Yahya atau Yohanes? Menelusuri Jejak Nama dan Keistimewaan Sang Nabi dalam Lintas Kitab Suci
Oleh: Donny Syofyan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Diskusi mengenai keaslian sejarah dalam kitab suci sering kali bermuara pada interpretasi kata. Salah satu poin yang kerap menjadi perdebatan di kalangan kritikus Al-Quran adalah kisah mengenai Nabi Zakaria saat beliau menerima kabar gembira tentang kelahiran putranya, Yahya (yang dalam tradisi Kristiani dikenal sebagai Yohanes Pembaptis).
Persoalan utamanya terletak pada klaim bahwa nama "Yahya" belum pernah digunakan sebelumnya. Bagi para kritikus, pernyataan ini dianggap sebagai celah ketidakakuratan sejarah, mengingat nama Yohanes atau variasi etimologisnya sudah muncul dalam catatan Alkitab jauh sebelum masa tersebut. Namun, jika kita menyelami lebih dalam melalui berbagai lensa terjemahan dan analisis bahasa Arab klasik, kita akan menemukan bahwa narasi Al-Quran membawa pesan yang jauh lebih subtil dan mendalam daripada sekadar urusan penamaan teknis.
Spektrum Interpretasi Melalui Ragam Terjemahan
Untuk memahami kompleksitas ayat ini, kita harus melihat bagaimana para mufasir dan penerjemah menangkap esensi bahasa Arab ke dalam bahasa lain. Perbedaan pilihan kata dalam terjemahan mencerminkan kekayaan makna yang terkandung dalam teks aslinya.
Pertama, jika kita merujuk pada terjemahan Shakir, fokus utamanya adalah pada aspek "kesetaraan." Dalam versinya, ditekankan bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang yang "setara" dengan Yahya sebelum kehadirannya. Interpretasi ini menggeser fokus dari sekadar label nama menuju kualitas personal atau derajat spiritual sang nabi. Ini menyiratkan bahwa keunikan Yahya bukan pada fonetik namanya, melainkan pada integritas dan esensi dirinya sebagai hamba Allah.
Kedua, terjemahan Abdul Haleem menawarkan perspektif yang lebih spesifik mengenai sumber penamaan. Ia menerjemahkan bahwa Tuhan "memilih" nama ini untuk seseorang yang belum pernah ada sebelumnya. Di sini muncul nuansa teologis yang menarik: keunikan tersebut mungkin terletak pada fakta bahwa Tuhanlah yang memberikan nama itu secara langsung melalui wahyu, bukan melalui tradisi keluarga atau keinginan orang tua. Jadi, kebaruan di sini merujuk pada legitimasi ketuhanan dalam proses penamaan tersebut.
Ketiga, terjemahan Yusuf Ali memberikan penekanan pada aspek "distorsi" atau "keistimewaan." Yusuf Ali berpendapat bahwa tidak ada seorang pun dengan nama tersebut yang pernah diberikan tingkat kemuliaan atau distingsi seperti yang dianugerahkan kepada Yahya. Dengan kata lain, nama itu mungkin saja sudah eksis, tetapi derajat spiritual yang melekat pada "Yahya" dalam konteks ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kenabian.
Akar Linguistik: Membedah Istilah Samiyah
Kunci utama dari seluruh perdebatan ini terletak pada istilah bahasa Arab Samiyah. Dalam struktur kalimat “lam naj’al lahu min qablu samiyya,” kata samiyya memiliki ambiguitas yang indah sekaligus menantang. Secara harfiah, kata ini memang bisa berarti "nama" (berakar dari kata ism). Namun, dalam penggunaan bahasa Arab klasik, sami juga bermakna sesuatu yang sebanding, setara, atau memiliki karakteristik yang serupa.
Menariknya, Al-Quran hanya menggunakan konstruksi kalimat lahu samiyah di dua tempat. Selain pada kisah Nabi Yahya, frasa ini muncul dalam Surah Maryam ayat 65 yang merujuk pada keagungan Allah: "Hal ta’lamu lahu samiyah?" yang berarti "Apakah kamu mengetahui seseorang yang setara dengan-Nya?". Dalam konteks ketuhanan, semua ulama sepakat bahwa hal ini merujuk pada ketidaktandingan Allah; tidak ada yang setara dengan-Nya.
Jika kita menerapkan logika paralelisme ini pada Nabi Yahya, maka ayat tersebut tidak sedang membicarakan ketiadaan orang yang bernama Yahya di masa lalu, melainkan menyatakan bahwa Yahya memiliki profil spiritual—seperti ketaatan yang luar biasa, kesucian sejak kecil, dan asketisme (pelepasan duniawi)—yang tidak ada tandingannya di antara orang-orang sebelumnya. Kesejajaran linguistik dalam satu surah yang sama ini merupakan argumen kuat bahwa Al-Quran sedang membicarakan kualitas eksistensial, bukan sekadar identitas linguistik.
Perspektif Etimologi dan Perbandingan Lintas Bahasa
Para peneliti di Islamic Awareness telah melakukan penelusuran mendalam mengenai asal-usul nama ini. Secara etimologis, terdapat argumen kuat bahwa "Yahya" dalam bahasa Arab Al-Quran secara teknis adalah nama yang berbeda dari "Yohanan" atau "Yohanna" dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Meskipun keduanya merujuk pada sosok yang sama dalam sejarah kenabian, struktur linguistiknya memiliki akar yang berbeda. "Yahya" dalam bahasa Arab berkaitan dengan makna "kehidupan" atau "ia yang hidup."
Namun, kita juga harus mempertimbangkan konteks yang ada dalam Perjanjian Baru (Injil Lukas). Di sana diceritakan bahwa ketika keluarga Zakaria hendak menamai bayi tersebut, sempat terjadi protes karena tidak ada anggota keluarga besar mereka yang memiliki nama Yohanes. Ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Yahudi saat itu, penamaan biasanya mengikuti garis keturunan. Maka, ketika Al-Quran menyebutkan keunikan nama tersebut, hal itu bisa dipahami sebagai konfirmasi terhadap narasi Injil bahwa dalam silsilah keluarga Zakaria, nama tersebut memang benar-benar baru dan unik, atau bahwa nama "Yahya" (sebagai entitas bahasa Arab) memang belum pernah digunakan sebelum Al-Quran memperkenalkannya.
Rekonsiliasi Historis dan Teologis
Ketidakakuratan sejarah yang dituduhkan oleh para kritikus sebenarnya berakar pada pemahaman yang terlalu sempit terhadap teks. Jika kita melihatnya sebagai sebuah "distingsi spiritual," maka tantangan historis tersebut gugur dengan sendirinya. Al-Quran tidak sedang berfungsi sebagai buku direktori nama kuno, melainkan sebagai kitab petunjuk yang menonjolkan mukjizat dan keagungan karakter para nabi.
Penetapan nama oleh Tuhan secara langsung adalah bentuk kehormatan tertinggi. Dalam kasus Yahya, Tuhan tidak hanya memberikan janji tentang seorang putra kepada seorang ayah yang sudah sangat tua dan istri yang mandul, tetapi Tuhan juga membungkus janji itu dengan identitas yang eksklusif. Eksklusivitas ini bisa berarti:
- Keunikan Nama: Tidak ada orang sebelum dia yang dinamai "Yahya" dengan akar kata dan makna spesifik yang dimaksud Tuhan.
- Keunikan Karakter: Tidak ada figur yang memiliki kombinasi kualitas kenabian seperti dirinya sebelum masa itu.
- Keunikan Inisiasi: Tidak ada yang menerima nama tersebut melalui prosedur wahyu yang serupa.
Kesimpulan
Pada akhirnya, kerumitan interpretasi ini menunjukkan bahwa Al-Quran menggunakan bahasa yang sangat presisi namun kaya makna. Melalui paralelisme dalam Surah Maryam, kita diajak untuk melihat Yahya sebagai sosok yang memiliki keunggulan yang tidak tertandingi pada masanya.
Tuduhan bahwa Tuhan melakukan kesalahan sejarah hanya akan muncul jika kita memaksakan satu definisi kaku pada kata samiyya. Namun, dengan memahami luasnya cakupan bahasa Arab dan konteks teologis di mana nama itu diberikan, kita dapat melihat bahwa Al-Quran sebenarnya sedang merayakan keunikan luar biasa dari Nabi Yahya. Ia adalah nabi yang namanya dipilihkan langsung oleh Langit, dan karakternya dibentuk sebagai teladan yang tak tertandingi sebelum kedatangan al-Masih. Dengan demikian, tidak ada kontradiksi antara sejarah dan teks suci; yang ada hanyalah kedalaman makna yang menunggu untuk digali lebih jauh oleh mereka yang berpikir kritis dan terbuka.

