Ramadhan di Persimpangan Spiritualitas dan Konsumerisme

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
113
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ramadhan di Persimpangan Spiritualitas dan Konsumerisme

Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta 

Ramadhan selalu hadir sebagai ruang refleksi yang khas dalam kehidupan umat Islam. Ia bukan sekadar momentum ritual tahunan, melainkan kesempatan untuk menata ulang orientasi hidup. Puasa mengajarkan pengendalian diri, kesadaran atas batas, dan kemampuan menunda hasrat. Dalam ajaran yang paling mendasar, puasa adalah latihan etis agar manusia tidak dikuasai oleh keinginannya sendiri.

Namun dalam realitas sosial kita dewasa ini, Ramadhan kerap tampil dalam wajah yang berbeda. Setiap tahun, menjelang bulan suci dan terutama mendekati Idulfitri, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung. Pasar takjil membeludak. Restoran penuh oleh acara buka bersama. Diskon bertema Ramadhan berseliweran di berbagai platform digital. Data menunjukkan pengeluaran rumah tangga cenderung meningkat pada periode ini. Paradoks pun mengemuka. Bulan yang dimaksudkan sebagai latihan pengendalian diri justru menjadi puncak konsumsi.

Fenomena tersebut tidak cukup dijelaskan sebagai kemerosotan moral individu. Ia merupakan bagian dari dinamika masyarakat modern yang semakin terintegrasi dengan logika pasar. Kapitalisme bukan sekadar sistem produksi dan distribusi barang, melainkan juga mekanisme yang piawai mengemas simbol dan emosi. Ramadhan, dengan muatan spiritual dan kultural yang kuat, menjadi ruang yang mudah diserap ke dalam strategi pemasaran.

Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, mengingatkan bahwa konsumsi tidak semata tindakan ekonomi, melainkan praktik sosial yang sarat makna simbolik. Pilihan terhadap makanan, pakaian, atau tempat berkumpul sering kali mencerminkan identitas dan posisi sosial. Dalam konteks Ramadhan, menu berbuka yang beragam, busana muslim baru, hingga tradisi mengirim parcel dapat dibaca sebagai bentuk ekspresi diri. Kesalehan pun dapat tampil dalam wujud simbolik yang terlihat dan diakui.

Tentu tidak semua ekspresi itu harus dipandang negatif. Buka bersama mempererat relasi sosial. Parcel Lebaran menjadi tanda perhatian dan penghargaan. Zakat, infak, dan sedekah yang meningkat selama Ramadhan menunjukkan adanya dorongan solidaritas yang nyata. Aktivitas ekonomi yang tumbuh juga memberi dampak pada pelaku usaha kecil dan menengah. Dalam batas tertentu, perputaran ekonomi pada bulan suci membawa manfaat sosial.

Namun persoalan muncul ketika simbol menggantikan substansi. Ketika keberhasilan menjalani Ramadhan diukur dari seberapa banyak acara yang dihadiri atau seberapa menarik unggahan di media sosial. Di era digital, praktik ibadah yang dahulu cenderung privat kini mudah menjadi konsumsi publik. Dokumentasi tadarus, pembagian bantuan, hingga suasana berbuka bersama beredar luas. Kedermawanan berpotensi menjadi konten. Kesalehan bisa berubah menjadi performa.

Tidak adil jika setiap unggahan langsung dicurigai sebagai pencitraan. Banyak pula yang memanfaatkan media sosial untuk menginspirasi dan menggerakkan kebaikan. Namun logika platform yang menekankan visibilitas dan interaksi turut membentuk cara orang menampilkan diri. Dalam ruang digital, yang terlihat sering kali dianggap lebih bermakna daripada yang tersembunyi. Di sinilah agama berinteraksi dengan budaya populer dan ekonomi perhatian.

Ramadhan pun berada di persimpangan. Di satu sisi, ia tetap menjadi ruang spiritual yang otentik. Masjid-masjid lebih ramai, aktivitas keagamaan meningkat, dan semangat berbagi menguat. Di sisi lain, ia terlibat dalam arus besar konsumerisme yang menjadikan simbol sebagai komoditas. Pertanyaannya bukan semata apakah Ramadhan kehilangan makna, melainkan bagaimana makna itu dinegosiasikan dalam konteks sosial yang berubah.

Puasa pada hakikatnya adalah latihan menata hasrat. Rasa lapar dan dahaga dimaksudkan untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan. Jika pengalaman itu berhenti pada meja berbuka yang berlebihan, pesan etisnya tidak sepenuhnya terwujud. Pengendalian diri seharusnya tidak hanya berlaku pada siang hari, tetapi juga dalam keputusan ekonomi yang diambil setelahnya.

Ramadhan juga memantulkan ketimpangan sosial. Sementara sebagian masyarakat menikmati kemudahan akses terhadap aneka produk dan layanan, sebagian lain masih bergulat memenuhi kebutuhan dasar. Lonjakan konsumsi pada kelompok tertentu kontras dengan realitas keterbatasan di kelompok lain. Dalam konteks ini, Ramadhan semestinya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar karitas musiman.

Zakat dan sedekah yang meningkat selama bulan suci patut diapresiasi. Namun tantangannya adalah menjadikan kepekaan sosial sebagai kebiasaan yang melekat sepanjang tahun. Puasa idealnya membentuk karakter yang sederhana dan peka, bukan hanya ritual yang selesai dalam tiga puluh hari. Solidaritas yang sejati tidak bergantung pada momentum, melainkan pada kesadaran etis yang terus dirawat.

Tidak realistis mengharapkan Ramadhan sepenuhnya terlepas dari pasar. Dalam masyarakat modern, hampir seluruh aspek kehidupan bersentuhan dengan ekonomi. Yang lebih penting adalah bagaimana umat menempatkan konsumsi dalam kerangka nilai. Membeli pakaian baru atau menikmati hidangan berbuka bukanlah kesalahan. Yang perlu diwaspadai adalah ketika konsumsi menjadi tolok ukur kesalehan atau ukuran keberhasilan merayakan bulan suci.

Pada akhirnya, Ramadhan tetaplah ruang pilihan. Ia dapat menjadi panggung citra, tetapi juga dapat menjadi ruang transformasi. Di tengah riuh promosi dan derasnya arus konten digital, esensi Ramadhan sesungguhnya bersifat sunyi. Ia tumbuh dalam kesadaran personal yang mungkin tidak terlihat publik. Pengendalian diri, kejujuran, empati, dan kepedulian sosial tidak selalu membutuhkan sorotan.

Maka, alih-alih sekadar meratapi komersialisasi, lebih bijak jika fenomena ini dijadikan cermin. Cermin untuk bertanya sejauh mana puasa mengubah diri kita. Apakah ia hanya menggeser jam makan, atau juga menggeser orientasi hidup. Jika Ramadhan mampu melahirkan kesadaran kritis terhadap budaya konsumtif sekaligus memperdalam solidaritas sosial, maka ia tetap relevan. Di tengah masyarakat pasar, justru di situlah makna spiritualnya diuji dan diteguhkan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko, LPCRPM PP Muhammadiyah, Bidang Pemberdayaan Ekonomi, Seni dan Budaya....

Suara Muhammadiyah

6 September 2024

Wawasan

Dampak Kesehatan Kesejahteraan Guru Oleh: Nabil Syuja Faozan, Mahasiswa Program Profesi Dokter Univ....

Suara Muhammadiyah

21 October 2025

Wawasan

Oleh: Pradana Boy ZTF, Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Malam itu saya ....

Suara Muhammadiyah

22 May 2025

Wawasan

Oleh: Muhammad Ridha Basri Pada awalnya, hujan itu terdengar seperti biasanya. Irama yang akrab bag....

Suara Muhammadiyah

5 December 2025

Wawasan

Guru sebagai Pendidik Profesional H. Pahri, S.Ag. MM, Dewan Penasehat Forum Guru Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

26 July 2025