Sudan dan Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad 21

Suara Muhammadiyah

27 January 2026

2413
Krisis di Sudan

Krisis di Sudan

Sudan dan Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad 21

Oleh: Buya Anwar Abbas

Perang saudara di Sudan boleh dikatakan perang  antara dua jenderal yaitu Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), dan Mohammed Hamdan Dagalo, yang lebih dikenal sebagai Hemedti, kepala dari kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).

Kedua jenderal itu dulunya bekerjasama, melakukan kudeta menjatuhkan presiden Omar al bashir yang sudah memerintah hampir tiga dekade. Tapi sekarang antara kelompok mereka berdua terjadi pertempuran demi meraih supremasi.

Akibat dari pertempuran tersebut sejak April 2023 hingga sekarang sekurangnya sudah 150 ribu orang tewas, lebih dari 522 ribu anak meninggal karena kekurangan gizi, 14 juta orang mengungsi baik di dalam maupun ke luar negeri dan 24 juta orang menderita kelaparan. Jadi peristiwa perang di Sudan ini benar-benar telah menjadi tragedi kemanusian terbesar dalam abad ke-21.

Bila konflik ini tidak bisa diatasi maka tidak mustahil Sudan akan terbelah  untuk kedua kalinya sebagaimana sebelumnya pada tahun 2011 dimana Sudan Selatan yang kaya dengan minyak telah memisahkan diri dan mendirikan negara baru.  Pihak militer yang dipimpin Jenderal Abdel Fatah al-Burhan telah menuduh Uni Emirat Arab (UEA) berada di belakang RSF yang dipimpin Jenderal Dagalo walaupun hal itu telah dibantah oleh UEA.

Pertanyaannya apakah Indonesia akan berdiam diri dalam menghadapi masalah yang terjadi di Sudan ini? Tentu tidak, karena dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea keempat telah ditegaskan bahwa tujuan bangsa dan negara kita dalam hal yang terkait dengan politik luar negeri adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Untuk itu kita harus ikut serta dalam menciptakan ketertiban dunia dimana prinsip utama kita dalam menjalankan politik luar negeri tersebut adalah bebas aktif, tidak memihak kepada salah satu blok yang bertikai dan di samping itu kita juga harus aktif  berpartisipasi dalam meredakan konflik yang terjadi  agar tercipta perdamaian diantara pihak yang bertikai.

Kita berharap agar pemerintah indonesia dapat memainkan peran bagi membantu  menghentikan konflik yang ada di Sudan agar korban-korban yang tidak kita inginkan jangan lagi berjatuhan karena sudah terlalu banyak jiwa yang melayang dan juga  korban sakit dan luka-luka  serta  para pengungsi yang jumlahnya jutaan  yang hidupnya jelas-jelas sangat menyedihkan dan mengenaskan.

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, Ketua PP Muhammadiyah.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Cetak Biru Toleransi dan Batas Teologis dalam Islam Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya....

Suara Muhammadiyah

8 August 2026

Wawasan

Oleh: Cristoffer Veron P, Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jetis Yogyakarta. Mahasiswa Progra....

Suara Muhammadiyah

3 December 2025

Wawasan

Sinematografi Kultumsinema: Sebuah Wakaf Literasi Oleh: Khafid Sirotudin Seniman dan budayawan ter....

Suara Muhammadiyah

18 March 2025

Wawasan

Meneladan Semangat Jihad Para Syuhada Oleh: Mohammad Fakhrudin Bagi bangsa Indonesia bulan Novembe....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Wawasan

Ketika Pikiran Mencari Pembenaran, Bukan Kebenaran: Memahami Confirmation Bias dan Pentingnya T....

Suara Muhammadiyah

20 August 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah