Puasa Adalah Jihad Melawan Keserakahan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
381
Prof. Masyitoh

Prof. Masyitoh

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menjelang bulan suci Ramadan, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, mengajak umat Islam untuk memaknai puasa sebagai jihad akbar, yakni perjuangan besar melawan hawa nafsu keserakahan manusia yang seringkali mendorong perilaku konsumtif dan berdampak pada kerusakan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Ngaji Lingkungan bertema Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi yang diselenggarakan oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah secara daring pada Sabtu, 14 Februari 2026.

Dalam paparannya, Prof. Masyitoh menegaskan bahwa Ramadan tidak semata tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan momentum ibadah yang menyeluruh. Selain puasa, Ramadan diisi dengan shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, serta ibadah sosial yang seharusnya mendorong perubahan perilaku, termasuk dalam pengendalian konsumsi dan pengurangan sampah.

“Ramadan adalah momentum untuk membatasi diri, termasuk membatasi konsumsi dan produksi sampah. Ini dakwah yang tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa,” ujarnya.

Ia menilai bahwa pengendalian konsumsi energi sangat selaras dengan esensi Ramadan sebagai bulan pengendalian diri. Menurutnya, manusia memiliki kecenderungan untuk bersikap serakah, namun juga dibekali iman untuk mengendalikannya. Oleh karena itu, puasa dapat dimaknai sebagai jihad akbar—perjuangan melawan dorongan hawa nafsu yang berlebihan.

Dalam refleksinya, Prof Masyitoh juga mengingatkan pentingnya belajar dari makhluk ciptaan Allah. Semut menjadi simbol akumulasi berlebihan, sementara lebah justru menghadirkan teladan karena memberi manfaat tanpa merusak.

“Kita perlu meneladani lebah, yang memberi tanpa mengganggu,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa misi LLHPB bukan semata menjaga lingkungan, tetapi menjaga keberlangsungan hidup umat manusia melalui lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan nyaman.

“Lingkungan akan berbuat baik kepada kita jika kita berbuat baik kepada lingkungan,” tegasnya.

Menjelang Ramadan, Prof. Masyitoh mendorong penyusunan panduan sederhana bagi warga ‘Aisyiyah di berbagai tingkatan untuk mengendalikan konsumsi energi dan mengurangi sampah selama bulan suci.

Ia juga mengingatkan bahwa Ramadan bukanlah bulan untuk mengurangi produktivitas, melainkan momentum peningkatan diri. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai peristiwa besar justru terjadi di bulan Ramadan, menegaskan bahwa bulan suci ini adalah waktu untuk perubahan dan kontribusi nyata.

Menurutnya, puasa memiliki tiga makna strategis, yaitu ajang melawan hawa nafsu dan keserakahan, sarana pengendalian diri, serta momentum peningkatan kualitas diri.

Melalui pengendalian konsumsi dan kepedulian terhadap lingkungan, Ramadan diharapkan tidak hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan kehidupan umat manusia.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAJALENGKA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat melalui Majelis Pemb....

Suara Muhammadiyah

23 September 2024

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Ayra Shierly benar-benar luar biasa. Bocah kelas 1 SD Muhammadiyah 4 ....

Suara Muhammadiyah

25 April 2025

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah & Pendidikan Non-Formal ....

Suara Muhammadiyah

20 September 2023

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (PAUD D....

Suara Muhammadiyah

20 October 2025

Berita

Uhamka Siap Terima Mahasiswa Tidak Lulus Tes Masuk Negeri JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengumuman ....

Suara Muhammadiyah

13 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah