Foto: Dua Ulama kharisma yang berasal dari Desa Parado, Bima, NTB. TGH. Muhammad Hasan, BA dan TGH Abdul Ghani Masykur
Seporsi Adab: Belajar Kepemimpinan dari TGH Abdul Ghany Masjkur
Oleh: A. Mujahidin, Mahasiswa UIN Jakarta/ Kader IMM PC Ciputat
Di tengah riuhnya kontestasi politik dan semakin menguatnya budaya pencitraan, kita seperti sedang mengalami krisis keteladanan. Banyak orang berlomba menjadi pemimpin, tetapi tidak banyak yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk memimpin. Jabatan menjadi tujuan, bukan konsekuensi dari pengabdian. Ruang publik dipenuhi retorika-retorika yang memukau, tetapi sering kali miskin keteladanan dan Adab. Dalam situasi seperti ini, bangsa ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan orang pintar, melainkan kekurangan pemimpin yang menjadikan adab sebagai fondasi utama kepemimpinannya.
Sejarah sebenarnya telah meninggalkan banyak teladan tentang bagaimana kepemimpinan dijalankan dengan kesederhanaan, integritas, dan pengabdian. Sayangnya, tokoh-tokoh tersebut lebih banyak hidup dalam ingatan masyarakat lokal daripada menjadi inspirasi nasional. Salah satu di antaranya adalah TGH Abdul Ghany Masjkur, ulama kharismatik asal Desa Parado Rato, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sosoknya bukan hanya dikenal sebagai pendakwah, melainkan juga pendidik, hakim syariah, organisatoris, dan negarawan yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk membangun manusia yang berintelektual dan islamis.
TGH Abdul Ghany Masjkur lahir pada 15 Mei 1924 dan menempuh pendidikan keislaman sejak usia muda hingga melanjutkan studi di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Namun, perjalanan intelektual itu tidak berhenti sebagai pencapaian akademik semata. Ilmu yang diperolehnya diterjemahkan menjadi kerja nyata di tengah masyarakat. Ia mengajar di madrasah, memimpin lembaga pendidikan, menjadi dosen, menjalankan amanah sebagai hakim agama, aktif dalam organisasi Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia, bahkan terlibat dalam lembaga pemerintahan serta politik daerah. Beragam amanah tersebut tidak menjadikannya larut dalam kekuasaan. Sebaliknya, setiap posisi dipandang sebagai ruang untuk mengabdi kepada umat.
Yang menarik dari perjalanan hidup TGH Abdul Ghany Masjkur adalah kemampuannya merawat hubungan yang harmonis antara ulama, masyarakat, dan pemerintah. Pada masa ketika Kesultanan Bima masih memiliki pengaruh yang kuat, ia menunjukkan bahwa ulama tidak harus mengambil posisi konfrontatif terhadap penguasa. Sebaliknya, ia memilih membangun kolaborasi yang dilandasi nilai-nilai moral dan kepentingan bersama. Bagi beliau, pemerintah adalah mitra dalam menghadirkan kemaslahatan, bukan lawan yang harus selalu dicurigai. Sikap inilah yang membuat dakwahnya tidak berhenti di mimbar, tetapi menjelma menjadi kebijakan, pendidikan, dan pelayanan publik.
Cara pandang tersebut terasa sangat relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Relasi antara agama dan politik sering kali diposisikan secara ekstrem. Di satu sisi, agama dijadikan alat untuk memperoleh legitimasi politik. Di sisi lain, agama didorong menjauh dari ruang publik dengan alasan menjaga netralitas negara. Padahal, sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa banyak ulama justru hadir sebagai penjaga moral negara tanpa harus menjadikan agama sebagai alat perebutan kekuasaan. TGH Abdul Ghany Masjkur merupakan salah satu contoh nyata bagaimana seorang ulama mampu menjaga independensi moral sekaligus membangun kerja sama yang produktif dengan pemerintah.
Di atas semua kiprahnya, pendidikan menjadi medan pengabdian yang paling menonjol. Ia meyakini bahwa perubahan masyarakat tidak mungkin dicapai hanya melalui ceramah atau kebijakan politik. Perubahan harus dimulai dari ruang kelas, dari madrasah, dari pesantren, dan dari proses panjang membentuk karakter manusia. Karena itulah ia merintis berdirinya berbagai lembaga pendidikan, mulai dari madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, PGA, hingga mengembangkan Perguruan Muhammadiyah Bima dan Pondok Pesantren Al Ikhlas. Sebagian lembaga yang dirintisnya bahkan masih berdiri kokoh hingga hari ini dan terus melahirkan generasi-generasi baru.
Apa yang dibangun TGH Abdul Ghany Masjkur sesungguhnya bukan sekadar institusi pendidikan. Ia sedang membangun sebuah peradaban. Baginya, pendidikan tidak hanya
bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, berakhlak, dan mampu memberi manfaat bagi sesama. Ilmu harus melahirkan amal, sementara kepandaian harus berjalan beriringan dengan kerendahan hati. Karena itu, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, terbuka, teguh memegang prinsip, serta konsisten antara perkataan dan perbuatannya. Dalam dirinya, adab bukan hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan.
Di sinilah letak pelajaran paling berharga dari sosok TGH Abdul Ghany Masjkur. Kepemimpinan sejati tidak lahir dari hasrat untuk menguasai orang lain, melainkan dari kesediaan melayani mereka. Seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya jabatan yang pernah diduduki, melainkan dari banyaknya manusia yang tumbuh karena pengabdiannya. Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah panjangnya masa kekuasaan, tetapi panjangnya manfaat yang terus dirasakan setelah ia tiada.
Sayangnya, ukuran semacam ini semakin jarang digunakan dalam kehidupan publik kita. Kita lebih mudah terpikat oleh retorika daripada rekam jejak. Kita lebih cepat mengagumi pencitraan daripada keteladanan. Akibatnya, kepemimpinan kehilangan ruhnya. Jabatan menjadi simbol prestise, bukan amanah. Kekuasaan dipandang sebagai hak istimewa, bukan tanggung jawab moral.
Karena itu, mengenang TGH Abdul Ghany Masjkur bukanlah semata-mata mengenang seorang ulama dari Bima. Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskannya: integritas, pengabdian, kesederhanaan, dan kolaborasi demi kemaslahatan bersama. Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh perebutan pengaruh, teladan seperti inilah yang justru semakin dibutuhkan.
Bangsa ini mungkin tidak kekurangan pemimpin. Yang mulai langka adalah pemimpin yang menghadirkan keteduhan, mendidik melalui keteladanan, dan menjadikan adab sebagai dasar dalam setiap keputusan. Jika Indonesia ingin melahirkan kepemimpinan yang kuat sekaligus bermartabat, maka pelajaran itu tidak harus selalu dicari dari tokoh-tokoh besar di panggung nasional. Cukup menengok sejarah lokal, kita akan menemukan bahwa dari sebuah desa bernama Parado Rato pernah lahir seorang ulama yang mengajarkan bahwa kekuasaan hanyalah alat, sedangkan pengabdian adalah tujuan. Dan mungkin, di tengah krisis keteladanan yang kita hadapi hari ini, bangsa ini memang sedang membutuhkan seporsi adab.
Selamat jalan, Guru, Ulama, dan Pendidik kami, KH. Abdul Ghani Masykur. Jasa, ilmu, dan keteladanan yang telah engkau wariskan akan selalu dikenang oleh umat. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Selasa, 30 Ramadhan 1440 H / 4 Juni 2019 pukul 11.45 WITA di PKU Muhammadiyah Bima, kita kehilangan seorang tokoh dan ulama Muhammadiyah yang telah banyak memberikan pengabdian bagi masyarakat. Selamat jalan, Kyai. Semoga ilmu, nasehat, dan teladan yang engkau tinggalkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan menjadi mutiara berharga bagi kami semua.

