Satu Frekuensi dalam Akhlak

Publish

19 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
149
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Satu Frekuensi dalam Akhlak

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Di dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) Bab III yang berjudul "Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah", subbab A yang berjudul "Kehidupan Pribadi", subsubbab 2 yang berjudul "Dalam Akhlak" terdapat empat butir pedoman sebagai berikut. 

Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk meneladan perilaku Nabi dalam mempraktikkan akhlak mulia sehingga menjadi uswah hasanah, yang diteladan oleh sesama berupa sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. 

(QS al-Qalam:4; al-Ahzab:21; al-Bayinah:5: HR al-Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad Ibnu Hambal) 

Setiap warga Muhammadiyah dalam melakukan amal dan kegiatan hidup harus senantiasa didasarkan kepada niat yang ikhlas dalam wujud amal-amal saleh dan ihsan, serta menjauhkan diri dari perilaku riya, sombong, ishraf, fasad, fahsya, dan kemungkaran.

Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk menunjukkan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah) sehingga disukai/diteladan dan menjauhkan diri dari akhlak yang tercela (akhlaq madzmumah) yang menyebabkan dibenci dan dijauhi sesama.

Setiap warga Muhammadiyah di mana pun bekerja dan menunaikan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari harus benar-benar menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan korupsi dan kolusi serta praktik-praktik buruk lainnya yang merugikan hak-hak publik dan membawa kehancuran dalam kehidupan di dunia ini.

Keempat butir pedoman tersebut benar-benar diamalkan dengan penuh tanggung jawab oleh pimpinan Muhammadiyah dari tingkat pusat sampai di tingkat ranting. Mereka menjadi teladan. Mereka mengamalkan adagium K.H.A. Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Ajaran itu bukan sekadar jargon. Bukan sekadar retorika! 

Oleh karena itu, kepercayaan masyarakat luas makin tinggi. Muhammadiyah makin mendunia! Banyak indikator yang dengan mudah dapat kita ketahui.

Makin banyaknya warga non-Muhammadiyah yang mewakafkan sebagian tanahnya kepada Muhammadiyah merupakan salah satu indikator. Muhammadiyah pun tidak menyia-nyiakan kepercayaan tersebut. 

Hal yang sangat menarik adalah tidak pernah ada berita pembangunan rumah sakit dan kampus Muhammadiyah atau AUM lain mangkrak karena terjadi korupsi yang dilakukan oleh para pengemban amanah. Di dalam Muhammadiyah ada prinsip "maju bersama" sebagaimana diajarkan oleh K.H.A.R. Fahruddin. Beliau mengajarkan agar AUM yang sudah maju menggandeng AUM yang belum maju untuk "maju bersama". 
 
Satu Frekuensi Saling Memahami

Suami istri harus sadar bahwa dalam usaha membina rumah tangga pasti ada tantangan, baik internal maupun eksternal. Umumnya kemampuan pancaindra pada *orang-orang senior” berkurang. Mungkin suami mempunyai kemampuan mendengar dan kemampuan melihat cukup bagus, tetapi kemampuan mengingatnya berkurang. Berkenaan dengan itu, istri sering mengingatkannya. 

Karena sering diingatkan oleh istri, suami merasa tidak nyaman. Dia kesal karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. 

Seharusnya, mereka satu frekuensi: masing-masing saling memahami dan memilih sikap bijak. Suami menyadari kekurangannya. Istri mengingatkan suami dengan cara yang santun sehingga suami tidak merasa diejek, bahkan, merasa sangat senang karena selalu diingatkan dengan cara yang sangat bijak.     

Mungkin terjadi keadaan lain. Kemampuan mendengar istri berkurang. Akibatnya, sering pembicaraan suami tidak dapat ditangkap dengan sempurna. Namun, istri tidak mau konfirmasi. Selang beberapa saat, istri melakukan tindakan atau berbicara yang tidak diinginkan oleh suami sebagaimana sudah disampaikan. Jika hal itu terjadi, suami tidak perlu kesal. Dalam keadaan seperti ini suami istri pun satu frekuensi: saling memahami. 

Tantangan lain dapat juga terjadi. Kebugaran fisik menurun. Gerak anggota tubuh suami atau istri sangat terbatas. Di antara mereka ada yang mengalami kesulitan memakai pakaian. 

Suami istri yang berakhlak mulia pasti menghadapinya dengan penuh keikhlasan. Mereka menyikapinya dengan lapang dada. Bagi mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jalan ke surga.

Jika berbagai tantangan tersebut dihadapi dengan kekecewaan dan kekesalan, kemesraan yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun dapat rusak. Hal ini harus kita hindari. Di dalam Al-Qur’an surat an-Nahl (16):92 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ تَتَّخِذُوْنَ اَيْمَانَكُمْ دَخَلًا ۢ بَيْنَكُمْ اَنْ تَكُوْنَ اُمَّةٌ هِيَ اَرْبٰى مِنْ اُمَّةٍۗ اِنَّمَا يَبْلُوْكُمُ اللّٰهُ بِهٖۗ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

“Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu karena ada (kecenderungan memihak kepada) satu golongan yang lebih banyak kelebihannya (jumlah, harta, kekuatan, pengaruh, dan sebagainya) daripada golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu dan pasti pada hari Kiamat Allah akan menjelaskan kepadamu apa yang selalu kamu perselisihkan.”

Satu Frekuensi Menyikapi ART

Pada malam pertama bulan Ramadhan suami istri yang menyiapkan sahur karena ART baru bangun setelah dibangunkan. Suami istri tidak memarahinya, tetapi menasihatinya dengan bahasa yang santun. Bahkan, mereka tidak marah ketika ART berkata, “Kula boten digugah nggih boten napa-napa. Kula sampun biasa pasa boten sahur”. ('Saya tidak dibangunkan tidak apa-apa. Saya sudah biasa puasa tanpa sahur')

Setelah peristiwa itu, selama satu tahun ART dinasihati dengan sabar. Pada Ramadhan tahun kedua ART bangun lebih dulu daripada suami istri dan dia menyiapkan sahur.   

Satu Frekuensi dengan Teman

Kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang dapat kita lihat dari kualitas keimanan dan ketakwaan temannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surat at-Taubah (9):119

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” 

Dari ayat tersebut, kita ketahui bahwa kita diperintah agar berteman dengan orang jujur. Banyak contoh yang dengan mudah dapat kita saksikan. Anak-anak muda mengenal miras dan narkoba kebanyakan melalui teman. Dari mengenal, mereka menjadi pengguna. Mulailah terjadi perubahan perilaku. Mereka menjadi anak yang tidak jujur. Mereka durhaka pada orang tua. Akibat selanjutnya mereka melakukan tindakan kriminal. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita.

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. 

(HR Abu Daud, HR at-Tirmizi, HR Ahmad dari Abu Hurairah)

Pemimpin yang tidak merasa berdosa melakukan kebohongan, pasti memilih teman yang satu frekuensi. Jika pemipin itu dihasilkan pemilihan, dapat diduga kuat bahwa pemilihnya adalah orang-orang yang tidak merasa berdosa melakukan kebohongan. Dengan kata lain, orang-orang yang tidak takut berdosa melakukan kebohongan, pasti memilih pemimpin tidak takut berdosa melakukan kebohongan juga. 

Pedagang yang tidak merasa berdosa melakukan penipuan, pasti memilih mitra dagang yang satu frekuensi. Dengan cara demikian, mereka dapat bekerja sama. 

Satu  Frekuensi Menolak Korupsi

Istri atau suami adalah teman curhat untuk kebaikan. Bahkan, mereka wajib saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Jika suami menjadi pejabat dan selalu diingatkan oleh istri agar tidak korupsi, tidak perlu tersinggung. Mungkin nasihat tersebut selalu diucapkan sehingga terkesan bahwa istri cerewet. Suami yang berakhlak mulia tentu memahaminya bahwa nasihat itu dimaksudkan untuk kebaikan bersama dunia dan akhirat.

Istri yang tidak mau suaminya korupsi pasti tidak pernah lelah menasihatinya. Bahkan, sering ketika menerima uang dari suami di luar gaji, tidak dengan serta merta “sumringah” dia menerimanya. Dia justru menanyakan kehalalan uang tersebut. Bersyukurlah suami jika mempunyai istri yang demikian. Bersyukurlah ayah/ibu jika anak kesayangannya memintanya agar tidak korupsi. Satu frekuensi menolak korupsi harus dikondisikan di dalam keluarga besar. 

Bismillaahirrahmaanirrahiim


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Teknologi untuk Masjid (Bagian 2) Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen Jurusan Teknik Elektro UII Yogyaka....

Suara Muhammadiyah

27 October 2025

Wawasan

Menjaga Kewarasan dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Etis, Psikologis, dan Spiritual Oleh: Nur Amali....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Oleh: Dr M Samson Fajar, MSosI Berbicara tentang kepahlawanan dalam SeratKridhawasita yang beriskan....

Suara Muhammadiyah

9 November 2023

Wawasan

Puasa dan Ketahanan Keluarga Oleh: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I., Dosen UM Metro Hari pertama Rama....

Suara Muhammadiyah

11 March 2024

Wawasan

SINERGITAS GERAKAN EKONOMI: Dari Debat Milik Siapa ke Gerakan Ekonomi Jamaah Oleh: Suwatno Ibnu Sud....

Suara Muhammadiyah

14 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah