Spirit Idul Fitri, Kembali Suci untuk Hidup yang Penuh Esensi

Suara Muhammadiyah

28 March 2026

660
Muhammad Jamaludin Ahmad, SPsi., Psikolog. Foto: Cris

Muhammad Jamaludin Ahmad, SPsi., Psikolog. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ramadhan telah usai. Dan, saatnya, memasuki bulan Syawal atau identik dengan Idul Fitri.

Pada momen ini, Idul Fitri menemukan titik temu pemaknaan sebagai hari raya berbuka puasa. Bahkan, seloroh Muhammad Jamaludin Ahmad, diasosiasikan juga sebagai hari makan-makan.

“Boleh berbuka kembali makan, makan-makan,” katanya, yang menekankan pengharaman berpuasa, khususnya pada tanggal 1 Syawal.

“Kalau mau puasa tanggal dua Syawal, enam hari berturut-turut atau tidak berturut-turut,” sambungnya.

Demikian juga, suci dan bersih, melingkupi makna Idul Fitri. Jiwa-jiwa manusia kemudian telah bersih dan tereliminasi dari pelbagai dosa karena meraih pengampunan dari Tuhan.

“Maka kita jaga agar tetap suci dan bersih dengan cara memperbanyak amal saleh,” kata Jamal.

Dengan semangat Idul Fitri, tampil manusia yang selalu berperangai distingtif dengan manusia-manusia lain. Hidupnya senantiasa bertindak sebagaimana garis orbit yang telah dipakemkan Tuhan.

“Kalau salah mengaku pada Allah, kalau salah sesama manusia tetap saling memaafkan. Saling memaafkan bukan hanya di Idul Fitri, tetapi juga sepanjang hari,” bebernya.

Idul Fitri itu suasananya cair. Demikian penegasan sekali lagi Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu (28/3) saat Syawalan dan Milad ke-83 SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta.

Cakupannya sarat kegembiraan. Yang terkonstruksi dengan saling bertandang ke sanak saudara, handai taulan, untuk merekatkan tali temali silaturahmi. “Silaturahmi itu aktif, kalau tidak tidak dinamakan silaturahmi,” tekan Jamal.

Di lain sisi, Idul Fitri juga bermakna kembali ke asal kejadian. Momentum ini mesti dijadikan titik balik perenungan mendalam, sejauh mana denyut nadi sesimik aktivitas kehidupan dijalankan.

“Ingatlah selalu asal kejadian kita dari mana dan akhir kehidupan kita dari mana,” bebernya. Yang sejatinya, kehidupan itu pasti akan menemui titik ujungnya.

“Orang yang paling cerdas bukan orang yang gelarnya profesor doktor. Orang yang paling cerdas adalah yang mengingat mati dan menyiapkan diri untuk kehidupan setelah dunia,” tegasnya.

Demikian juga, Idul Fitri bermakna agama yang lurus, agama yang benar. Sebagai seorang Muslim, seyogianya berupaya untuk mengamalkan agama dengan baik.

“Tujuan kita beragama bukan untuk menghapalkan tapi mengamalkan,” tegasnya lagi.

Pada saat yang sama, yang diamalkan itu ajaran luhur sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur'an.

“Jangan sampai hapal Al-Qur'an tapi bingung ketika menghadapi problema kehidupan. Pahami Al-Qur'an dan amalkan,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Keberadaan Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi persoalan sosial ya....

Suara Muhammadiyah

10 February 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir,....

Suara Muhammadiyah

28 November 2023

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Konflik Israel-Palestina berlangsung sudah sangat lama, dan tidak....

Suara Muhammadiyah

23 November 2023

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijr....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pim....

Suara Muhammadiyah

1 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah