Santri, Muhammadiyah, dan Jalan Menuju Indonesia Emas

Suara Muhammadiyah

23 October 2026

137
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Santri, Muhammadiyah, dan Jalan Menuju Indonesia Emas

Oleh: Syahnanto Noerdin, Ketua Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat dan Alumnus Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Setiap 22 Oktober, bangsa ini mengenang sebuah momen penting. Hari Santri bukan sekadar upacara tahunan atau deretan spanduk di halaman pesantren. Ia mengingatkan bahwa dari bilik-bilik pesantren lahir keberanian untuk membela republik. Penetapannya melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 merujuk pada Resolusi Jihad yang diserukan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945, ketika kemerdekaan yang baru berusia dua bulan terancam direbut kembali. Seruan itu menggerakkan para santri dan rakyat, dan gaungnya ikut menyalakan semangat perlawanan dalam pertempuran Surabaya pada November 1945.

Tahun ini, tema "Indonesia Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" menegaskan satu hal: peran santri tidak berhenti pada sejarah. Menjelang satu abad kemerdekaan pada 2045, santri dituntut hadir sebagai penggerak kemajuan, bukan penonton. Pertanyaannya, bagaimana semangat jihad kemerdekaan itu diterjemahkan ke dalam kerja-kerja zaman ini?

Santri sering dipahami sempit sebagai mereka yang mondok di pesantren. Padahal, santri adalah watak: tekun menuntut ilmu, menghormati guru, hidup sederhana, mandiri, dan berorientasi pada kemaslahatan. Dalam pengertian ini, santri tidak dimonopoli kelompok mana pun. Ia adalah identitas moral yang bisa dimiliki siapa saja yang menjadikan ilmu dan akhlak sebagai pijakan hidup.

Di sinilah Muhammadiyah mengambil tempat yang penting. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah pada 1912, adalah seorang santri yang menimba ilmu hingga ke Makkah. Namun ia tidak berhenti pada kesalehan personal. Ia menerjemahkan ajaran Islam menjadi gerakan nyata: sekolah modern, layanan kesehatan, dan pertolongan bagi kaum papa. Teologi Al-Ma'un adalah buktinya, bahwa iman harus berbuah kepedulian sosial. Beragama, bagi Kiai Dahlan, bukan hanya khusyuk di sajadah, tetapi juga hadir bagi yatim, fakir, dan mereka yang terpinggirkan.

Muhammadiyah juga melahirkan tokoh yang berjuang untuk republik. Jenderal Soedirman, panglima besar yang memimpin perang gerilya, adalah kader Hizbul Wathan, kepanduan Muhammadiyah. Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo turut mengambil peran dalam perumusan dasar negara. Semua ini menunjukkan bahwa semangat kesantrian dan kebangsaan di tubuh Muhammadiyah berjalan seiring, bukan berseberangan.

Pesantren Muhammadiyah dan Wajah Islam Berkemajuan

Muhammadiyah memiliki ekosistem pendidikan yang luas, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, termasuk pondok pesantren dan sekolah berasrama yang memadukan ilmu agama dengan sains dan teknologi. Inilah corak Islam berkemajuan: tidak mempertentangkan wahyu dan akal, tidak memisahkan ilmu dunia dan akhirat. Di lingkungan seperti ini, santri dididik untuk memahami Al-Qur'an sekaligus memahami laboratorium, memahami fikih sekaligus memahami ekonomi.

Pendekatan ini sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia Emas 2045. Kita sedang menikmati bonus demografi, tetapi bonus itu bisa berubah menjadi beban bila generasi mudanya tidak dibekali kompetensi dan karakter. Santri masa kini perlu fasih membaca kitab sekaligus fasih membaca data. Mereka perlu mahir berdakwah sekaligus cakap berwirausaha, menguasai teknologi, dan peka terhadap isu lingkungan. Pesantren yang hanya berhenti pada hafalan akan tertinggal, sedangkan pesantren yang berani membuka diri pada inovasi akan menjadi lumbung pemimpin masa depan.

Pada saat yang sama, kemandirian ekonomi perlu mendapat tempat. Banyak pesantren telah mengembangkan koperasi, pertanian, peternakan, hingga usaha kecil yang menghidupi santri dan masyarakat sekitar. Jika tradisi ini diperkuat dengan manajemen modern dan akses pembiayaan yang adil, pesantren bukan hanya pusat ilmu, tetapi juga motor ekonomi umat dan penggerak pemberdayaan desa.

Sebagai alumnus ilmu komunikasi, saya melihat satu medan perjuangan baru yang menuntut perhatian santri: ruang digital. Media sosial dibanjiri hoaks, ujaran kebencian, dan potongan ceramah yang dilepas dari konteks. Algoritma lebih menyukai kegaduhan daripada kearifan, dan opini yang keras sering kali mengalahkan penjelasan yang tenang.

Di tengah situasi ini, santri punya modal besar. Tradisi keilmuan Islam mengajarkan tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan kabar. Tradisi sanad mengajarkan bahwa ilmu harus jelas sumbernya. Nilai-nilai ini adalah vaksin alami melawan disinformasi. Jika santri hadir secara aktif sebagai kreator konten yang jernih, moderat, dan mencerahkan, ruang digital kita akan jauh lebih sehat. Dakwah hari ini tidak cukup hanya di mimbar, tetapi juga di layar gawai.

Dalam kajian komunikasi, pesan yang efektif bukan hanya yang benar, melainkan juga yang dikemas dengan tepat dan disampaikan oleh komunikator yang dipercaya. Santri memiliki kredibilitas moral yang kuat, tetapi kredibilitas itu perlu dipadukan dengan kemampuan bercerita, desain visual, dan pemahaman audiens muda. Muhammadiyah, dengan jaringan kampus, media, dan amal usahanya, dapat memperkuat ekosistem literasi digital berbasis nilai. Pesantren dapat menjadi pusat pelatihan jurnalisme warga, produksi konten dakwah yang kreatif, dan kampanye antihoaks yang menyentuh anak muda dengan bahasa mereka sendiri.

Indonesia adalah rumah bagi keragaman suku, agama, dan budaya. Menguatkan negeri berarti menjaga rumah besar ini tetap rukun. Santri dan warga Muhammadiyah, bersama Nahdlatul Ulama dan seluruh elemen bangsa, memikul tanggung jawab yang sama: merawat persatuan, menolak kekerasan atas nama agama, dan mengedepankan dialog di atas caci-maki.

Perbedaan cara beribadah atau cara pandang fikih adalah kekayaan, bukan alasan untuk saling curiga. Para pendiri bangsa dari berbagai latar telah memberi teladan bahwa perbedaan bisa disatukan dalam cita-cita bersama bernama Indonesia. Teladan itulah yang perlu diwariskan kepada generasi muda, agar mereka tumbuh dengan keyakinan kuat tanpa kehilangan kelapangan hati terhadap sesama.

Hari Santri adalah pengingat bahwa kemerdekaan diperjuangkan dengan iman, ilmu, dan keberanian. Kini perjuangan itu berganti bentuk: melawan kebodohan, kemiskinan, dan disinformasi, serta membangun kualitas sumber daya manusia untuk 2045.

Jika santri berilmu, berakhlak, melek teknologi, dan merangkul semua, dan jika Muhammadiyah terus menghadirkan Islam berkemajuan lewat pendidikan dan pelayanan umat, maka Indonesia Emas bukan sekadar slogan. Ia akan menjadi kenyataan yang kita bangun bersama, dari pesantren, dari kampus, dari desa, hingga ke ruang-ruang digital. Selamat Hari Santri. Santri sehat, Indonesia kuat.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Garam Cap Muhammadiyah Oleh: Aan Ardianto, Kader Muhammadiyah Judul yang aku pilih bukan bermaksud....

Suara Muhammadiyah

25 March 2024

Wawasan

Idul Fitri dan Keadaban Publik Oleh: Muhammad Qorib, Dosen Fakultas Agama Islam UMSU dan Bendahara ....

Suara Muhammadiyah

12 March 2026

Wawasan

Kesadaran Politik sebagai Penuntun Demokrasi Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Rend....

Suara Muhammadiyah

12 September 2025

Wawasan

Ketika Al-Quran Dianggap Punya "Dua Tangan": Menjawab Salah Kaprah Kaum Kritikus Penulis: Donny Syo....

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

Wawasan

Merawat Militansi Nasyiah: Menolak Kaderisasi Karbitan Oleh: Revvina Agustianti Subroto, Ketua Pimp....

Suara Muhammadiyah

24 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah