Women Empowerment Camp, Soroti Isu Pernikahan Dini dan Sunat Perempuan

Foto Istimewa
Foto Istimewa

TANGERANG, Suara Muhammadiyah -Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) melalui Bidang Pengarusutamaan Gender (PUG) menyelenggarakan pelatihan Women Empowerment Camp (WEC), pada Jumat (6/11/2026) bertempat di Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Banten.

WEC menggelorakan tema “Phenomenon of Children Having Children and the Tradition of Female Genital Mutilation.” Tema ini diangkat sesuai dengan fokus bidang PUG PP IPM dalam menyosialisasikan langkah preventif dalam isu pelukaan dan pemotongan genital perempuan (P2GP) serta isu pernikahan dini.

Ketua Umum PP IPM, Dany Rahmat Muharram menegaskan bahwa IPM tidak hanya melakukan penjenamaan pengarusutamaan gender berasaskan slogan semata. Dany menjelaskan IPM hadir melalui ikhtiar ideologis dalam memberantas penindasan pada perempuan.

“IPM menegaskan sebuah premis tanpa tawar-menawar, kami memandang pengarusutamaan gender bukan hanya slogan, namun sebuah langkah ideologis dalam meruntuhkan segala bentuk penindasan, marjinalisasi, dan pembatasan potensi berdasarkan gender,” ucapnya.

Dany juga mengajak partisipasi kader secara kolektif di lini sektor dalam rangka membongkar stereotipe terhadap keikutsertaan perempuan di ruang publik.

“Ipmawati sekalian bukanlah figuran yang semata dipajang dalam sebuah etalase di kelompok organisasi, perempuan memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin tanpa harus skeptis terhadap struktur yang mungkin patriarkis,” tuturnya.

Di samping itu, Zakaria Syafei selaku Sekretaris Umum Muhammadiyah Banten mengapresiasi agenda WEC yang diprakarsai oleh PP IPM, dalam sambutannya ia mendukung penuh pelaksanaan kegiatan pemberdayaan perempuan ini.

“PW Muhammadiyah Banten mengapresiasi inisiatif dari IPM telah melaksanakan forum luar biasa ini, menurut pandangan kami melalui perspektif historis perjalanan manusia. Pembahasan mengenai pemberdayaan perempuan merupakan perkara yang teramat krusial dan sepenuhnya selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Islam,” tuturnya.

Zakaria menjelaskan kondisi perempuan pada masa jahiliyah yang hidup dengan penuh penindasan dan tidak dianggap manusia, senada dengan yang disampaikan Dany, Zakaria juga mendorong agar perempuan berdaya dan berani ambil peran di tengah masyarakat.

“Keterpinggiran perempuan berakar dari adat dan lingkungan yang mengekang, termasuk pandangan pragmatis masyarakat seperti di Kota Serang yang meremehkan pendidikan formal demi sekadar mencari uang (glati picis). Pola pikir kolot ini harus diubah melalui pelatihan agar perempuan berdaya. Di era modern, perempuan dituntut berkiprah di ruang publik dan menjadi pemimpin, sebab kemampuan memimpin merupakan hak dan potensi setiap manusia tanpa memandang gender,” tutupnya.

Project Manager Voice sekaligus Ketua PP IPM Bidang PUG, Fajry Annur dalam sambutan menjelaskan pelaksanaan kegiatan ini sebagai ajang pemberdayaan perempuan di tingkat pelajar yang bukan hanya sekadar seremonial, melainkan upaya sistematis membangun agen perubahan di daerah.

“Hari ini kita belajar agar besok kita mampu mengajarkan; kita menguatkan kapasitas agar setelah kembali ke daerah, kita mampu menguatkan orang lain. Masa depan anak tidak boleh ditentukan oleh perkawinan yang terlalu dini. Tubuh anak perempuan harus dihormati dan dilindungi, serta suara mereka wajib didengar dalam setiap keputusan yang menyangkut hidupnya," tegasnya.

Fajry juga menyoroti bahwa pengentasan isu sensitif seperti perkawinan anak dan sunat perempuan menuntut konsistensi serta keberanian untuk terus mengedukasi masyarakat secara berkelanjutan, ia juga mengajak kolaborasi multipihak dalam menangani isu ini.

Di sisi lain, selaku tuan rumah. PW IPM Banten melalui sambutan Nur Ida Ersafabanyo menyampaikan harapannya dalam pelaksanaan WEC di Banten kali ini.

“Forum ini menyoroti dua isu mendesak di Banten, khususnya Lebak dan Pandeglang: sunat perempuan dan tingginya angka pernikahan dini. Kami berharap ruang diskusi ini mampu menumbuhkan kepemimpinan serta memperluas kesadaran generasi muda mengenai kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan, sehingga melahirkan dampak positif yang berkelanjutan,” tuturnya

Diikuti oleh 35 peserta terbaik delegasi masing-masing daerah di Indonesia, WEC akan berlangsung pada 6-8 November mendatang, peserta akan terlibat aktif dalam kegiatan inkubasi berupa materi, diskusi, dan perumusan rekomendasi. (Fran)