Tidak Harus Berupa Harta, tapi Menyesuaikan dengan Sang Penerima

Suara Muhammadiyah

3 March 2026

522
Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ramadhan menjadi kesempatan untuk bersedekah. “Kita ingin meniru Rasulullah Muhammad Saw,” kata Abdul Mu’ti, menyebut sosoknya sebagai manusia paling dermawan.

“Dan kedermawanan Rasulullah itu semakin meingkat di bulan Ramadhan,” sambung Mu’ti, Ahad (1/3) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.

Di situlah titik picu geliat umat Islam memasifkan untuk bersedekah di bulan Ramadhan. Lebih jauh lagi, bersedekah untuk orang berpuasa, maka pahalanya sama dengan mereka yang berpuasa.

“Kita ini harus memperbanyak sedekah, terutama kepada mereka yang berpuasa,” ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) tersebut.

Sungguh betapa substansialnya ajaran sedekah, tak pelak banyak sekali ditemukan tradisi yang berkaitan dengan sedekah. Sebagai permisalan, kegiatan santunan. Yang dikemas sedemikian rupa dengan tujuan untuk bersedekah.

“Sebagian besarnya adalah santunan untuk kaum dhuafa, orang-orang miskin, anak-anak yatim, dan kaum yang lemah lainnya,” beber Mu’ti.

Bentuknya berupa makanan siap saji. Ada di mana-mana, di berbagai tempat. Namun demikian itu yang terjadi justru terbuang sia-sia.

“Kadang-kadang acara berbuka puasa bersama juga gitu. Makanannya berlebih sehingga seringkali terbuang,” ucapnya.

Hal tersebut harus menjadi renungan bersama. “Apakah sedekahnya harus berupa makanan?” tanya Mu’ti. Apakah tidak bisa dalam bentuk yang lain?

Di samping itu, ada santunan yang berbentuk charity. Yakni tindakan sukarela berupa pemberian santunan dan bantuan, yang dalam beberapa hal boleh jadi berbentuk bukan sesuatu yang diperlukan oleh yang menerima.

“Itu lebih banyak dari sudut pandang mereka yang memberi daripada sudut pandang mereka yang menerima,” ujar Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Mu’ti mengingatkan bersedekah itu baik. Namun, perlu diingat kalau bersedekah harus menyesuikan batas kemampuan. “Berusaha agar sedekah itu tidak menjadi mubazir,” ajaknya, dengan tegas.

Lain sisi lagi, dalam perspektif kemanfaatan sang penerima. Bersedekah juga jangan sampai, tekan Mu’ti, memberi tidak sesuai dengan yang diperlukan oleh penerima.

“Dan siapa yang paling memerlukan, sehingga nilai manfaat dari sedekah kita menjadi lebih besar,” tuturnya, mencontohkan sedekah yang bersifat investasi; beasiswa di bulan Ramadhan, bisa juga dalam kegiatan santunan.

“Atau kita memberikan isentif bagi guru, agar mereka lebih semangat dan sebagainya (yang bersifat investasi). Itu perlu menjadi bagian dari pilihan dan model sedekah yang kita tunaikan selama bulan Ramadhan,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) melalui Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKES) menga....

Suara Muhammadiyah

31 July 2025

Berita

TURI, Suara Muhammadiyah – Keluarga besar Muhammadiyah Turi menghadirkan Talqis Nurdianto, Ang....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) Dr. Saidul Amin, MA., me....

Suara Muhammadiyah

9 December 2023

Berita

LAMPUNG, Suara Muhammadiyah - Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen. Pol. Dr....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Berita

SERANG, Suara Muhammadiyah – Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah, Deni ....

Suara Muhammadiyah

17 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah