara signifikan. “Kita harus melakukan satu lompatan perubahan. Kalau tidak kita pun akan tutup,” bebernya. Di situlah Deni melakukan dekonstruksi roadmap bisnis.
“Roadmap ini saya matangkan, bisnis yang kami kembangkan di 2015,” ulasnya. Yang dilakukan secara berkelanjutan sehingga melahirkan produk dan jasa bisnis baru. “Itu untuk mensupport bisnis media sekaligus mensupport keuangan. Roadmap ini yang saya buat,” tambahnya.

Implementasi strategi tersebut diwujudkan melalui pembangunan pola bisnis berjejaring, sebuah pendekatan yang menurut Deni belum banyak dilakukan. Padahal, pola ini membuka peluang pengembangan usaha secara berkelanjutan.
“Konsep bisnis Suara Muhammadiyah hari ini itu polanya berjamaah. Tidak ada yang tunggal, melibatkan orang-orang di daerah, melibatkan banyak stakeholders, melibatkan banyak manajemen SDM di lokal-lokal,” urainya saat Annual Meeting Iframe 2026 Welcome 2026: Thank Allah, Truet Allah, Break Through bersama Bank Syariah Indonesia Cabang Yogyakarta, Selasa (20/1).
Praktinya dengan mendirikan SM Corner. “Itu saya kembangkan. Ternyata, sesuai prediksi saya, bahwa potensi di Muhammadiyah pasar itu sangat besar, kebutuhan sangat tinggi,” bongkarnya.
Sejak pertama kali diluncurkan, SM Corner mendapat respons antusias dari daerah. Hingga kini, tercatat telah berdiri 92 gerai di seluruh Indonesia tanpa modal dari Suara Muhammadiyah. “Modalnya justru dari mereka. Keberadaan SM Corner inilah yang mempercepat pertumbuhan bisnis kita,” lanjutnya.
Selain SM Corner, SM juga melakukan diversifikasi usaha melalui Logmart, SM Properti, Kemadjoean Resto, SM Tower, SM Jetski, dan unit bisnis lainnya. “Semuanya dengan konsep jejaring berbasis jamaah,” tandasnya.
Keberhasilan pengembangan bisnis tersebut, menurut Deni, juga ditopang oleh perubahan besar-besaran dalam manajemen sumber daya manusia. “Saya mendatangkan SDM-SDM baru, mayoritas generasi milenial,” sebutnya. Para SDM ini diposisikan sebagai project manager atau penanggung jawab utama (PIC) di masing-masing unit usaha. “Fokus mereka mengembangkan unit usaha,” pungkasnya. (Cris)

