Pro-Kontra KHGT: Semua Akan Muhammadiyah pada Waktunya

Publish

19 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

4
1736
Gambar Ilustrasi

Gambar Ilustrasi

Pro-Kontra KHGT: Semua Akan Muhammadiyah pada Waktunya

Oleh: Muhammad Zulfi Ifani, Anggota LPCRPM PP Muhammadiyah / Mahasiswa Doktor Kepemimpinan & Inovasi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada / Owner PT IFRAME Solusi Multimedia

“Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” Prof. Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Ada rutinitas ‘aneh’ menjelang Ramadhan, Syawal (Idul Fitri), dan atau Idul Adha. Dimana umat Islam di Indonesia bahkan di dunia memasuki fase berulang yang penuh ketidakpastian. Grup WhatsApp ramai, Facebook dan media sosial pun ikut gaduh penuh perdebatan. Yaitu, perdebatan klasik berulang: jadi puasanya kapan? Lebarannya hari apa? 

Bahkan di era AI saat ini, umat masih harus menunggu malam hari H-1. Menunggu kepastian dari sidang isbat, rukyat, atau pengumuman yang kadang berbeda satu sama lainnya.

Padahal dunia modern saat ini justru dibangun di atas kepastian. Masyarakat global membutuhkan kalender yang akurat. Maskapai penerbangan tak bisa berkata, “Kita lihat hilal dulu baru tentukan jadwal.” Bursa saham tak bisa menunggu rukyat. Dunia pendidikan, industri, dan birokrasi berjalan dengan sistem waktu yang terukur, konsisten, dan ilmiah.

Di tengah realitas itu, gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dari Muhammadiyah muncul sebagai tawaran solusi. Sebuah ikhtiar menyatukan penanggalan umat Islam secara global berbasis perhitungan astronomi yang akurat. Namun seperti banyak gagasan pembaruan dalam sejarah, KHGT tentu tidak datang tanpa pro-kontra. Menariknya, kita bisa melihat di masa lampu pertarungan pro-kontra semacam ini, déjà vu.

Oleh karena itu, sebagai pembelajar tema kepemimpinan dan inovasi kebijakan, saya akan bercerita singkat menyinggung KHGT dalam tulisan ini.

Kisah Lama: Pelurusan Kiblat

Awal abad ke-20, KH Ahmad Dahlan yang baru pulang dari Mekkah membawa suatu kegelisahan. Ia mempelajari ilmu falak dan ilmu bumi, lalu menyadari bahwa arah kiblat masjid-masjid di Yogyakarta kurang tepat. Selama ini masyarakat shalat menghadap lurus ke barat, padahal arah Ka’bah sebenarnya condong ke barat laut.

Bagi sebagian orang, seharusnya ini hanya persoalan teknis kemampuan mengukur. Tetapi bagi masyarakat waktu itu, hal ini menjadi begitu sensitif karena terkait dengan otoritas agama dan tradisi yang turun-temurun. KH Ahmad Dahlan berdialog dengan para ulama. Ia menjelaskan dengan dalil dan perhitungan ilmiah. Namun penolakan tetap muncul. Bahkan langgar yang dibangun dengan arah kiblat yang ia luruskan secara mandiri sempat dibongkar. Ia pun dituduh membawa ajaran baru – bahkan dianggap akan makar terhadap Keraton Yogyakarta.

Bayangkan saja, tekanan sosial dari sekelilingnya yang begitu keras saat itu. Tidak sedikit yang mencibir, bahkan memusuhi. Ia dan istrinya sempat kecewa berat, bahkan berencana pergi angkat kaki dari Jogja. Namun pada akhirnya, ia tidak mundur & konsisten dengan keyakinan ilmiahnya.

Hari ini, lebih dari seabad berlalu, hampir semua masjid di Indonesia juga bahkan dunia menggunakan arah kiblat berbasis ilmu falak yang akurat. Tak ada lagi perdebatan berarti soal itu. Apa yang dulu dianggap kontroversial kini menjadi standar normal.

Sejarah memberi pelajaran sederhana: pembaharuan yang berbasis ilmu dan data, asalkan berawal dari niat baik seringkali ditolak pada awalnya. Namun, pelan tapi pasti, akan diterima juga pada suatu masa nanti – ketika terasa manfaatnya.

Kisah Baru: KHGT

Kini, Muhammadiyah kembali menawarkan pembaharuan melalui KHGT. Tujuannya jelas: menghadirkan sistem kalender Islam global yang tunggal, sehingga umat Islam di seluruh dunia tak lagi terpecah dalam menentukan awal bulan penting. Satu hari, satu tanggal istilah kerennya.

Tentu saja pro-kontra tetap muncul. Sebagian khawatir akan menggeser tradisi rukyat lokal. Sebagian lagi mempertanyakan kesiapan umat menerima sistem global. Bahkan ada yang memandangnya terlalu modern. Atau lebih ekstrimnya, pilihan ini dianggap tidak syar’i – tak ada dalilnya.

Namun jika kita jujur, substansi KHGT bukanlah meninggalkan syariat, melainkan memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memastikan ketepatan. Sama seperti pelurusan kiblat dahulu, ini adalah upaya menghadirkan akurasi berbasis sains.

Sebagai pembelajar tema kepemimpinan dan inovasi kebijakan. Saya melihat kasus KHGT ini dalam dua teori kepemimpinan modern:

Pertama, Transformational Leadership. Bahwa Kepemimpinan transformasional berbicara tentang kemampuan pemimpin untuk mengubah cara pandang dan nilai dari para pengikutnya. KH Ahmad Dahlan tak hanya mengoreksi arah kiblat secara fisik, tetapi juga menggeser mental umat yang sifatnya non-fisik: bahwa agama dan ilmu pengetahuan jangan dipertentangkan – integrasi saja.

KHGT pun berada di rel yang sama. Ia bukan sekadar soal kalender penanggalan, tetapi perubahan cara berpikir umat tentang waktu, modernisasi, globalisasi dan integrasi ilmu. Mereka yang memimpin dengan cara transformasional berani menawarkan visi jangka panjang, meskipun resikonya ditolak dan tidak populer dalam jangka pendek.

Kedua, Evidence-Based Problem Solving. Ahmad Dahlan menggunakan ilmu falak sebagai dasar koreksi kiblat. Ia tidak bertindak atas spekulasi, melainkan ilmu dan data yang ilmiah. KHGT pun sama, ia berdiri di atas perhitungan astronomi yang modern dan akurat. Ini adalah contoh pengambilan keputusan berbasis bukti.

Dalam dunia modern saat ini, kebijakan yang kokoh harus berawal dari data dan riset ilmiah. Bukan yang dengan sebatas insting “kayaknya ini bagus, kayaknya ini penting” apalagi pemikiran ABS (asal bapak senang).

Jika dahulu, ilmu pengetahuan dapat memastikan arah kiblat dengan akurat. Seharusnya hari ini, ilmu pengetahuan juga bisa memastikan kalender Islam secara global.

Semua Akan Muhammadiyah pada Waktunya

KHGT bila dibaca menggunakan kacamata Difusi Inovasi (Everett Rogers) boleh jadi sedang berada di fase awal, yaitu di fase innovator & early adopters yang tergolong masih minoritas. Akan tetapi, Rogers menekankan bahwa adopsi inovasi akan selalu berbentuk kurva S. Awalnya lambat, kemudian cepat, lalu stabil dan menjadi norma umum di dalam masyarakat.

Ada adagium yang populer, sering terdengar di kalangan warga persyarikatan: “Semua akan Muhammadiyah pada waktunya.” Mungkin terkesan sombong, tapi bukan itu poinnya. Adagium ini menjadi refleksi sejarah. Banyak gagasan Muhammadiyah yang awalnya dianggap aneh, kemudian justru menjadi standar normal dalam masyarakat.

Jika dahulu pelurusan kiblat adalah salah satunya. Hari ini, KHGT akan jadi contoh berikutnya. Insya ALLAH.

 


Komentar

Ngasifudin Ngasifudin

Kenapa Isu Hilal Sering Emosional? Karena ia menyentuh: Momentum sakral (Ramadan & Idul Fitri), Simbol kebersamaan keluarga Identitas ormas, Otoritas keagamaan. Jadi bukan murni soal astronomi.

Abu Fadhlan

Saudara Ngasifudin ini bukan masalh emosional atau otoritas keagamaan, tetapi masalah solusi buat penetapan dan memudahkan dalam acuan, saya orang NU bisa menerina apa yang sudah menjadi kesepakatan saudara kita sebelah, kita teman NU harusnya banyak belajar sama saudara kita sebelah, sudah saatnya bisa saling menerima dan tidak fanatisme terhadapnya, mohon banyaknya belajar, perbanyak baca dan pahami kandungan Al Quran tanpa harus masuk ke ormas saudara kita Insyaallah antum akan tau isi Alquran sesungguhnya. Wallahu a'lam bish-shawab

Abu Akyas

Mengutip tulisan seseorang *Tinjauan kritis atas Konsep KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal)* Part 1 : _KHGTPotensi Mengorbankan Syariat demi Angan-angan Persatuan Ummat_ Gagasan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) sering dikampanyekan dengan narasi indah: *persatuan umat Islam sedunia.* Umat diklaim akan memulai Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha secara serentak, tanpa perbedaan. Sekilas tampak ideal, rapi, dan modern. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: *apakah persatuan yang dicita-citakan ini sejalan dengan tuntunan syariat, atau justru mengorbankannya?* Syariat Dibangun di Atas Dalil, Bukan Sekadar Simbol Persatuan. Islam adalah agama yang menjadikan wahyu sebagai landasan, bukan perasaan kolektif atau keinginan administratif. Dalam penentuan awal bulan, Rasulullah ﷺ bersabda: "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa rukyat (melihat hilal) bukan sekadar sarana teknis, tetapi bagian dari ta‘abbudi—ibadah yang mengikuti perintah, bukan semata hasil kalkulasi. Ketika rukyat digeser atau dihapus demi kalender global yang dipaksakan, maka yang dikorbankan bukan hanya metode, tetapi prinsip kepatuhan kepada nash. *KHGT dan Masalah Realitas Astronomis* Perbedaan matla‘ (wilayah terbit hilal) adalah kenyataan ilmiah dan syar‘i. Sejak masa sahabat, perbedaan ini telah dikenal dan diterima. Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه menolak mengikuti rukyat Syam meskipun berada dalam satu kepemimpinan Islam, dengan alasan: "Beginilah Rasulullah ﷺ memerintahkan kami." (HR. Muslim) KHGT justru berusaha meniadakan realitas ini dengan pendekatan global, seolah-olah seluruh dunia memiliki kondisi langit yang sama. *Ini bukan hanya menyederhanakan masalah, tetapi menabrak fakta alam dan praktik generasi awal umat.* *Persatuan yang Dipaksakan, Bukan Disyariatkan* Persatuan dalam Islam adalah persatuan di atas kebenaran, bukan keseragaman administratif. Sejarah fiqih Islam penuh dengan perbedaan ijtihad, namun tetap berada dalam bingkai ukhuwah. Menyatukan umat dengan mengabaikan perbedaan yang diakui syariat justru melahirkan persatuan semu—tampak seragam, namun rapuh secara dalil. *Ironisnya, KHGT sering dipromosikan sebagai solusi konflik, padahal ia berpotensi menciptakan konflik baru:* - Menggugurkan rukyat lokal yang sah - Memaksa umat mengikuti keputusan yang bertentangan dengan kesaksian mata - Menjadikan hisab sebagai penentu tunggal, bukan alat bantu *Kemajuan Bukan Berarti Mengganti Syariat* Islam tidak anti sains. Hisab telah lama digunakan ulama sebagai alat bantu. Namun menjadikannya pengganti nash adalah persoalan lain. Modernitas sejati dalam Islam adalah memahami teknologi tanpa menundukkan wahyu kepadanya. *Jika demi persatuan kita mengubah cara beribadah yang telah dituntunkan Nabi ﷺ, maka patut direnungkan:* _apakah yang kita kejar benar-benar persatuan, atau sekadar kenyamanan global yang dibungkus jargon ukhuwah?_ *Penutup* KHGT mungkin lahir dari niat baik. Namun niat baik tidak otomatis membenarkan cara. Ketika syariat harus disesuaikan agar cocok dengan proyek persatuan global, maka yang terjadi bukan pemuliaan Islam, melainkan penundukan syariat pada angan-angan. Persatuan yang hakiki tidak dibangun dengan menghapus perbedaan yang dibenarkan agama, tetapi dengan tunduk bersama kepada dalil, meski hasilnya tidak selalu seragam. Islam menyatukan hati, bukan memaksa langit untuk seragam. Subang, 30 Januari 2026 Abu Mujawwad Handzaru.

Muwardi

Bagi yang faham betul ilmu Falak, akan menolak tanggalan global,....

Masjid sejuta pemuda

Emang aneh si, knp tgl 12 bulan sudah terlihat bulat sempurna? Dan ga ada penjelasan ilmiahnya..pernah baca hadits ttg melihat hilal di Syam, lantas dikabarkan ke Madinah, besoknya pun pada takbiran (akhir Ramadan)

player

sidang isbat sudah ada anggarannya, kalau udah di tetapkan tanggal pasti nya bisa tidak ada sidang lagi dong,

Aji Pamungkas

Dulu saat beberapa ulama dan ilmuwan Islam mengajak utk cek kembali keakuratan waktu subuh. Banyak juga yg mencela dan menolak. Namun, kini semakin banyak pula yg menyadari hal ini karena akses informasi dan ilmu yg telah sampai.

Rizki

Wajar dulu tiap negara pakai matlak lokal,tp skrg dgn informasi tanpa batas dari seluruh penjuru bumi, ditambah dengan kemajuan teknologi perhitungan fase bulan baru, wajar jika kemudian ikhtiar menyatukan mnjadi matlak global, Allohu a'lam

Muhammad jauhari

Pertanyaan saya, apa arti hilal (di hadis nabi) dalam bahasa indonesia ? Bulan sabit? Jika iya, berarti jika sudah terlihat bulan sabit, berarti awal pergantian hari. Itu berarti para pengamat dari merauke( indonesia paling timur) jika sudah melihat bulan sabit artinya hari baru, tanggal baru, bulan baru. Berarti arti hilal itu di dalam bahasa indonesia adalah bulan sabit? Atau ada tambahan nya? Seperti 2 derajat ( hilal adalah bulan sabit dengan syarat sampai 2 derajat, klo belum 2 derajat berarti bukan bulan sabit tapi bulan apa?) Bulan adinterim akhir dan awal? Karena belum ada bulan resmi di bulan baru, akhirnya bulan lama menjabat dahulu sampai datang pejabat bulan baru

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Mengapa pacaran tidak dibenarkan dala....

Suara Muhammadiyah

29 January 2024

Wawasan

Jejak Sang Pembaharu Kepahlawanan Ahmad Dahlan dalam Arus Zaman Soleh Amini Yahman. Psikolog,  ....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Wawasan

Mengapa Islam Tidak Memiliki Paus? Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Anda....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Wawasan

Pentingnya Ruang Terbuka Hijau: Ikhtiar Menjaga Keseimbangan Alam di Tengah Kehidupan Modern Oleh: ....

Suara Muhammadiyah

16 May 2025

Wawasan

Melampaui Ruang dan Waktu: Isra' Mi'raj dalam Bayang-bayang Keterjeratan dan Terowongan Kuantum Ol....

Suara Muhammadiyah

16 January 2026