Ashabul Kahfi (2); Misteri Angka 300/309

Publish

4 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
103
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Ashabul Kahfi (2); Misteri Angka 300/309 

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kisah Ashabul Kahfi atau para penghuni gua bukan sekadar dongeng pengantar tidur; ia adalah sebuah narasi epik tentang iman, perlindungan ilahi, dan tantangan terhadap logika waktu. Salah satu perdebatan paling menarik yang muncul dari Surah Al-Kahfi adalah mengenai durasi waktu mereka tertidur. Apakah mereka berada di sana selama 300 tahun? Ataukah 309 tahun? Mengapa Al-Qur'an menyajikan angka ini dengan cara yang unik, dan apa implikasinya terhadap cara kita memahami teks suci?

Dalam Surah Al-Kahfi ayat 25, Allah berfirman: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.” Namun, bagi para pengamat teks yang teliti, ada sesuatu yang menarik dalam terjemahan kontemporer, seperti karya M.A.S. Abdel Haleem. Ia menambahkan frasa "[Sebagian orang berkata]" di depan angka tersebut.

Secara harfiah, dalam teks Arab aslinya, frasa tersebut tidak ada. Secara tekstual, ayat tersebut seolah-olah merupakan pernyataan langsung dari Tuhan. Namun, penambahan kurung oleh para penerjemah modern bukanlah tanpa alasan. Ini adalah hasil dari pergulatan intelektual para mufasir klasik selama berabad-abad mengenai satu pertanyaan krusial: Apakah angka 300 dan 309 itu merupakan fakta sejarah dari Allah, ataukah Allah sedang mengutip klaim manusia yang beredar pada saat itu?

Perspektif Qatada: Mengutip versus Menyatakan

Qatada, seorang ulama besar dari abad kedua Hijriah, menawarkan perspektif yang sangat mencerahkan. Baginya, ayat 25 bukanlah Allah sedang menetapkan waktu tidur mereka secara definitif, melainkan Allah sedang menceritakan apa yang diperdebatkan oleh para pengikut kitab sebelumnya (Ahli Kitab) atau masyarakat di masa itu.

Argumen Qatada bersandar pada ayat berikutnya (ayat 26) yang berbunyi: "Katakanlah: 'Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal'..." Jika Allah sudah menyatakan secara definitif di ayat 25 bahwa waktunya adalah 309 tahun, mengapa di ayat 26 Ia memerintahkan Nabi Muhammad untuk berkata bahwa Allah-lah yang paling tahu? Secara logika retoris, perintah untuk menyerahkan pengetahuan kembali kepada Allah mengisyaratkan bahwa angka yang disebutkan sebelumnya adalah subjek perdebatan manusia, bukan keputusan akhir dari Wahyu.

Dalam pandangan ini, pesan yang ingin disampaikan Allah adalah: "Orang-orang di luar sana berkata mereka tinggal 300 atau 309 tahun. Katakanlah wahai Muhammad, jangan terjebak dalam angka-angka itu karena hanya Allah yang memegang kunci pengetahuan absolut tentang hal tersebut."

Namun, dunia tafsir bukanlah ruang yang monolitik. Pandangan progresif Qatada ini mendapatkan tantangan dari raksasa tafsir lainnya seperti At-Tabari dan Ibnu Katsir. At-Tabari, dalam metodologinya yang ketat, cenderung menolak penafsiran bahwa ayat tersebut hanyalah kutipan.

Kekhawatiran utama At-Tabari adalah masalah preseden. Beliau berargumen bahwa jika kita menerima satu ayat sebagai "kutipan tanpa label" (di mana Allah mengutip ucapan manusia tanpa secara eksplisit mengatakan "Mereka berkata"), maka kita membuka celah untuk meragukan kepastian informasi di bagian Al-Qur'an lainnya. Namun, jika kita melihat struktur Al-Qur'an secara keseluruhan, gaya bahasa seperti ini sebenarnya tidaklah asing. Al-Qur'an sering kali merekam dialog, keberatan para penentang, dan klaim orang-orang kafir atau Ahli Kitab, lalu memberikan bantahan atau instruksi kepada Nabi Muhammad tentang bagaimana meresponsnya.

Salah satu aspek yang paling memukau dari angka "300 ditambah 9" adalah harmoni astronomisnya. Di dunia ini, terdapat dua sistem penanggalan utama: Solar (Matahari) dan Lunar (Bulan).

Menariknya, 300 tahun dalam kalender Solar secara matematis setara dengan kira-kira 309 tahun dalam kalender Lunar. Hal ini terjadi karena tahun lunar lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan tahun solar. Selama rentang tiga abad, perbedaan ini terakumulasi hingga menjadi 9 tahun.

Melihat ini, sebagian mufasir menganggap ini sebagai mukjizat ilmiah—bahwa Al-Qur'an mengakui kedua sistem kalender tersebut. Namun, jika kita mengikuti logika Qatada, angka ini justru menunjukkan betapa detailnya perdebatan manusia saat itu; satu kelompok menggunakan standar matahari, kelompok lain menggunakan standar bulan, dan Al-Qur'an merangkum perdebatan mereka sebelum akhirnya mengarahkan fokus kita kembali kepada kemahatahuan Tuhan.

Tantangan Sejarah dan Arkeologi

Jika kita mencoba membawa kisah ini ke ranah sejarah empiris, kita akan menghadapi dilema. Berdasarkan catatan Kristen awal mengenai "Seven Sleepers of Ephesus", tokoh-tokoh yang sering dikaitkan dengan Ashabul Kahfi ini melarikan diri dari penganiayaan Kaisar Decius (sekitar 249–251 M) dan terbangun pada masa Kaisar Theodosius II (sekitar 408–450 M).

Jika kita menghitung selisih waktu antara kedua penguasa Romawi tersebut, durasinya hanya sekitar 200 tahun, bukan 300 apalagi 309. Ketidaksesuaian historis ini sering kali menjadi titik kritik bagi mereka yang ingin membenturkan teks suci dengan data arkeologi.

Namun, jika kita menerima tafsir Qatada, persoalan historis ini selesai dengan sendirinya. Al-Qur'an tidak sedang memvalidasi bahwa durasinya harus 300 tahun, melainkan sedang menunjukkan bahwa manusia pun berselisih paham tentang sejarah mereka sendiri. Fokus Al-Qur'an bukan pada kronologi presisi yang memuaskan sejarawan, melainkan pada esensi dari peristiwa tersebut.

Mengapa diskusi ini menjadi begitu krusial bagi umat Islam modern? Bagi banyak orang, meyakini durasi 300 tahun secara harfiah adalah ujian keimanan. Mereka berargumen, "Allah Maha Kuasa, Dia bisa menidurkan manusia selama jutaan tahun jika Dia mau." Tentu saja, secara teologis, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Namun, bagi mereka yang memiliki kecenderungan berpikir saintifik dan rasional, penekanan berlebih pada aspek durasi fisik sering kali mengaburkan pesan utama. Jika kita terjebak pada perdebatan "bagaimana tubuh mereka tidak hancur selama 300 tahun" atau "bagaimana sistem biologis mereka bekerja", kita mungkin kehilangan esensi dari mengapa kisah ini diceritakan.

Pesan utama Ashabul Kahfi bukanlah tentang pemecahan rekor tidur terlama. Pesan utamanya bersifat moral dan teologis. Pertama, keteguhan iman; tentang bagaimana sekelompok anak muda berani berdiri teguh melawan tirani demi mempertahankan keyakinan mereka. Kedua, perlindungan Ilahi; tentang bagaimana Allah menjaga hamba-hamba-Nya di tengah situasi yang mustahil. Ketiga, kehidupan setelah kematian; kisah ini adalah bukti kecil (protipe) tentang bagaimana Allah bisa membangkitkan manusia dari "tidur panjang" kematian.

Pada akhirnya, durasi tidur Ashabul Kahfi—apakah itu 200, 300, atau 309 tahun—adalah rahasia ilahi yang menurut Al-Qur'an sendiri, Allah-lah yang paling mengetahuinya. Dengan memahami bahwa angka-angka tersebut kemungkinan adalah kutipan atas pembicaraan manusia di masa itu, kita justru mendapatkan pelajaran yang lebih dalam tentang kerendahan hati intelektual.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam detail-detail teknis yang tidak menambah amal, melainkan fokus pada hikmah di baliknya. Apakah mereka tidur selama tiga abad atau dua abad, kekuasaan Allah tetap nyata, dan keberanian mereka tetap menjadi inspirasi. Kita diajak untuk melihat melampaui angka, menuju pada esensi ketauhidan dan kepasrahan kepada Zat yang menguasai waktu itu sendiri.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko LPCRPM PPM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Menyimak acara seminar via z....

Suara Muhammadiyah

26 February 2024

Wawasan

Orang Bilang Bencana Oleh: Mohammad Fakhrudin Orang bilang bencanaSastrawan bilang inspirasi:cerpe....

Suara Muhammadiyah

8 December 2025

Wawasan

Kerja Cerdas, Antara Makna Islami dan Ilusi Instan di Era Generasi Z Oleh: Rusydi Umar, Dosen FTI U....

Suara Muhammadiyah

29 September 2025

Wawasan

Mengenal Baitul Arqam dalam Muhammadiyah Baitul Arqam adalah suatu bentuk sistem perkaderan Muhamma....

Suara Muhammadiyah

15 April 2024

Wawasan

Menjadi Kader Muhammadiyah: Berorganisasi dengan Spirit dan Akhlak Rasulullah Oleh: Mohammad Nur Ri....

Suara Muhammadiyah

5 September 2025