Dari Dana Abadi Menuju Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah
Oleh: Muhammad Najmi, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
Opini sebelumnya mengajukan sebuah gagasan bahwa ketahanan keuangan Muhammadiyah perlu dibangun melalui paradigma baru. Dana abadi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai hasil penghimpunan donasi, infak, wakaf, atau iuran anggota, tetapi juga sebagai hasil dari aktivitas ekonomi warga yang berlangsung setiap hari. Gagasan tersebut tentu memunculkan pertanyaan lanjutan. Bagaimana konsep itu dapat diwujudkan tanpa mengubah jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam?
Pertanyaan ini penting karena setiap pembaruan dalam Muhammadiyah tidak cukup berhenti pada tataran konsep. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, setiap gagasan selalu diwujudkan dalam bentuk amal nyata. Pendidikan diwujudkan dengan sekolah. Dakwah diwujudkan melalui pelayanan sosial. Kesehatan diwujudkan melalui rumah sakit. Karena itu, pembaruan dalam bidang ekonomi pun harus diterjemahkan menjadi sebuah sistem yang dapat dijalankan bersama.
Selama ini, dana abadi sering dipahami sebagai dana yang dihimpun melalui sumbangan para dermawan. Pemahaman tersebut tidak salah. Bahkan, tradisi filantropi merupakan kekuatan utama Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Namun, apabila hanya bertumpu pada pola tersebut, pertumbuhan dana abadi akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan para donatur. Ketika kondisi ekonomi melemah, penghimpunan dana pun cenderung melambat.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi warga Muhammadiyah justru berlangsung setiap hari. Jutaan warga membeli kebutuhan pokok, membayar biaya pendidikan, menggunakan layanan kesehatan, menginap di hotel, membeli produk UMKM, hingga melakukan transaksi digital. Semua aktivitas tersebut menciptakan nilai ekonomi yang sangat besar. Sayangnya, nilai ekonomi tersebut masih tersebar dan belum menjadi kekuatan kolektif bagi Persyarikatan.
Di sinilah perlunya membangun sebuah ekosistem ekonomi Muhammadiyah. Ekosistem bukan berarti seluruh transaksi harus dilakukan di bawah kendali organisasi. Yang dimaksud adalah membangun jejaring yang menghubungkan warga, UMKM, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), koperasi, BTM, BPRS, LAZISMU, pengelola wakaf, serta berbagai mitra usaha dalam satu sistem yang saling menguatkan.
Dalam sebuah ekosistem, keberhasilan satu pihak akan memperkuat pihak lainnya. Ketika warga memilih berbelanja pada UMKM Muhammadiyah, UMKM memperoleh pelanggan. Ketika UMKM berkembang, lapangan kerja bertambah. Ketika aktivitas ekonomi meningkat, sebagian nilai ekonomi dapat dialokasikan untuk memperkuat dana abadi. Ketika dana abadi berkembang, organisasi memiliki kemampuan lebih besar untuk membangun aset produktif. Hasil aset produktif kemudian kembali digunakan untuk memperkuat dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Siklus inilah yang menjadi inti dari ketahanan keuangan.
Dengan kata lain, yang sedang dibangun bukan sekadar sistem penghimpunan dana, melainkan sistem yang mampu menciptakan nilai ekonomi secara terus-menerus. Organisasi tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat dari kedermawanan warga, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya peluang ekonomi yang memberi manfaat bagi semua pihak.
Peran teknologi digital menjadi sangat penting dalam proses ini. Digitalisasi bukan hanya soal menghadirkan aplikasi atau platform, melainkan membangun keterhubungan. Melalui teknologi, warga dapat menemukan produk UMKM Muhammadiyah dengan mudah. Amal usaha dapat saling bekerja sama. Informasi menjadi lebih terbuka. Proses transaksi lebih efisien. Yang tidak kalah penting, seluruh pengelolaan dana dapat dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Transparansi merupakan fondasi utama kepercayaan. Warga berhak mengetahui bagaimana dana yang terkumpul dikelola, ke mana dialokasikan, dan manfaat apa yang telah dihasilkan. Semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar pula partisipasi masyarakat dalam membangun ekosistem tersebut.
Ekosistem ekonomi Muhammadiyah juga tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan finansial. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, dana abadi yang berhasil dihimpun perlu dikembangkan menjadi wakaf produktif. Wakaf produktif memungkinkan aset terus menghasilkan manfaat tanpa mengurangi nilai pokoknya. Dari sinilah lahir sumber pembiayaan jangka panjang bagi pendidikan, kesehatan, dakwah, riset, beasiswa, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Konsep ini sekaligus memperluas makna ta'awun. Selama ini, tolong-menolong sering dipahami sebagai memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Pemahaman tersebut tetap benar. Namun, ta'awun juga dapat diwujudkan dengan membangun sistem ekonomi yang memungkinkan setiap aktivitas warga menghasilkan manfaat bagi sesama. Ketika seseorang membeli produk UMKM Muhammadiyah, ia tidak hanya memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia ikut menggerakkan usaha saudaranya, memperkuat dana abadi, dan pada akhirnya ikut menopang dakwah Persyarikatan. Nilai ibadahnya tidak berhenti pada transaksi, tetapi berlanjut menjadi manfaat sosial yang terus mengalir.
Tentu saja, membangun ekosistem seperti ini tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan kepemimpinan yang visioner, tata kelola yang profesional, regulasi yang jelas, serta kesiapan seluruh unsur Persyarikatan untuk berkolaborasi. Namun, sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa berbagai amal usaha besar yang kita nikmati hari ini juga lahir dari keberanian memulai sebuah gagasan yang pada masanya mungkin dianggap sulit diwujudkan.
Karena itu, sudah saatnya diskusi mengenai ketahanan keuangan Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada bagaimana meningkatkan donasi, tetapi juga pada bagaimana membangun ekosistem ekonomi yang mampu melahirkan sumber daya secara berkelanjutan. Di era digital, kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuannya menghubungkan potensi-potensi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri menjadi sebuah gerakan bersama.
Muhammadiyah memiliki seluruh modal yang diperlukan untuk memulai langkah tersebut: jutaan warga, ribuan amal usaha, jaringan hingga tingkat ranting, serta kepercayaan masyarakat yang telah dibangun selama lebih dari satu abad. Tantangan kita hari ini adalah menyatukan seluruh potensi itu dalam satu ekosistem yang memberi manfaat bagi semua.
Apabila hal itu dapat diwujudkan, maka ketahanan keuangan Muhammadiyah tidak lagi bertumpu semata pada besarnya donasi yang berhasil dihimpun setiap tahun. Ketahanan itu akan lahir dari aktivitas ekonomi warga yang terus bergerak, berkembang, dan menghasilkan manfaat bagi Persyarikatan serta masyarakat luas. Di situlah sesungguhnya ekosistem ekonomi Muhammadiyah menemukan makna strategisnya sebagai ikhtiar mewujudkan Islam Berkemajuan yang tidak hanya kuat dalam gagasan, tetapi juga tangguh dalam membangun kemandirian ekonomi umat.

