Silaturrahmi Sesungguhnya, Lebih dari Bersua

Suara Muhammadiyah

20 April 2026

455
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

KEDIRI, Suara Muhammadiyah – Syahdan, Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama kali di Gua Hira, vibrasi yang dirasakan Nabi berupa ketakutan yang luar biasa seraya berujar, “Laqad khosyitu 'ala nafsi".

Perkataan Nabi itu disampaikan kepada Khadijah r.a. “Saya betul-betul khawatir bencana akan menimpaku,” ujar Nabi. Mengapa Nabi begitu amat khawatir?

“Karena Nabi punya pengalaman ketika ada di Gua Hira itu didatangi Malaikat Jibril,” beber Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sementara, Nabi sendiri sudah sering bertahan di dalam gua tersebut.

“Tapi pengalaman yang paling dirasakan sangat luar biasa ketika turun iqra' bismi rabbikalladzî khalaq yang lima ayat itu (Qs al-Alaq, red),” ujarnya, Ahad (19/4) saat Halal Bi Halal PDM Kota Kediri di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Kediri, Jawa Timur.

Atas peristiwa itu, Nabi menemui Khadijah dan menceritakan pengalamannya. “Saya benar-benar takut bencana akan menimpaku,” gundah Nabi. Khadijah memberikan penguatan hati kepada suaminya tersebut.

“Allah tidak akan memberikan bencana kepadamu selama-lamanya,” ucap Khadijah, yang dikemukakan alasan logisnya: menyambung silaturrahmi. Sehingga orang-orang yang melakukan silaturrahim itu menurut hadis tadi ada jaminan dari Allah, tentang keselamatannya,” ulas Saad.

Mengorbitkan kata silaturrahmi, Saad sebut berpokok pangkal dari kata shilah. Kata shilah sendiri derivasinya mencakup berasal dari akar washala-yashilu-silatan yang makna fundamentalnya menyambung, menjalin hubungan. Di sisi lain, kata rahim sendiri, maknanya hubungan kekerabatan, khususnya garis perempuan.

"Silaturahim pada awalnya adalah terminologi untuk membangun hubungan dari keluarga garis perempuan yang saat itu dipandang lemah. Maka silaturrahmi mengandung dua makna utama: relationship dan protection," paparnya.

Ditambahkan sekali lagi oleh Saad, silaturrahmi bukan sekadar pertemuan fisik (face to face), melainkan juga ikatan batin yang mendalam. Ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk membangun empati terhadap sesama, terutama mereka yang menderita.

"Yang jauh lebih penting dari tatap muka adalah batin kita. Harus ada rasa empati. Kalau ada orang lapar, kita harus bergerak. Itulah silah dalam konteks relasi yang sesungguhnya," pungkasnya. (Cris/Naf)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BATAM, Suara Muhammadiyah - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemen....

Suara Muhammadiyah

28 July 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 4 peserta didik kelas X SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta....

Suara Muhammadiyah

20 October 2024

Berita

KEBUMEN, Suara Muhammadiyah – Suasana meriah mewarnai seremoni pembukaan Expo dan Bazar UMKM d....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) kembali menggelar Kajian Ramadhan ....

Suara Muhammadiyah

14 March 2025

Berita

KULONPROGO, Suara Muhammadiyah - Pengajian bersama yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhamm....

Suara Muhammadiyah

16 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah