Renungan Ramadhan tentang Fungsi Mata

Publish

10 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
110
Sumber Foto Unsplash

Sumber Foto Unsplash

Renungan Ramadhan tentang Fungsi Mata

Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang

Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan semua kenikmataan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk mata sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Isra (17):36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, pelihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia agar beribadah kepada-Nya sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat adz-Dzaariyat (51):56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Dengan merujuk kepada perintah tersebut, kita menggunakan mata harus dalam rangka beribadah. Termasuk di dalamnya adalah beribadah yang bersifat umum.

Fungsi Mata

Dalam keadaan biasa, mata merupakan indra yang sangat vital bagi kepentingan membaca.  Di samping untuk membantu mengetahui informasi, mata pun dapat berfungsi untuk memberikan informasi. Ketika membaca informasi di media cetak, mata difungsikan untuk membantu mengetahui informasi. Namun, ketika dipejamkan sebelah atau kedua-duanya, melotot, meneteskan air mata, berkedip, atau melirik, apakah mata difungsikan untuk kepentingan yang sama? Tidak! 

Secara umum, mata berfungsi untuk melihat. Namun, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an surat al-A’raf (7):179, mata harus kita gunakan juga untuk melihat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ 

"Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."

Pemimpin zalim, koruptor, pembohong, penjudi, bandar narkoba, atau pelaku kejahatan yang lain sesungguhnya adalah orang-orang yang tidak memfungsikan mata untuk melihat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa melihat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti membaca. Dalam konteks ini, membaca tidak sekadar melafalkan ayat-ayat-Nya, tetapi juga memahami isinya, baik yang berisi perintah maupun larangan: baik yang tersurat maupun yang tersirat. Konsekuensi memahaminya adalah  mengamalkan perintah dan meninggalkan larangan-Nya dengan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Pemahaman yang demikian merujuk juga kepada surat al-Isra (17):36 yang sudah dikutip. Kiranya tidak menyimpang jika dikatakan bahwa mata merupakan satu di antara tiga anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana disebutkan di dalam ayat tersebut, mata berfungsi juga sebagai alat bantu untuk mempelajari pengetahuan. Pemahaman tersebut merujuk juga kepada firman-Nya misalnya di surat al-‘Alaq (98):1-5 

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia,
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

yang mengajar (manusia) dengan pena.

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Sementara itu, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surat al-Ihsaan (76):3, kita ketahui bahwa mata merupakan alat untuk belajar memahami "jalan yang lurus" (kebenaran) juga. 

اِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا كَفُوْرًا

“Sesungguhnya, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur.”

Pembagian Waktu Pemanfaatan Mata

Ada beberapa pertanyaan berikut ini yang harus kita jawab secara jujur: (1) Untuk apa saja mata kita selama ini? Melihat segala sesuatu yang terjangkau! Ya. Mengaji? Ya! (2) Berapa menit, mata kita gunakan untuk membaca Al-Qur’an dan al-Hadis? (3) Berapa menit kita gunakan untuk menyaksikan acara televisi atau YouTube yang mencerahkan pikiran dan hati? (4) Berapa menit kita gunakan untuk menyaksikan acara di televisi atau di YouTube yang mubazir atau malah sarat maksiat? Tentu dapat kita lanjutkan dengan pertanyaan lain.

Pada bulan Ramadhan sebagian besar muslim memfungsikan mata untuk beribadah, terutama tadarus. Idealnya selepas bulan Ramadhan pun semangat memfungsikan mata untuk beribadah terpelihara dengan baik.

Mari kita jujur: berapa kali kita membuka gawai dalam sehari semalam dan berapa menit setiap kita membukanya? Boleh jadi, ada di antara kita yang ketika akan tidur membukanya. Ketika terbangun dini hari pun demikian. Begitu juga ketika bangun tidur. Sepertinya, saraf jadi terpola sehingga gerakannya bersifat otomatis. Seringkah kita terganggu oleh rasa kantuk ketika membukanya? 

Sungguh sangat memprihatinkan. Sangat banyak remaja dan pemuda kita terkena penyakit “gatal tangan jika tidak memegang gawai”. Jika sedang asyik dengan gawainya, mereka pun menjadi tidak peduli terhadap orang lain, termasuk terhadap orang tua sendiri, bahkan, tidak peduli pada seruan azan.

Sering kita melihat pemandangan yang sangat memprihatinkan. Berjam-jam mereka asyik bermain “game online” dan keasyikannya itu  menyebabkannya tidak mengaji atau sangat sedikit waktu untuk beribadah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Dalam hubungan ini, cukup banyak orang tua yang tidak atau kurang memperhatikannya, padahal anak cucu mereka telah melupakan belajar. Mereka sepertinya membiarkan anak cucunya lebih akrab dengan gawai daripada dengan keluarganya sendiri. Mereka membiarkannya asyik dengan dirinya sendiri; tegur sapa apalagi saling bercerita dengan saudaranya tidak lagi menjadi bagian yang menyatu dalam silaturahim.

Ketika mengikuti acara silaturahim keluarga, anak-anak sejak datang hingga pulang asyik dengan gawainya masing-masing. Ketika mendengar ucapan salam, belum tentu mereka menjawabnya. Ketika disapa, belum tentu mereka langsung menyahutnya. Kalaupun menyahutnya, sekadarnya; satu dua kata kata diucapkan. Setelah itu, mereka kembali asyik dengan gawainya. 

Di sekolah dan/atau di kampus, peserta didik pun cukup banyak yang lebih asyik dengan gawainya masing-masing. Keasyikannya itu tidak berhubungan dengan belajar. 

Ada di antara mereka yang tersenyum-senyum ketika membaca pesan singkat pada gawainya. Ada pula yang tampak marah. Juga ada yang tampak sangat sedih sampai menangis. Mereka tidak peduli pada lingkungan. Tidak peduli siapa pun yang lewat di depannya; termasuk guru atau dosennya. Bahkan, jika dalam keadaan duduk, mereka tidak peduli bagaimana cara duduknya; sopan atau tidak, sama sekali tidak dipedulikannya. 

Di dalam kendaraan dan/atau di tempat umum cukup banyak orang (termasuk peserta didik) yang "memanjakan" matanya berasyik-asyik dengan gawai. Malahan, ada yang sambil mengendarai sepeda motor atau mobil, membaca dan membalas pesan singkat, padahal sudah sering terjadi kecelakaan lalu lintas akibat pengendara berkomunikasi dengan gawai dan sudah ada peraturan lalu lintas yang melarangnya. 

Di rumah pun terjadi. Suami istri duduk berdampingan, tetapi mereka asyik dengan gawainya masing. Ada yang membaca dan ada yang membalas pesan WA.

Di serambi masjid pun kita sering melihat ada orang yang asyik dengan gawai. Mereka memanfaatkannya untuk transaksi jual-beli atau melakukan “chatting” yang kadang-kadang disertai canda. Aktivitas seperti itu kadang-kadang berlangsung sampai menjelang ikamat. 

Nauzubillah!


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengenang Sang Inspirator Oleh: Teguh Pamungkas, Warga Muhammadiyah Kalsel    Masyarakat....

Suara Muhammadiyah

22 June 2024

Wawasan

Oleh: Saidun Derani Dosen pascasarjana UM Surabaya dan UIN Syahid Jakarta serta aktivis PWM Banten ....

Suara Muhammadiyah

22 February 2024

Wawasan

Dunia Menatap Rafah Oleh: Teguh Pamungkas, Eks volunteer children center Muhammadiyah-Unicef di Pid....

Suara Muhammadiyah

3 June 2024

Wawasan

Keniscayaan Menepati Janji Pernikahan Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, PRM Legoso Minggu lalu, saya mengh....

Suara Muhammadiyah

3 February 2025

Wawasan

Oleh: Dr Amalia Irfani, MSi, Dosen IAIN Pontianak, Sekretaris LPP PWM Kalbar Judul diatas hanya tig....

Suara Muhammadiyah

12 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah