Semarak Milad ke-77 SMA Muhi, Pengajian Akbar hingga Luncurkan Buku

Suara Muhammadiyah

24 September 2026

52
Foto Istimewa

Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (23/9/2026), saat SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (SMA Muhi) menggelar Pengajian Akbar dalam rangka Milad ke-77. Mengusung tema “Jati Diri Lokal, Prestasi Global: Menebar Nilai Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia”, kegiatan ini diikuti seluruh murid kelas X, XI, dan XII dengan penuh antusias. Sejak pagi, ribuan murid tampak hadir dengan seragam rapi dan mengikuti rangkaian acara secara kompak. Sebelum pengajian dimulai, suasana religius telah terasa melalui khataman Al-Qur’an 30 juz yang dibaca secara serentak oleh seluruh murid. Lantunan ayat suci berpadu dengan penampilan hadroh dan lagu-lagu Islami, menghadirkan suasana yang teduh sekaligus semarak.
 
Kepala SMA Muhi, Drs H. Herynugroho, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa sehebat apa pun prestasi yang diraih, Al-Qur’an harus tetap menjadi sumber pedoman hidup. Ia mengajak seluruh murid agar semakin tinggi ilmu, keterampilan, dan prestasi yang dimiliki, semakin kuat pula komitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Al-Qur’an. Menurutnya, pesan tersebut menjadi bagian penting dari makna tema Milad ke-77, yakni membangun jati diri lokal, meraih prestasi global, sekaligus menebarkan nilai Islam berkemajuan untuk peradaban dunia.
 
Pada kesempatan tersebut, kepala sekolah juga memberikan penghargaan kepada Sharisha Adhiella Maruti atas keberhasilannya meraih medali perak OSN 2026 bidang Kebumian di Malang. Ia turut memberikan doa dan dukungan kepada kontingen tim tari FLS3N SMA Muhi yang sedang berjuang di tingkat nasional. “Semoga prestasi ini menginspirasi seluruh warga sekolah,” demikian semangat yang disampaikan dalam momentum tersebut. Kepala sekolah juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan rangkaian Milad ke-77 SMA Muhi.
 
Wakil Ketua PWM DIY, Gita Danu Pranata, S.E., M.M., berharap Pengajian Akbar tersebut menjadi penguat sekaligus kebanggaan bagi SMA Muhi untuk terus berkarya dan berprestasi. Ia mendorong sekolah agar terus berinovasi, berkreasi, dan berani mencoba bersaing di tingkat global. “Mari terus berprestasi dan berkreasi,” pesannya kepada warga SMA Muhi.
 
Dalam kesempatan tersebut, Gita Danu Pranata juga menyerahkan tiga penghargaan umrah kepada guru dan tenaga kependidikan yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun sesuai urutan yang telah ditetapkan. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah murid berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan pencapaian mereka. Momentum tersebut menjadi penghormatan bagi para pengabdi sekaligus penyemangat bagi generasi muda untuk terus menorehkan prestasi.
 
Sementara itu, Ustaz Handy Bonny sebagai pembicara utama mengajak seluruh murid untuk berhati-hati dalam menempatkan cinta dan memilih pergaulan. Ia mengingatkan murid untuk menghindari pacaran dan seks bebas serta tidak salah menempatkan rasa cinta. Menurutnya, berbagai konflik dapat muncul ketika cinta dan fanatisme tidak ditempatkan secara tepat. Karena itu, murid diajak berhati-hati memilih teman, menjaga diri, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
 
Menutup tausiyahnya, Ustaz Handy Bonny mengingatkan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, tetapi perlu diraih melalui kerja keras dan disiplin. Setiap langkah hendaknya diarahkan pada hal-hal yang diridai Allah karena dengan demikian cita-cita dapat dijaga dan perjuangan memiliki arah yang jelas. Murid juga diajak untuk tidak mudah galau menghadapi kehidupan, melainkan terus bergerak, belajar, dan memperbaiki diri.
 
Nuansa reflektif juga hadir melalui penyerahan buku “Muhi untuk Negeri” oleh Ketua Ikatan Alumni SMA Muhi, Ida Pujiastuti. Buku tersebut memuat sejarah, profil alumni, serta berbagai sumbangsih alumni dari masa ke masa. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang SMA Muhi tidak terlepas dari kontribusi banyak generasi yang pernah belajar dan tumbuh di dalamnya.

Buku itu ditulis oleh empat jurnalis yakni Fernan Rahadi, jurnalis Republika sekaligus alumni MUHI 2003; Arif Koes Hernawan, mantan jurnalis Gatra yang kini menjadi penulis lepas; Latief Noor Rochmans, jurnalis Kedaulatan Rakyat; serta Rahajeng Kartika Anindita Pramesi, jurnalis Beritajatim.

Ketua Tim Penulis, Fernan Rahadi menuturkan selama lebih dari tiga bulan, tim penulis menghubungi alumni, mewawancarai, dan menyajikannya ke dalam artikel menarik. 

"Namun tidak semuanya berjalan mulus, ada nomor telepon yang tak dapat dihubungi, narasumber yang tak bisa ditemui, hingga alumni yang enggan diwawancarai dan dipublikasikan. Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak," jelasnya.

Dalam proses penyusunan, konsep buku berkembang menjadi dokumentasi mengenai sejarah sekolah, perjalanan alumni, serta berbagai bentuk sumbangsih mereka bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Lebih dari 120 narasumber diwawancarai untuk menyusun buku tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari alumni, kepala sekolah dan guru, mantan kepala sekolah dan mantan guru, pembina kegiatan ekstrakurikuler, pegiat sekolah, hingga keluarga dari sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan MUHI.

Rentang alumni yang menjadi narasumber juga mencakup lebih dari enam dekade. Hampir seluruh angkatan mendapat ruang dalam proses pengumpulan cerita, mulai dari lulusan 1963 hingga lulusan 2025.

Salah satu alumni tertua yang diwawancarai adalah Siti Hadiroh, lulusan 1963. Dalam proses penyusunan buku, Siti Hadiroh meninggal dunia.

Para alumni dipilih dengan mempertimbangkan kontribusi mereka di berbagai bidang. Selain kiprah di tingkat lokal maupun nasional, tim penyusun juga mempertimbangkan keterwakilan bidang serta prestasi para alumni, termasuk rekomendasi dan data dari pihak MUHI untuk alumni generasi muda.

Proses penyusunan buku berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Tim penulis harus menghubungi satu per satu narasumber, melakukan wawancara, mengumpulkan dokumentasi, serta menyusun cerita menjadi tulisan yang dapat dibaca lintas generasi.

Di balik proses tersebut, buku MUHI untuk Negeri tidak sekadar dimaksudkan sebagai catatan sejarah sekolah. Buku ini juga menjadi dokumentasi mengenai bagaimana pendidikan membentuk perjalanan hidup para alumninya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai upaya mendokumentasikan sejarah lembaga pendidikan memiliki arti penting dalam menjaga ingatan kolektif.

"Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan," kata Haedar Nashir.

Menurutnya, buku ini menjadi bagian dari kerja penting IKAMUHI dan MUHI dalam merekam, merawat, sekaligus mewariskan perjalanan panjang MUHI kepada generasi sekarang dan mendatang.

Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti, alumni MUHI 1984, mengatakan buku tersebut lahir dari semangat membangun sinergi antara alumni dan almamater.

Bagi Ida, MUHI tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan formal. Sekolah tersebut juga menjadi ruang pembentukan karakter, nilai keimanan, semangat kebangsaan, dan pengabdian.

Sementara itu, Kepala Sekolah MUHI Herynugroho menyebut buku tersebut merekam sebagian perjalanan panjang sekolah, termasuk pengalaman, perjuangan, dan cerita yang dianggap memiliki makna bagi keluarga besar MUHI.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi kenangan sekaligus sumber inspirasi bagi generasi MUHI untuk terus berprestasi dan berkembang.

Pandangan mengenai masa depan MUHI juga disampaikan Busyro Muqoddas, Ketua KPK RI periode 2010-2011 sekaligus alumni MUHI 1971.

Menurut Busyro, sejarah panjang MUHI menjadi modal untuk menghadapi tantangan pendidikan pada masa kini, termasuk perubahan sosial yang dihadapi generasi Z.

Ia berharap keberadaan buku tersebut turut memperkuat peran alumni dalam mewujudkan MUHI Reborn, yakni MUHI yang kembali pada hakikatnya sebagai institusi yang melahirkan calon pemimpin bangsa dan pembelajar yang terus menuntut ilmu dengan tetap menjunjung kemuliaan akhlak.

Selain memuat sejarah dan profil alumni, buku MUHI untuk Negeri juga menghadirkan sejumlah sosok yang dinilai memiliki kiprah menonjol di bidang masing-masing.

Mereka disebut sebagai Tokoh MUHI karena dinilai telah mencapai puncak kiprah di bidangnya serta memberikan kontribusi di berbagai sektor kehidupan bangsa. Beberapa nama alumni di antaranya Ebiet G Ade (Musisi), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) Budayawan, Ony Anwar Harsono (Bupati Ngawi Jawa Timur), Prof Amir Hamidy (Ilmuwan), Eros Candra (musisi), Fajar Nugros (sutradara) dan masih banyak lagi.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) memperkuat jejaring kerja sama ....

Suara Muhammadiyah

20 June 2026

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) resmi tandatangan MoU dengan Du....

Suara Muhammadiyah

17 September 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) kembali menjadi ruang tum....

Suara Muhammadiyah

7 July 2026

Berita

PALANGKA RAYA, Suara Muhammadiyah - Sejumlah Atlet Tapak Suci Putra Muhammadiyah mewakili Kabupaten ....

Suara Muhammadiyah

10 July 2024

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Pekajangan ....

Suara Muhammadiyah

21 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah