Refleksi Koperasi Merah Putih: Momentum Dakwah Pemberdayaan Ekonomi

Suara Muhammadiyah

22 July 2026

254
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Refleksi Koperasi Merah Putih: Momentum Dakwah Pemberdayaan Muhammadiyah Membangun Ekonomi Rakyat dan Kemandirian Pangan Bangsa

Oleh: Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., Ketua Majlis Pemberdayaan Masyarakat, PDM Sukoharjo

Peluncuran Program Koperasi Merah Putih semestinya merupakan salah satu ikhtiar strategis pemerintah untuk menggerakkan kembali ekonomi kerakyatan berbasis desa. Di tengah berbagai tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, disrupsi ekonomi, dan meningkatnya kesenjangan sosial, koperasi kembali ditempatkan sebagai instrumen penting dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat. 

Bagi Muhammadiyah, kebijakan ini seyogianya tidak dipandang semata-mata sebagai program pemerintah, tetapi sebagai ruang dakwah pemberdayaan yang membuka peluang kolaborasi bagi terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri, adil, dan sejahtera. Sejak awal berdirinya pada tahun 1912, Muhammadiyah telah menjadikan dakwah sebagai gerakan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi masyarakat merupakan manifestasi dari ajaran Islam yang berorientasi pada kemaslahatan. Karena itu, hadirnya Koperasi Merah Putih merupakan momentum yang sangat relevan dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan. 

Koperasi dalam Perspektif Islam, bahwa Islam memandang aktivitas ekonomi sebagai bagian dari ibadah apabila dilakukan secara jujur, amanah, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Prinsip ta’awun tersebut menjadi ruh utama koperasi. Seluruh anggota saling memperkuat sehingga keuntungan tidak hanya dinikmati oleh individu, tetapi memberikan manfaat bagi seluruh anggota. Dalam bagian lain Allah juga mengingatkan: “… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini memberikan pesan yang sangat kuat mengenai pentingnya pemerataan ekonomi. Koperasi menjadi salah satu instrumen yang mampu mewujudkan distribusi kesejahteraan secara lebih adil. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Dengan demikian, koperasi bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi juga wahana menghadirkan kemanfaatan sosial bagi masyarakat luas. 

Ahmad Dahlan dan Spirit Pemberdayaan K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menyelesaikan persoalan umat. Spirit tafsir Surah Al-Ma’un menjadi bukti nyata bahwa dakwah Muhammadiyah selalu berpihak kepada kaum dhuafa. Panti asuhan, sekolah, rumah sakit, pelayanan kesehatan, hingga berbagai amal usaha Muhammadiyah lahir sebagai implementasi nilai-nilai Al-Qur’an. Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi sejatinya merupakan kelanjutan dari gerakan Al-Ma’un. Dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi menghadirkan solusi terhadap kemiskinan, pengangguran, dan ketidakberdayaan masyarakat. 

Landasan Ideologi Muhammadiyah Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah menegaskan bahwa tujuan Muhammadiyah adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Masyarakat Islam yang dicita-citakan bukan hanya masyarakat yang rajin beribadah, tetapi juga masyarakat yang memiliki: kehidupan ekonomi yang adil; pendidikan yang maju; kesehatan yang baik; kepedulian sosial yang tinggi; dan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan ekonomi. 

Karena itu, aktivitas ekonomi harus menjadi bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang menghadirkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. Mengapa Muhammadiyah Perlu Terlibat? Muhammadiyah memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Mulai dari tingkat Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, hingga Ranting tersebar ribuan kader yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Selain itu terdapat: ribuan sekolah; ratusan perguruan tinggi; rumah sakit; klinik; BTM/BMT; koperasi; LAZISMU; organisasi otonom; serta berbagai komunitas pemberdayaan masyarakat. Apabila seluruh potensi tersebut disinergikan, Muhammadiyah dapat menjadi salah satu kekuatan utama dalam menyukseskan gerakan ekonomi rakyat. 

Sinergi Tiga Pilar Muhammadiyah, bahwa Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat akar rumput. Perannya meliputi: pendampingan kelompok masyarakat; pembentukan kelembagaan koperasi; pendidikan anggota; penguatan partisipasi masyarakat; pengembangan desa berdaya. MPM memastikan koperasi tumbuh dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar memenuhi target administratif. Sementara itu Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP), Majelis ini berperan memperkuat aspek profesionalisme koperasi. Kontribusinya meliputi: tata kelola modern; digitalisasi koperasi; pengembangan UMKM; inkubasi bisnis; pemasaran digital; penguatan jaringan usaha; dan hilirisasi produk lokal. 

Dengan demikian koperasi menjadi lembaga ekonomi yang sehat dan kompetitif. Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) juga memiliki posisi yang sangat strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Melalui koperasi, petani memperoleh akses terhadap: benih unggul; pupuk; alat mesin pertanian; pembiayaan; pengolahan hasil; pemasaran; dan distribusi. Petani tidak lagi menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan pangan nasional. Selanjutnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai Pusat Inovasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) memiliki sumber daya akademik yang sangat besar. Dosen dan mahasiswa dapat berkontribusi melalui: riset pengembangan koperasi; digitalisasi sistem manajemen; pemetaan potensi desa berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG); analisis rantai pasok komoditas; pengembangan kewirausahaan; pendampingan UMKM; dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara koperasi dengan PTMA akan memperkuat inovasi dan keberlanjutan program. 

Kemandirian Pangan sebagai Agenda Dakwah Ketahanan pangan bukan hanya persoalan pertanian. Ia berkaitan dengan: distribusi; kelembagaan ekonomi; akses pasar; stabilitas harga; dan perlindungan petani. Di sinilah koperasi memiliki fungsi strategis. Apabila petani tergabung dalam koperasi yang sehat, maka posisi tawar mereka meningkat, biaya produksi menjadi lebih efisien, akses pembiayaan semakin mudah, dan pemasaran hasil panen menjadi lebih terjamin. Muhammadiyah melalui Jamaah Tani Muhammadiyah dapat menjadi penggerak lahirnya ekosistem pangan yang mandiri mulai dari hulu hingga hilir. 

Tantangan yang perlu diantisipasi terkait pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa tidak sedikit koperasi gagal berkembang karena lemahnya tata kelola. Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi antara lain: rendahnya kualitas manajemen; minimnya kader profesional; lemahnya transparansi keuangan; kurangnya partisipasi anggota; dan ketergantungan pada bantuan pemerintah. Karena itu, koperasi harus dikelola secara profesional dengan prinsip amanah, akuntabilitas, transparansi, dan inovasi. Muhammadiyah memiliki tradisi tata kelola organisasi yang kuat. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting untuk membangun koperasi yang sehat dan dipercaya masyarakat. 

Dakwah Berkemajuan melalui Pemberdayaan Ekonomi Islam Berkemajuan yang menjadi karakter Muhammadiyah yang menempatkan agama sebagai kekuatan transformasi sosial. Dakwah tidak berhenti pada ceramah di mimbar, namun juga hadir dalam bentuk: mengurangi kemiskinan; menciptakan lapangan kerja; memperkuat ekonomi keluarga; meningkatkan kesejahteraan petani; membangun desa yang mandiri; dan memperkuat ketahanan pangan bangsa. Inilah dakwah yang membumi, mencerahkan, sekaligus memajukan kehidupan masyarakat. 

Program Koperasi Merah Putih merupakan kesempatan berharga untuk membangun kembali semangat ekonomi gotong royong yang berakar pada nilai-nilai Pancasila dan ajaran Islam. Muhammadiyah, dengan pengalaman lebih dari satu abad dalam dakwah dan pemberdayaan masyarakat, memiliki modal sosial, kelembagaan, serta sumber daya manusia yang sangat memadai untuk berkontribusi secara nyata. Sinergi Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata, Jamaah Tani Muhammadiyah, didukung oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, LAZISMU, BTM/BMT, serta seluruh Amal Usaha Muhammadiyah, akan membentuk ekosistem pemberdayaan yang kokoh. Melalui sinergi ini, koperasi tidak hanya menjadi instrumen ekonomi, tetapi juga media dakwah yang menghadirkan keadilan sosial, memperkuat kemandirian pangan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mewujudkan cita-cita Muhammadiyah untuk membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Semoga ikhtiar bersama ini menjadi bagian dari amal saleh kolektif yang diridhai Allah SWT, serta menjadi kontribusi nyata Muhammadiyah dalam membangun Indonesia yang maju, adil, makmur, dan berkeadaban.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Al-Qur`an diturunkan secara ber....

Suara Muhammadiyah

11 April 2024

Wawasan

Kelompok Salafi  dan Pudarnya Kesalehan Sosial Oleh: Muhammad Utama Al Faruqi, Demisioner Sekr....

Suara Muhammadiyah

26 April 2024

Wawasan

Transparansi Fiskal dan Komunikasi Publik Ala Purbaya Oleh: Ijang Faisal, Dosen Ilmu Komunikasi Uni....

Suara Muhammadiyah

29 October 2025

Wawasan

Ijtihad dan Tanggung Jawab Penulis: Aris Rakhmadi, Dosen UMS – S3 DIFA UAD Perbedaan awal Ra....

Suara Muhammadiyah

23 February 2026

Wawasan

Oleh: Hidayat Tri Sutardjo (Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah) Krisis iklim saat ini sudah m....

Suara Muhammadiyah

2 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah