PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Ramadhan merupakan bulan momentum untuk meningkatkan keimanan untuk meraih derajat ketakwaan, maka dengan meraih itu semua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Kalimantan Tengah (NA Kalteng) mengadakan rangkaian pengajian dengan lintas wilayah secara daring pada Sabtu, 7 Maret 2026. Acara ini menghadirkan Nurismaya Aliatunisa, M.Pd., dari Pimpinan wilayah Nasyiatul Aisyiyah Kalimantan Utara sebagai dari narasumber utama.
Mengusung tema “Ramadhan dan spirit parenting Nabawiyah: Ikhtiar Nasyiatul Aisyiyah Membangun Peradaban”, kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahim serta ukhuwah sekaligus memperkuat semangat perjuangan kader perempuan muda di bulan suci Ramadhan. Pengajian di mulai dari pembacaan ayat suci Al – Quran secara bergantian.
Mewakili NA Kalteng, Siti Marhamah, menyampaikan Ramadhan 1447 H, sudah kita lalui setengah perjalanan, bagaimana rutinitas yang kita jalani selama ini sudah menunjukkan peningkatan keimanan yang berdampak dalam kehidupan kita, baik untuk diri kita sendiri serta lingkungan kita terutama sebagai perpanjangan dalam menyampaikan kebaikkan (isi) ceramah pada kali ini.
“Pengajian sebagai renungan kita dalam menjalani bulan yang penuh berkah (Ramadhan) tahun ini apakah kita sudah menjadi pribadi yang dapat membangun Peradaban yang berkemajuan, terutama dalam penyebar kebaikan,” ungkapnya.
Sementara Nurismaya Aliatunisa, M.Pd., selaku pemeteri menyampaikan bulan Ramadhan bukan sekadar momentum ritual tahunan, tetapi ruang transformasi diri yang menyeluruh. Dalam tradisi Islam, puasa dipahami sebagai ibadah yang menyentuh dimensi lahir dan batin. Karena itu, Ramadhan dapat dimaknai sebagai proses sebagai Madrasah (tempat) pemurnian hati baik itu hawa nafsu yang sering meracuni kehidupan manusia, sebagaimana pesan Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Sebagimana dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Pemurnian Hati (Tazkiyatun Nafs) dalam perspektif Islam, kesehatan jiwa tidak hanya diukur dari ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga dari kebeningan hati (qalbun salim). Puasa melatih pengendalian diri (self-control) terhadap dorongan biologis maupun emosional. Saat seseorang menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, sesungguhnya ia sedang berlatih mengelola impuls, meredam amarah, dan memperkuat kesabaran. “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10).
Rasulullah saw. bersabda: “Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga latihan regulasi emosi. Ia menjadi “perisai” psikologis yang melindungi jiwa dari ledakan amarah dan perilaku destruktif terutama kita selaku ibu muda atau perempuan muda terhadap anak - anak kita,” Ujarnya.
Dalam ikhtiar menjadi teladan bagi anak dalam hal akidah yang tegak lurus, sungguh banyak dan berat tantangan yang dihadapi. Namun, jika sejak awal telah ada komitmen pada semua pihak, terutama pasutri, seberat dan sesulit apa pun tantangan itu dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, sejak menjemput jodoh calon suami dan calon istri harus benar-benar telah mempunyai komitmen yang kuat untuk berakidah tegak lurus.
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani, orangtua wajib menghantarkan anaknya tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT, Serta orangtua wajib mendidik dan mengantarkan seorang anak untuk berakhlak mulia terutama dalam bulan Ramadhan ini,” tegasnya. (mf)
