Ramadhan sebagai Momentum Healing: Pemurnian Hati dan Detoksifikasi Tubuh

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
183
Ilustrasi

Ilustrasi

Ramadhan sebagai Momentum Healing: Pemurnian Hati dan Detoksifikasi Tubuh

Oleh: Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I, M.S.I, Dosen AIK Prodi Agribisnis Faperta UMMI dan Sekretaris Umum Korps Mubalighat PWA Jawa Barat

Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum ritual tahunan, tetapi ruang transformasi diri yang menyeluruh. Dalam tradisi Islam, puasa dipahami sebagai ibadah yang menyentuh dimensi lahir dan batin. Karena itu, Ramadhan dapat dimaknai sebagai proses healing—penyembuhan—yang menghadirkan pemurnian hati sekaligus detoksifikasi tubuh. Spiritualitas dan kesehatan menyatu dalam harmoni yang khas, sebagaimana pesan Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Sebagimana dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai takwa—kesadaran spiritual yang membimbing manusia menuju kualitas diri yang lebih baik. Karena itu, Ramadhan dapat dimaknai sebagai proses healing—penyembuhan—yang menghadirkan pemurnian hati sekaligus detoksifikasi tubuh. Spiritualitas dan kesehatan menyatu dalam harmoni yang khas dalam ajaran Islam.

Pemurnian Hati: Dari Tazkiyatun Nafs ke Kesehatan Jiwa

Dalam perspektif Islam, kesehatan jiwa tidak hanya diukur dari ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga dari kebeningan hati (qalbun salim). Puasa melatih pengendalian diri (self-control) terhadap dorongan biologis maupun emosional. Saat seseorang menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, sesungguhnya ia sedang berlatih mengelola impuls, meredam amarah, dan memperkuat kesabaran.

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Rasulullah saw. bersabda: “Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga latihan regulasi emosi. Ia menjadi “perisai” psikologis yang melindungi jiwa dari ledakan amarah dan perilaku destruktif.

Tradisi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang diajarkan dalam Islam menemukan momentumnya di bulan Ramadhan. Aktivitas ibadah seperti shalat tarawih, tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan sedekah memperkaya dimensi spiritual seseorang. Secara psikologis, praktik-praktik tersebut menghadirkan ketenangan batin, memperkuat makna hidup, serta menumbuhkan optimisme. Banyak kajian psikologi modern menyebut bahwa spiritualitas yang terinternalisasi mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan batin yang lahir dari dzikir dan ibadah adalah fondasi kesehatan mental. Al-Qur’an sendiri disebut sebagai penyembuh bagi penyakit hati: “Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada…” (QS. Yunus: 57)

Ramadhan juga menjadi ruang rekonsiliasi diri. Momentum istighfar dan taubat membuka peluang untuk melepaskan beban emosional masa lalu, rasa bersalah, dendam, atau penyesalan. Proses memaafkan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, terbukti dalam banyak penelitian sebagai faktor penting dalam menjaga kesehatan mental. Dengan demikian, puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membebaskan hati dari beban-beban batin yang mengganggu keseimbangan jiwa.

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini memberi efek psikologis yang mendalam: hati menjadi ringan, jiwa terasa lega, dan hidup dipenuhi harapan baru.

Detoksifikasi Tubuh: Hikmah Fisiologis Puasa

Selain dimensi spiritual, puasa Ramadhan juga memiliki implikasi fisiologis yang signifikan. Ketika tubuh berpuasa selama beberapa jam, sistem metabolisme mengalami penyesuaian. Tubuh beralih menggunakan cadangan energi yang tersimpan, termasuk lemak, sebagai sumber bahan bakar. Proses ini memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat dan melakukan regenerasi sel.

Dalam ilmu kesehatan modern dikenal istilah autophagy, yakni proses alami tubuh membersihkan sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel yang lebih sehat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang teratur dengan jeda tertentu, seperti dalam puasa, dapat merangsang proses tersebut. Meskipun Ramadhan bukan sekadar praktik diet, hikmah biologisnya menunjukkan bahwa syariat Islam sejalan dengan prinsip-prinsip kesehatan.

Menjadikan Healing sebagai Gaya Hidup

Tantangan terbesar adalah menjaga semangat Ramadhan agar tidak berhenti pada satu bulan saja. Pemurnian hati dan detoksifikasi tubuh seharusnya menjadi gaya hidup yang berkelanjutan. Disiplin dalam mengelola emosi, menjaga pola makan, serta memperbanyak ibadah dapat diteruskan selepas Idulfitri.

Ramadhan mengajarkan bahwa penyembuhan sejati dimulai dari kesadaran. Saat manusia kembali kepada fitrahnya (menyadari keterbatasan, memohon ampunan, dan memperbaiki diri) maka proses healing berlangsung secara alami. Hati menjadi lebih lapang, tubuh lebih bugar, dan kehidupan terasa lebih bermakna. “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Taubat adalah pintu healing yang hakiki. Hati menjadi lebih lapang, tubuh lebih bugar, dan kehidupan terasa lebih bermakna.

Akhirnya, Ramadhan adalah undangan Ilahi untuk melakukan total reset: membersihkan hati dari penyakit batin dan menyegarkan tubuh dari beban berlebihan. Di tengah dunia yang kian kompleks, pesan Ramadhan tetap relevan, bahwa kesehatan sejati lahir dari keseimbangan antara iman, akal, dan jasad. Semoga kita mampu menjadikan bulan suci ini sebagai titik tolak transformasi diri menuju pribadi yang lebih sehat, tenang, dan berkemajuan. Barakallaahufiikum


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khazanah

Riba dan Beberapa Aspek Hukumnya (1); Tafsir Q.S. Al-Baqarah [2]: 275-281  الَّذِينَ ....

Suara Muhammadiyah

9 January 2025

Khazanah

Ibrahim dalam Al-Qur`an dan Alkitab (Serial Para Nabi) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Bud....

Suara Muhammadiyah

16 October 2024

Khazanah

Al Ghazali dan Inkoherensi (Bagian ke-2) Oleh: Donny Syofyan Pada hari pertempuran, para bangsawan....

Suara Muhammadiyah

7 November 2023

Khazanah

Hadits Kesadaran Mencintai dan Merawat Bumi Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi, Dosen Prodi Ilmu H....

Suara Muhammadiyah

14 October 2025

Khazanah

Madrid: Satu Ibu Kota Eropa Dibangun oleh Muslim Oleh: Prof Syamsul Anwar MA, Ketua PP Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

10 July 2024