SURABAYA, Suara Muhammadiyah — Dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi bagaimana nilai-nilai Islam hadir di tengah kehidupan masyarakat dan memberikan solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Pesan tersebut disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustad Muchamad Arifin, dalam acara Ngaji Aisyiyah (Ngasah) Dialog Sore TVMu Jatim, Kamis (24/9/2026).
Mengangkat tema “Dakwah Dekat, Komunitas Kuat, Umat Bermartabat”, dialog interaktif yang dipandu Ustadza Norma Setyaningrum bersama PCA Gubeng Surabaya tersebut berlangsung hangat, hidup, dan penuh antusiasme.
Dalam paparannya, Muchamad Arifin menjelaskan bahwa dakwah selama ini sering dipahami sebatas pengajian, majelis taklim, atau ceramah. Padahal, dakwah memiliki ruang yang jauh lebih luas, terutama ketika hadir langsung di tengah kehidupan masyarakat.
“Dakwah komunitas tidak cukup hanya dengan ceramah. Dakwah harus hadir di tengah persoalan umat, memahami masalahnya, mendampingi, kemudian menghadirkan solusi. Dengan begitu, dakwah tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mengangkat martabat umat,” jelasnya.
Menurutnya, setiap komunitas memiliki persoalan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendekatan dakwah tidak bisa hanya menggunakan satu cara. Dai perlu hadir lebih dekat, mendengar, membangun kepercayaan, dan bersama-sama mencari jalan keluar.
Ia kemudian menegaskan bahwa dakwah komunitas adalah dakwah yang membawa solusi, menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah; dakwah yang merangkul, bukan memukul; dakwah yang mengajak, bukan mengejek.
“Dakwah harus membuat masyarakat merasa didekati, bukan dijauhi; dirangkul, bukan dihakimi. Ketika dakwah hadir dengan kepedulian dan kebermanfaatan, masyarakat akan merasakan bahwa Islam benar-benar hadir membawa kebaikan,” ungkapnya.
Bagi Muchamad Arifin, kedekatan dakwah dengan masyarakat akan melahirkan komunitas yang kuat. Komunitas yang kuat pada akhirnya akan mampu membangun kemandirian dan meningkatkan martabat umat.
Karena itu, tema “Dakwah Dekat, Komunitas Kuat, Umat Bermartabat” bukan sekadar slogan, tetapi menggambarkan arah dakwah yang hadir untuk kehidupan nyata: mendekat kepada umat, memahami persoalan mereka, menghadirkan solusi, dan berjalan bersama menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Dialog Ngasah di TVMu Jatim tersebut menjadi ruang refleksi bahwa dakwah tidak hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga tentang apa yang dilakukan dan apa yang dirasakan manfaatnya oleh umat.
Dakwah akhirnya bukan hanya suara yang didengar, tetapi kebaikan yang dirasakan. Bukan sekadar mengajak, tetapi ikut berjalan bersama umat.

