Puasa Adalah Jihad Melawan Keserakahan

Suara Muhammadiyah

15 February 2026

685
Prof. Masyitoh

Prof. Masyitoh

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menjelang bulan suci Ramadan, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, mengajak umat Islam untuk memaknai puasa sebagai jihad akbar, yakni perjuangan besar melawan hawa nafsu keserakahan manusia yang seringkali mendorong perilaku konsumtif dan berdampak pada kerusakan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Ngaji Lingkungan bertema Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi yang diselenggarakan oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah secara daring pada Sabtu, 14 Februari 2026.

Dalam paparannya, Prof. Masyitoh menegaskan bahwa Ramadan tidak semata tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan momentum ibadah yang menyeluruh. Selain puasa, Ramadan diisi dengan shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, serta ibadah sosial yang seharusnya mendorong perubahan perilaku, termasuk dalam pengendalian konsumsi dan pengurangan sampah.

“Ramadan adalah momentum untuk membatasi diri, termasuk membatasi konsumsi dan produksi sampah. Ini dakwah yang tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa,” ujarnya.

Ia menilai bahwa pengendalian konsumsi energi sangat selaras dengan esensi Ramadan sebagai bulan pengendalian diri. Menurutnya, manusia memiliki kecenderungan untuk bersikap serakah, namun juga dibekali iman untuk mengendalikannya. Oleh karena itu, puasa dapat dimaknai sebagai jihad akbar—perjuangan melawan dorongan hawa nafsu yang berlebihan.

Dalam refleksinya, Prof Masyitoh juga mengingatkan pentingnya belajar dari makhluk ciptaan Allah. Semut menjadi simbol akumulasi berlebihan, sementara lebah justru menghadirkan teladan karena memberi manfaat tanpa merusak.

“Kita perlu meneladani lebah, yang memberi tanpa mengganggu,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa misi LLHPB bukan semata menjaga lingkungan, tetapi menjaga keberlangsungan hidup umat manusia melalui lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan nyaman.

“Lingkungan akan berbuat baik kepada kita jika kita berbuat baik kepada lingkungan,” tegasnya.

Menjelang Ramadan, Prof. Masyitoh mendorong penyusunan panduan sederhana bagi warga ‘Aisyiyah di berbagai tingkatan untuk mengendalikan konsumsi energi dan mengurangi sampah selama bulan suci.

Ia juga mengingatkan bahwa Ramadan bukanlah bulan untuk mengurangi produktivitas, melainkan momentum peningkatan diri. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai peristiwa besar justru terjadi di bulan Ramadan, menegaskan bahwa bulan suci ini adalah waktu untuk perubahan dan kontribusi nyata.

Menurutnya, puasa memiliki tiga makna strategis, yaitu ajang melawan hawa nafsu dan keserakahan, sarana pengendalian diri, serta momentum peningkatan kualitas diri.

Melalui pengendalian konsumsi dan kepedulian terhadap lingkungan, Ramadan diharapkan tidak hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan kehidupan umat manusia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Usai terlaksananya kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Universitas ....

Suara Muhammadiyah

27 October 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Pusat Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PP IGRA) akan me....

Suara Muhammadiyah

13 January 2026

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Pemerintah seharusnya bisa melakukan kerja sama dengan perguruan....

Suara Muhammadiyah

4 July 2024

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Hidup manusia itu dikendalikan oleh dua hal, yang pertama nafsu dan ked....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) menyelenggarakan Expo Pro....

Suara Muhammadiyah

28 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah