LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Ramadhan adalah waktu di mana iman diuji bukan hanya di sajadah, tetapi di lorong-lorong sunyi kehidupan. Di rumah sakit misalnya, Ramadhan hadir dengan wajah paling jujur. Di tubuh yang melemah, di hati yang menunggu, dan pada doa-doa yang terucap tanpa suara, di RS Muhammadiyah Kalikapas Lamongan, Ramadhan menjadi ruang kesaksian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang hidup bukan sebagai wacana, tetapi sebagai keberpihakan.
Dari Musholah Al-Falah, Takmir menghidupkan rangkaian kegiatan Ramadhan 1447 H bertema “Ramadhan Bergerak Bersama, Berdampak bagi Sesama”. Tema ini adalah pernyataan sikap ideologis Muhammadiyah: bahwa Islam harus bergerak, dan gerakan itu harus berdampak bagi manusia yang nyata, rapuh, dan sedang diuji.
Di sinilah AIK menemukan bentuk praksisnya. Muhammadiyah tidak memisahkan ibadah dari realitas, tidak memisahkan iman dari ilmu, dan tidak memisahkan dakwah dari penderitaan umat. Kajian keislaman rutin setiap Senin dan Kamis diselenggarakan bukan untuk memenuhi agenda, melainkan untuk menguatkan ruh. Ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan dengan kesadaran bahwa pendengarnya sedang berada di titik terendah kehidupan—menunggu kesembuhan, menanti kepastian, atau belajar menerima takdir.
Musholah Al-Falah setiap sore menjadi ruang kesetaraan. Keluarga pasien, pasien rawat jalan, seluruh civitas hospitalia, dan masyarakat sekitar duduk dalam satu shaf keimanan. Tidak ada hierarki sosial, tidak ada sekat profesi. Inilah wajah Islam berkemajuan: memanusiakan manusia, menghadirkan agama sebagai rahmat, bukan beban.
Setiap hari, takjil dan buka puasa disediakan. Sajian itu sederhana, namun ideologis. Ia adalah dakwah bil hal, pesan sunyi bahwa Muhammadiyah hadir bukan untuk menonton penderitaan, tetapi untuk membersamai. Dalam konteks AIK, inilah amal saleh sosial, iman yang turun tangan, bukan hanya terucap.
Pada malam hari, shalat tarawih dilaksanakan berjamaah. Shaf-shaf dirapatkan oleh doa yang sama. Di rumah sakit, sujud memiliki makna yang berbeda. Ia adalah pengakuan keterbatasan manusia dan penguatan tauhid. Di titik inilah AIK bekerja: mengajarkan bahwa ikhtiar medis adalah bagian dari perintah agama, dan doa adalah penopang moral perjuangan.
Direktur RS Muhammadiyah Kalikapas, dr. Romy Hari Pujianto, Sp.B, menegaskan bahwa kegiatan Ramadhan ini merupakan manifestasi ideologi Muhammadiyah dalam pelayanan kesehatan.
“AIK adalah fondasi Amal Usaha Muhammadiyah. Kami melayani dengan ilmu dan teknologi, tetapi juga dengan iman dan empati. Inilah Islam berkemajuan, melayani secara utuh, jasmani dan ruhani,” ujarnya.
Kesaksian ideologis ini dirasakan langsung oleh keluarga pasien. Misbahul, salah satu keluarga pasien rawat inap, mengungkapkan bahwa kajian dan buka puasa di musholah rumah sakit menjadi penopang batin. “Dalam kondisi seperti ini, yang kami butuhkan bukan hanya pengobatan, tapi penguatan iman. Kajian ini mengingatkan kami bahwa Allah selalu dekat,” tuturnya.
Sementara itu, Wahyu Prayogi, Takmir Musholah Al-Falah yang membidangi Unit Ibadah dan AIK, menegaskan bahwa Ramadhan adalah ruang kaderisasi nilai Muhammadiyah.
“AIK tidak boleh berhenti di ruang kelas, Di musholah rumah sakit ini, AIK dihidupkan menggerakkan, membela kemanusiaan, dan menghadirkan Islam sebagai solusi,” tegasnya.
Melalui kajian, buka puasa, dan ibadah berjamaah, Musholah Al-Falah meneguhkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang sadar arah, sadar nilai, dan setia pada penderitaan umat. Di antara doa-doa yang terucap lirih dan ikhtiar medis yang terus berjalan, AIK tidak diceramahkan, tetapi disaksikan.
Ramadhan di rumah sakit ini mengajarkan satu hal: bahwa Islam berkemajuan bukan tentang kemegahan simbol, melainkan keberanian untuk hadir di ruang paling sunyi. Dari musholah kecil itu, Muhammadiyah menjaga nyala iman, agar manusia tetap dimuliakan, harapan tetap dirawat, dan tauhid tetap menjadi pusat gerakan.

