YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebagai korporasi bisnis kebanggaan warga Persyarikatan, Suara Muhammadiyah (SM) kembali menegaskan keberpihakannya kepada produk-produk UMKM. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Untuk menjadi korporasi bisnis yang besar dan kuat, sudah barang tentu diperlukan sinergi dari berbagai pihak. Maka konsep bisnis berjamaah yang diusung oleh SM menjadi sangat relevan di era keterbukaan seperti sekarang.
Melalui Direktur Keuangan, Bisnis dan IT Suara Muhammadiyah, Ana Fitriana, S.Kom, MBA, ia mengatakan bahwa SM membuka pintu selebar-lebarnya bagi para pelaku UMKM untuk memasarkan produknya di outlet-outlet bisnis milik SM. Salah satunya adalah Toko Oleh-Oleh 1915 yang belum lama ini diresmikan sebagai unit bisnis ritel di bawah holding PT. Syarikat Cahaya Media.
Di hadapan seluruh pelaku UMKM, Ana Fitriana menjelaskan, ada banyak pilihan bisnis yang dapat dikerjasamakan antara SM dengan para pelaku UMKM. Mengingat SM sudah memiliki ekosistem bisnis yang kuat dan saling menopang satu sama lain. Mulai dari yang terbaru, yaitu Toko Oleh-Oleh 1915 yang menjual 100 persen produk-produk UMKM. Kemudian ada Hotel SM Tower Malioboro, SM Tower Berau, Aisyi Tower Klaten, hingga Minang Inn Malioboro yang di setiap lobby dan kamarnya menyediakan produk-produk UMKM. Sehingga setiap orang yang datang menginap di hotel milik SM dapat langsung memesan dan membeli produk-produk UMKM yang tersedia.
“Inilah bentuk komitmen kami kepada UMKM agar semakin maju dan naik kelas,” ujar perempuan yang berhasil memperoleh gelar Master of Business Administration dari Gajah Mada University tersebut.
Ana Fitriana mengatakan bahwa kehadiran ritel bisnis SM yang tersebar di berbagai daerah, tidak lain merupakan wujud keseriusan SM memberdayakan UMKM yang dalam perjuangannya untuk tetap survive tidak mudah. Mereka harus berhadapan dengan konglomerasi bisnis raksasa dengan modal tak terhingga. Sehingga keberadaan UMKM perlu untuk terus dibela dan diperjuangkan, karena menyangkut harkat hidup 97 persen rakyat Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada usaha skala mikro kecil.
Dalam bidang property, SM juga terbuka untuk menjalin kerjasama dengan UMKM yang bergerak di sektor penyediaan bahan bangunan seperti paving, konblok, dan lain-lain. “Untuk sektor property, siapapun bisa bekerjasama dengan SM melalui SM Property yang rutin membangun hotel dan perumahan Muhammadiyah,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ana Fitriana menyampaikan optimismenya terhadap masa depan UMKM di Indonesia. Bersama pelaku UMKM, SM yakin dapat menjadi rumah besar bagi UMKM yang secara kualitas maupun kuantitas terus tumbuh dan berkembang.
Bagi SM, perkara bisnis bukan hal baru. Hal ini sudah dimulai sejak era Kiai Dahlan sampai sekarang, di bawah kepemimpinan Deni Asy’ari MA, Dt. Marajo. Berangkat dari situasi pademi Covid-19 yang memukul banyak sektor usaha, SM berikhtiar keluar dari situasi sulit dan kurang menguntungkan tersebut dengan mendirikan berbagai unit bisnis strategis. Mulai dari Logmart, bisnis ritel yang bergerakkan dari bawah. Kemudian ada Bulogmu, yang kehadirannya untuk menyediakan kebutuhan krusial masyarakat seperti beras, minyak, tepung, hingga air kemasan yang semuanya merupakan produk UMKM.
Berselang tidak lama setelah itu, berdiri Hotel SM Tower Malioboro di jantung Kota Jogja. Hotel pertama milik Persyarikatan itu 100 persen pembangunannya ditopang dari investasi para jamaah. Dan unit bisnis terbaru SM adalah Toko Oleh-Oleh 1915 yang menjual 100 persen produk UMKM.
“SM sangat mensupport program-program dari LP UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini. Dan kami sangat senang dengan adanya Business Pitching dan Business Matching yang mempertemukan UMKM dengan bisnis ritel SM yang siap memfasilitasi pemasaran dari produk-produk UMKM,” tutupnya melalui sambungan zoom meeting. (diko)

