Self-Improvement Saat Ramadhan
Penulis: Amalia Irfani LPPA PWA Kalbar/Dosen IAIN Pontianak
Ramadhan menjadi bulan perubahan banyak hamba Allah untuk lebih giat dan semangat melakukan kebaikan. Fakta sosial yang tampak di masyarakat, Ramadhan sering menjadi titik awal banyak umat Islam khususnya kaum hawa untuk lebih menjaga dan merubah penampilan tidak hanya sekedar mengerem diri dari hal-hal yang dapat merusak hati, pandangan dan pikiran. Yang awalnya berpakaian minim dan tidak menutup aurat, atau cenderung merasa percaya diri saat menggunakan pakaian body fit, slim fit atau pres badan.
Namun saat bulan ramadhan, perasaan tersebut sedikit bergeser, banyak kaum hawa dibulan suci ramadhan merasa enggan, cenderung malu berpakaian terbuka. Maka muncul pertanyaan menarik dari fenomena yang hampir menjangkiti semua kelas sosial di masyarakat, mengapa tren busana santun (Modest Wear), hanya terjadi di bulan suci Ramadhan?
Jawaban yang relevan dari pertanyaan diatas bahwa secara sosial bulan suci ramadhan merupakan perpaduan antara peningkatan kesadaran spiritual, norma sosial, dan budaya yang mengakar. Indonesia dikenal sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi sopan santun sebagai kepribadian atau jati diri. Maka momentum ramadhan merupakan aktualisasi menjaga, menghormati hak orang lain sebagai hamba Allah dan warga negara.
Dalam sosiologi ini disebut sebagai internalisasi norma akibat tekanan sosial (social pressure) maka muncullah rasa malu. Dalam Islam malu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari iman untuk menjaga kehormatan diri (iffah). Jika dikaji secara sosial, malu adalah perpaduan antara kesadaran individu akan nilai agama ditambah tekanan norma masyarakat atau kontrol sosial yang menguat.
Rasulullah pun menjelaskan "Malu itu sebagian dari iman, dan iman akan berada di surga" (HR. Ibnu Majah)., "Allah lebih berhak untuk disegani (bersikap malu kepada-Nya) daripada terhadap orang lain" (HR. Bukhari).
Dua pesan Rasullullah menandakan penting bagi setiap hamba memelihara dirinya, sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. Malu adalah kehormatan diri (muru'ah), untuk menghindari fitnah. Jika dimanifestasikan dalam kehidupan sosial, malu wujud tanggung jawab moral untuk menjunjung tinggi hak sesama diatas kepentingan pribadi dan kelompok.
Self-Improvement di Bulan Ramadhan
Adanya motif tertentu menjadi sebab mengapa seseorang bisa berubah. Perubahan tersebut jarang terjadi tanpa alasan dan biasanya karena dorongan dalam diri (internal) dan lingkungan (eksternal) yang memaksa atau memotivasi segera melakukan perubahan.
Self improvement dalam Islam biasa disebut hijrah, dapat didefinisikan sebagai proses sadar dimulai dengan memperbaiki niat, hati, dan amaliyah menuju ketaatan yang lebih baik dari sebelumnya untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT. Dalam QS. Ar-Ra'du: 11, Allah meminta hambaNya wajib berikhtiar mengubah dirinya sendiri sebelum perubahan nasib terjadi, yang berfokus pada perbaikan ibadah, berupaya menghindari perbuatan buruk, dan meningkatkan kualitas diri agar dapat memberikan kemanfaatan bagi sesama.
Di bulan ramadhan self improvement terjadi karena perjalanan dari ketidakpastian menuju keyakinan. Atau dari kekacauan batin untuk menuju ketenangan, dekat dengan pemilik kehidupan. Selain telah dulu muncul kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan momentum ramadhan begitu saja.
Maka poin penting self-improvement di bulan Ramadhan, individu harus dapat berfokus pada peningkatan spiritual dengan mendisiplinkan diri untuk tepat waktu mengerjakan ibadah wajib seperti sholat. Kemudian aktif dalam majelis ilmu agar waktu tidak terbuang sia-sia. Disamping konsisten pula menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial agar ibadah tidak semata pada proses diri, tetapi menebar kebaikan bagi sesama.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, self improvement khususnya di bulan suci Ramadhan, bukanlah sekedar momentum yang akan hilang setelah syawal datang, tetapi langkah kita memperbaiki diri dengan terus berikhtiar untuk mendapatkan ridha dan kasih sayang Allah dunia juga akhirat.

