Respon Terhadap Polemik Komedi Mens Rea: Bangsa Ini Butuh Kritik, Tapi Sampaikan dengan Baik dan Benar

Suara Muhammadiyah

9 January 2026

662
Mens Rea

Mens Rea

Respon Terhadap Polemik Komedi Mens Rea: Bangsa Ini Butuh Dikritik, Tapi Sampaikan dengan Baik dan Benar

Oleh: Buya Anwar Abbas

Kita harus berlapang dada jika dikritik karena lewat kritik kita bisa bercermin apakah kita sudah berbuat baik dan benar atau belum. Kalau kita sudah berbuat baik dan benar mari kita tingkatkan lagi kualitas dari kebaikan dan kebenaran yang sudah kita lakukan agar kehadiran dari diri dan institusi kita semakin dirasakan manfaat dan maslahatnya oleh orang lain.

Dan kalau di masa lalu kita belum bisa berbuat baik dan benar maka mari kita evaluasi apa yang menjadi penyebab dari itu semua untuk kemudian kita carikan usaha dan upaya serta solusi agar kehadiran kita bisa menjadi lebih berarti dan bermakna.

Usaha untuk menjadi baik dan benar ini bagi Muhammadiyah harus dilihat sebagai tugas suci. Karena sebaik-baik orang dan juga lembaga serta organisasi dalam Islam adalah organisasi yang kehadirannya benar-benar dirasakan maslahat dan manfaatnya tidak hanya untuk dirinya saja tapi juga untuk orang lain apakah itu oleh umat, bangsa dan negara serta untuk manusia dan kemanusiaan serta lingkungan.

Kemudian yang kedua kita juga berharap agar yang mengkritik juga jangan terlalu bersemangat dalam mengkritik. Di dalam ilmu psikologi ada teori jungkat jungkit, dimana orang kalau terlalu bersemangat maka perasaannya yang akan dominan sehingga  peran  rasio dan pikirannya dalam memberikan pendapat dan saran akan menurun dan  sebaliknya jika rasio atau pikirannya yang terlalu dominan maka peran dari perasaannya dalam mempertimbangkan sesuatu akan menurun.

Oleh karena itu kita (apakah itu yang mengkritik ataupun yang dikritik) diminta untuk bisa mengelola perasaan dan rasio serta fikiran kita dengan baik agar kita tetap dapat konsisten dengan misi kita untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran.

Kita tahu kebaikan merupakan buah dari perasaan kita dan kebenaran merupakan hasil dari olah pikir kita. Tetapi meskipun demikian jangan pula perasaan dan pikiran kita, dibiarkan bebas sebebas-bebasnya tapi sinari dan tuntunlah keduanya dengan nilai-nilai dari ajaran agama agar apa yang kita lakukan dan sampaikan tersebut bisa diridhoi oleh Allah swt dan diterima oleh orang banyak. Bisa berbuat seperti itu di negeri ini jelas sangat diharapkan karena kita adalah bangsa yang punya falsafah sendiri yaitu Pancasila dimana sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Semoga.

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Saat Kata Menjadi Perkara Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta  Di sebu....

Suara Muhammadiyah

27 March 2026

Wawasan

Pendidikan Berkualitas Menuju Indonesia Emas Oleh: Rizki P Dewantoro, Kader Muhammadiyah Pendiri M....

Suara Muhammadiyah

18 October 2024

Wawasan

Pendidikan Nonformal Muhammadiyah: Jalan Pencerahan, Pemberdayaan, dan Keberlanjutan Umat Oleh: M. ....

Suara Muhammadiyah

17 February 2026

Wawasan

Mendidik Lintas Generasi: Tantangan Baru di Sekolah dan Keluarga Oleh: Amrizal Di ruang kelas, k....

Suara Muhammadiyah

24 April 2026

Wawasan

Ketika Diplomasi Menjadi Narasi, dan Fiskal Menjadi Korban Oleh: Ijang Faisal, Kepala LPPM Universi....

Suara Muhammadiyah

29 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah