Sedekah Kohe
Oleh: Hafidz Sirojudin, Komisaris PT Mentari Niaga Utama
Pada jaman dulu, budaya pertanian di Jawa itu sirkular, bukan linear. “Nandur, Ngingu, Bali Nandur: Menanam, Beternak, Kembali Menanam”. Sapi dan kerbau makan jerami sisa panen padi. Jerami menjadi tletong, tletong menjadi pupuk, pupuk menjadikan tanaman padi lebih berisi. Tidak ada istilah limbah (wasted). Semua adalah sedekah semesta yang berputar. Kandang di belakang rumah adalah “Baitul Mal”-nya petani.
Lahan persawahan sebelum panen dikeringkan, dan lahan kering setelah panen selesai menjadi arena anak desa bermain layang-layang, sepak bola maupun “gobak sodor dan pathok lele”. Lahan sawah “dipuasakan” sejenak (3-4 pekan) untuk melakukan recovery. Tanaman semanggi dan krokot tumbuh, menjadi sayuran yang dibutuhkan ibu menyusui untuk memperlancar ASI.
Menjelang musim tanam, dan sesaat sebelum air irigasi teknis dialirkan atau musim hujan datang, petani mulai mencangkuli sawah, “nggaru dan ngluku” (membajak) dengan kerbau, sambil menyiapkan dan menebar benih padi. Tetapi sejak pupuk kimia dipergunakan dan budi daya pertanian modern diperkenalkan, semua berubah menjadi serba ingin cepat, instan. Pemakaian pupuk berimbang diabaikan, bahkan cenderung berlebihan.
Tanah sawah dipaksa berproduksi terus menerus, tanpa puasa, tanpa istirahat. Hasilnya memang banyak di awal, namun pada jangka panjang tanahnya menjadi “bantat” dan mati. Belut, cacing, mikroba dan probiotik menjadi punah. Aneka hewan perusak dan tanaman pengganggu (gulma) tanaman semakin banyak ditemukan. Tikus, walang sangit, lembing, keong mas, gulma, dan sebagainya.
Pada era sekarang, budaya harmoni petani dengan lingkungan semesta dan sesama mulai berubah dan berdampak menjadi “kemproh”. Semangat berjamaah, berjamiyyah dan “tepa-slira’ dalam budi daya pertanian semakin memudar. Setidaknya terlihat secara kasat mata saat kita melewati ruas jalan tol Trans Jawa. Pada sisi kanan jalan terlihat hamparan tanaman padi menguning siap panen. Sementara di sisi kiri terlihat hamparan hijau dan sebagian “mabul” (mulai berbunga). Bahkan ada juga yang di sebelah petak tanaman padi, ditanami beragam tanaman pangan lain: jagung, kedelai, kacang hijau, tembakau, semangka, melon, bawang merah, cabai, dan sebagainya.
Tidak usah jauh-jauh ke luar daerah, di desa kami juga terjadi. Belum lagi ditambah laju konversi lahan pertanian menjadi lahan perumahan, jalan tol dan industri. Pola tanam, pengaturan pengairan, penanganan hama terpadu dan semangat berjamaah tani mulai memudar pasca era reformasi atau awal era 2000-an. Saat sekolah SMP-SMA (1981-1987), saya sering diajak atau mewakili bapak mengikuti “rembug tani” di Balai Desa. Biasanya diadakan setelah musim panen selesai dan menjelang musim tanam berikutnya. Bahasan utamanya: jadwal irigasi, varietas padi yang hendak ditanam, paket saprotan (pupuk, pestisida, dll) yang tersedia, antisipasi hama yang muncul dan luasan lahan yang akan ditanam oleh setiap petani, untuk dimasukkan dalam Data Monografi Desa (sekarang RDKK: Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani).
Ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian telah berkembang pesat dengan berbagai inovasi teknologi yang tinggi. Tetapi ada satu hal mendasar yang seringkali dilupakan. Bahwa keberhasilan budi daya pertanian mensyaratkan sebuah kebersamaan yang terukur dan teratur (berjamaah), harmoni dan keseimbangan ekologis, komitmen terwujudnya sebuah ekosistem pertanian yang lestari. Keberhasilan mewujudkan ekosistem pertanian yang baik, menuntut loyalitas dan integritas “sinten” (orang: petani dan pemerintah) untuk meluruskan dan merapikan shaft berjamaah tani. Barangkali hanya budaya “subak” di Bali yang masih terjaga hingga kini.
Kita dengan tanpa sadar telah memutus rantai ekosistem bertani yang sudah disambungkan kakek nenek kita. Rantai makanan yang menyambungkan langit, bumi, dan perut manusia. Ada peribahasa Jawa yang cukup kondang: “seko kandang, dadi gudang (dari kandang menjadi gudang). Ini yang disebut dengan ekosistem pertanian organik. Muhammadiyah menyebutnya sebagai berkemajuan dan berkesinambungan (sustainable).
Kami bersyukur atas terbitnya SPJB Petroganik dari PT Petrokimia Gresik kepada PT Mentari Niaga Utama (MNU) di Kulonprogo, Rabu 21 Oktober 2026. Rasa syukur segenap pengurus MNU, setidaknya kami rasakan bersama para pemangku kepentingan yang hadir. Muhammad Sayuti dan M. Yamin, Sekretaris dan Ketua MPM PP Muhammadiyah; Pupuk Indonesia dan Petrokimia Gresik; Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Jogja Agro Park DIY; Dewas dan Dirut Dapen Syariah Muhammadiyah selaku Holding MNU; Ketua LP-UMKM PWM DIY; Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kulonprogo; Pejabat yang mewakili Kapolres dan Dandim; Ketua JATAM (Jamaah Tani Muhammadiyah), HKTI dan KTNA; Wakil Ketua dan Sekretaris PDM, PCM dan PRM Salamrejo; Forkompimcam (Panewu/Camat, Kapolsek, Danramil); Lurah, Ketua KDMP, Ketua Dukuh, RW dan RT sekitar lingkungan pabrik.
Rasa syukur kami setidaknya memiliki beberapa alasan, diantaranya: Pertama, MNU merupakan BUMM (Badan Usaha Milik Muhammadiyah) satu-satunya –saat ini– yang berkhidmat dalam industri pupuk organik, dan sudah dapat memulai produksi petroganik.
Kedua, membantu Pemerintah dalam upaya meningkatkan produktivitas hasil pertanian demi mewujudkan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan. Betapapun para pepunden Jawa telah mengingatkan sebuah ajaran, bahwa “perut lapar, pikiran dan iman bisa terkapar”.
Ketiga, mengurangi pengangguran dengan memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Meski belum mampu “nyugihi” (membuat kaya), setidaknya sudah bisa “nguripi” (menghidupi) sebagian masyarakat sekitar yang bekerja di MNU.
Keempat, memberikan manfaat (benefit), nilai tambah (value added) dan keuntungan (profit) bagi Persyarikatan, BUMM, Mitra Bisnis, Koperasi, Stakeholders dan Masyarakat.
Kelima, menguatkan sinergi dan kolaborasi MNU dengan Pupuk Indonesia dan PT. Petrokimia Gresik, PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah), Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, Forkompimcam, Pemdes dan Tokoh Masyarakat, Organisasi Petani dan Peternak.
Keenam, menghidupkan semangat memberi dan saling berbagi, tolong menolong dan gotong royong dalam memajukan perekonomian daerah.
Ketujuh, menginisiasi dan mempraktekkan sedekah kohe (kotoran hewan).
Sebagaimana kita pahami, salah satu bahan baku produksi pupuk organik adalah kotoran hewan (kohe: telek ayam, tletong sapi/kerbau, inthil wedhus). Kohe dari peternak “rajakaya” (ruminansia) dan unggas (ayam, burung puyuh) dapat menimbulkan permasalahan sosial dan ekonomi bagi tetangga peternak.
Banyak peternak tradisional yang tidak memiliki lahan pertanian atau lokasi kandang yang memadai. Sehingga kesulitan ketika hendak membuang kohe ataupun bingung tatkala mau menjual kemana. Di sisi lain, banyak petani yang tidak memiliki hewan ternak. Maka keberadaan MNU menjadi Fertilizer Intermediary, sebagai perantara penyediaan pupuk organik bagi petani.
Sejak September lalu, MNU telah melakukan serangkaian trial dan performance test mesin, Kohe dari peternak anggota JATAM Kulonprogo, yang dikoordinir dan dikelola Lazismu telah melakukan pengiriman tletong sapi dan inthil kambing ke pabrik. Meski jumlahnya baru belasan ton dan belum mampu sepenuhnya memenuhi standar kualitas dan kuantitas bahan baku industri pupuk, namun setidaknya kami sudah memulai. Tentu kami akan terus melakukan pemberdayaan dan membina Lazismu-JATAM selaku pengepul dan supplier kohe. Maka sedekah kohe (kotoran hewan), sebagai salah satu bahan baku pupuk organik, adalah jawaban budaya pertanian yang berkelanjutan serta jawaban atas kebutuhan pupuk organik untuk mendukung terwujudnya ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan.
Ayo kumpulkan TelekMu dengan Bismillah. Bukan dengan cara berdebat soal sertifikasi halal produk kohe. MNU akan mengolah pupuk organik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan menambahkan bakteri pengurai Mixtro, Effective Micro-organism, Probiotik, Molase. Sedekahkan dengan ikhlas. Percayakan kepada Lazismu untuk mengelola dan mencatat setiap nilai yang diperoleh dari menjual TelekMu yang anda sedekahkan. Insya Allah akan memberikan benefit, value added dan profit bagi semua. Karena sedekah terbaik di zaman krisis pangan nanti, bukan hanya sedekah beras, telur atau jagung satu karung. Namun, sedekah pupuk organik satu karung yang membuat tanaman padi menghasilkan beras tetap ada sampai tujuh turunan. Wallahualam.
Jogjakarta, 22 Oktober 2026

