KADIS: Merintis Gerakan Satu Ranting Satu Kader Kesehatan

Suara Muhammadiyah

4 August 2026

111
Istimewa

Istimewa

KADIS: Merintis Gerakan Satu Ranting Satu Kader Kesehatan

Oleh: Sri Sunarti, MPH, Ph.D., Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur dan Ketua Tim PKM BIMA

Kader tidak selalu lahir dari ruang perkaderan formal. Kader dapat tumbuh dari ruang kelas, lingkungan sekolah, masjid, dan komunitas tempat nilai-nilai Islam dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seorang anak mampu menjaga dirinya, mengajak temannya menjalani kehidupan yang sehat, dan menggunakan media digital untuk menyebarkan kebaikan, sesungguhnya proses kaderisasi telah dimulai.

Pemikiran tersebut menjadi dasar pengembangan Kader Digital Islam Sehat (KADIS). KADIS bukan sekadar peserta pelatihan kesehatan, melainkan kader sebaya yang dipersiapkan untuk mengintegrasikan nilai Islam, pengetahuan kesehatan, kemampuan komunikasi, dan kecakapan digital dalam gerakan dakwah yang membumi.

Pencegahan perilaku merokok dipilih sebagai pintu masuk kaderisasi karena rokok masih menjadi persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Rokok konvensional maupun rokok elektrik tidak hanya membahayakan penggunanya, tetapi juga orang lain yang terpapar asap dan aerosolnya. 

Pada saat yang sama, promosi rokok elektrik semakin mudah menjangkau generasi muda melalui media sosial.

Anak-anak tidak cukup hanya diberi informasi bahwa merokok berbahaya. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk menolak ajakan merokok, memilih informasi kesehatan yang benar, mengingatkan teman dengan cara yang santun, dan menghasilkan pesan digital yang menarik. 

Di sinilah KADIS mengambil peran sebagai kader kesehatan sekaligus kader dakwah digital.

Dari Sekolah Menuju Ranting

KADIS dapat dikembangkan sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan gagasan “Satu Ranting Satu Kader Kesehatan.”

Setiap ranting Muhammadiyah diharapkan memiliki sekurang-kurangnya seorang kader yang memahami persoalan kesehatan masyarakat dan mampu menggerakkan edukasi kesehatan di lingkungannya.

Gerakan ini dapat dimulai dari persoalan yang nyata dan dekat dengan masyarakat, yaitu pencegahan perilaku merokok. Kader yang telah memperoleh pelatihan dapat mengedukasi keluarga, teman sebaya, jamaah masjid, dan warga di lingkungan ranting mengenai bahaya rokok konvensional dan rokok elektrik.

Ranting merupakan struktur Persyarikatan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, keberadaan kader kesehatan di setiap ranting dapat memperkuat fungsi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang menghadirkan solusi atas persoalan umat. Ranting tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan organisasi, tetapi juga menjadi pusat edukasi, pemberdayaan, dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Gagasan satu ranting satu kader kesehatan tidak harus dimulai dengan program yang besar. Gerakan ini dapat diawali dengan memilih seorang kader, memberikan pelatihan dasar, menetapkan tugas, menyediakan materi edukasi, serta melakukan pendampingan secara berkala. 

Dari satu kader dapat tumbuh kelompok-kelompok kecil yang menggerakkan sekolah, masjid, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Pengalaman Awal Pembentukan KADIS

Upaya awal pengembangan KADIS dilaksanakan di SD Muhammadiyah 4 Terpadu Samarinda pada Jumat, 31 Juli 2026. 

Kegiatan tersebut menghasilkan terbentuknya 10 Kader Digital Islam Sehat yang telah memperoleh Surat Tugas dari Kepala Sekolah.

Surat Tugas menjadi bentuk pengakuan dan penguatan kelembagaan terhadap peran KADIS. Para kader tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi memperoleh amanah untuk menjadi teladan, menyampaikan edukasi kepada teman sebaya, menggunakan media digital secara bertanggung jawab, serta mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat dan bebas rokok.

Materi pelatihan meliputi bahaya rokok konvensional dan elektrik, cara menolak ajakan merokok, komunikasi efektif, literasi digital, serta nilai Islam dalam menjaga tubuh. Para siswa juga dilatih menyampaikan pesan kesehatan menggunakan bahasa yang sederhana, ramah, dan mudah dipahami oleh anak seusianya.

Pembentukan KADIS didukung oleh Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Terpadu Samarinda, Zainal Arifin, M.Pd.I.; Wakil Kepala Sekolah, Muhammad Nur Mannan, M.Pd.; serta Penanggung Jawab Usaha Kesehatan Sekolah, Darmayanti, A.Md.Kep.

Program ini dilaksanakan oleh Tim PKM BIMA Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur yang terdiri atas Sri Sunarti, MPH, Ph.D. sebagai ketua; Jubaidi, M.M. dan Ns. Andri Praja Satria, S.Kep., M.Sc. sebagai anggota; serta mahasiswa Rizka Amelia, Risma Apriliansyah, dan Muhammad Iqbal, Muhammad Raihan. 

Dari Edukasi Menuju Kebijakan

Gerakan kesehatan akan lebih kuat apabila edukasi diikuti dengan kebijakan. Oleh karena itu, pembentukan KADIS disertai dengan kegiatan advokasi kepada pimpinan sekolah mengenai pentingnya Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Advokasi tersebut menghasilkan Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang Kawasan Tanpa Rokok, yang mencakup pengendalian rokok konvensional dan rokok elektrik. SK tersebut menjadi landasan bagi sekolah untuk menetapkan larangan, pembagian tanggung jawab, mekanisme pengawasan, dan kegiatan edukasi secara berkelanjutan.
Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 1 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan diperkuat oleh Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Lingkungan pendidikan termasuk kawasan yang harus dilindungi dari aktivitas merokok. Langkah tersebut juga merupakan implementasi nilai Islam dan pandangan Muhammadiyah mengenai perlindungan kesehatan. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 6/SM/MTT/III/2010 menetapkan bahwa merokok hukumnya haram karena mengandung kemudaratan serta membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Muhammadiyah juga telah menegaskan keharaman rokok elektrik berdasarkan pertimbangan kemaslahatan umum dan keselamatan jiwa. Pencegahan merokok dengan demikian bukan hanya agenda kesehatan, melainkan bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar. 

Menjaga kesehatan merupakan bentuk syukur sekaligus tanggung jawab manusia dalam memelihara tubuh sebagai amanah Allah Swt.

Kaderisasi yang Menggerakkan

Keberhasilan kaderisasi tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. Kaderisasi harus menghasilkan pribadi yang memiliki kesadaran, pengetahuan, keterampilan, keteladanan, dan kemauan untuk menggerakkan orang lain.

Karena itu, KADIS perlu dibina secara berkelanjutan. Kader memerlukan pendampingan dari sekolah, keluarga, perguruan tinggi, Pimpinan Ranting Muhammadiyah, dan organisasi otonom. Materi kaderisasi juga dapat dikembangkan ke berbagai persoalan kesehatan lain, seperti gizi, kesehatan lingkungan, aktivitas fisik, kesehatan mental, dan penggunaan media digital yang sehat.

KADIS merupakan ikhtiar kecil dengan kemungkinan dampak yang besar. Gerakan ini dimulai dari sepuluh siswa, tetapi dapat tumbuh menjadi model kaderisasi kesehatan berbasis sekolah dan ranting. Jika setiap ranting memiliki seorang kader kesehatan yang aktif, Muhammadiyah akan mempunyai jaringan penggerak kesehatan yang dekat dengan masyarakat dan memahami persoalan di lingkungannya.

Dari sekolah, kader dibentuk. Dari ranting, gerakan diperluas. Dari satu kader, manfaat dapat menjangkau banyak keluarga. Inilah semangat KADIS dalam merintis gerakan Satu Ranting Satu Kader Kesehatan: membangun generasi yang sehat akhlaknya, sehat tubuhnya, dan cerdas digitalnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muslim Mukmin yang Berpartisipasi dalam Organisasi Kemasyarakatan dan Keagamaan Oleh: Mohammad Fakh....

Suara Muhammadiyah

1 November 2025

Wawasan

Membangun Tradisi Membaca Dan Menulis Oleh: M. Husnaini, S.Pd.I., M.Pd.I., Ph.D. Menulis, Harus Di....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Wawasan

Lebaran Mengajarkan Kita Arti Rindu, Maaf, dan Kasih Sayang Oleh: Furqan Mawardi Ketua Lembaga Peng....

Suara Muhammadiyah

31 March 2025

Wawasan

Subuh Bersama Mas Kiai Mu'ti : Antara Takdir, Sains, dan Rahim Ibu Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua ....

Suara Muhammadiyah

29 June 2026

Wawasan

Konferensi XIII: Berdirinya Muhammadiyah Tiga Kabupaten dan PMW Lampung Oleh: Aditya Nurrohman, Mah....

Suara Muhammadiyah

18 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah