Dari Langit ke Layar: Isra Mikraj dan Kekerabatan di Era Notifikasi

Publish

15 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
116
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Dari Langit ke Layar: Isra Mikraj dan Kekerabatan di Era Notifikasi

Oleh: Yulianti – Dosen & Peneliti Komunikasi, Universitas Islam Bandung

 Kita hidup di zaman yang dipenuhi notifikasi, tetapi semakin miskin kehadiran. Pesan datang tanpa jeda, layar menyala hampir sepanjang hari, namun perhatian justru terpecah. Di rumah, di ruang kerja, bahkan di majelis, manusia sering hadir secara fisik tetapi absen secara batin. Kita terhubung, tetapi tidak selalu benar-benar hadir. Paradoks inilah yang menjadikan Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan kompas etis bagi kehidupan umat Islam di era digital.

Isra Mikraj mengajarkan makna kehadiran yang utuh. Isra adalah perjalanan malam yang sunyi; Mikraj adalah kenaikan yang penuh kesadaran. Keduanya tidak menekankan jarak, melainkan kualitas relasi. Oleh-oleh dari peristiwa agung itu adalah salat—ibadah yang melatih jeda, fokus, dan kehadiran penuh. Dalam kehidupan digital yang serba cepat dan reaktif, nilai ini semakin mendesak untuk dihadirkan kembali.

Al-Qur’an mengingatkan, “Sungguh beruntung orang-orang yang khusyuk dalam salatnya” (QS. al-Mu’minun [23]: 1–2). Kekhusyukan bukan sekadar urusan ritual, tetapi latihan kehadiran batin. Salat mendidik manusia untuk berhenti, mengarahkan niat, dan menghadirkan diri sepenuhnya. Tanpa kesadaran ini, relasi sosial—termasuk yang dimediasi teknologi—mudah kehilangan ruhnya.

Dalam kehidupan digital hari ini, kehadiran kerap direduksi menjadi status daring. “Online” disamakan dengan “hadir”. Padahal, berbagai kajian komunikasi menunjukkan bahwa intensitas komunikasi digital tidak otomatis memperdalam kedekatan emosional. Pesan yang cepat dan rutin justru berisiko kehilangan makna ketika perhatian terpecah dan relasi dijalani secara mekanis.

Fenomena ini terasa nyata dalam keseharian umat. Grup keluarga ramai, tetapi dialog miskin empati. Pesan dibalas cepat, tetapi tanpa ruang mendengar. Kita tidak kekurangan komunikasi; kita kekurangan perhatian.

Islam sejak awal menempatkan kehadiran sebagai bagian dari adab. Rasulullah ﷺ dikenal hadir sepenuhnya ketika berhadapan dengan seseorang—menghadap, mendengarkan, dan tidak memalingkan wajah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh)” (HR. al-Baihaqi). Prinsip itqan ini tidak berhenti pada kerja fisik, tetapi juga relevan dalam komunikasi dan relasi sosial.

Kekerabatan Digital

Ruang digital kini menjadi medium utama kekerabatan dan relasi sosial. Keluarga, kerabat, dan komunitas terhubung melalui pesan singkat, emoji, dan panggilan video. Bagi banyak keluarga yang terpisah jarak karena pekerjaan dan urbanisasi, teknologi menjadi jembatan silaturahmi yang tak tergantikan.

Namun jembatan ini rapuh jika dilalui tanpa adab. Pesan “sudah makan?” atau “hati-hati di jalan” bukan sekadar pertukaran informasi. Ia adalah tanda kepedulian, doa yang diselipkan dalam kata sederhana. Ketika pesan-pesan ini diperlakukan sebagai formalitas digital, makna kekerabatan perlahan terkikis.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan” (QS. an-Nisa’ [4]: 1). Ayat ini tidak membatasi silaturahmi pada ruang fisik. Di era digital, perintah ini justru menuntut tafsir baru: bagaimana menjaga kekerabatan ketika relasi dimediasi layar.

Dalam kekerabatan digital, banyak orang—terutama orang tua—melakukan akomodasi komunikasi. Mereka belajar bahasa digital generasi muda: menggunakan emoji agar tidak disalahartikan, mengirim voice note karena lebih mudah didengar, atau menyingkat pesan agar tidak dianggap mengganggu. Ini bukan sekadar adaptasi teknis, melainkan ikhtiar merawat hubungan.

Akomodasi semacam ini mencerminkan nilai ta’aruf dan tahabbub—saling mengenal dan menumbuhkan kasih sayang. Islam mengajarkan bahwa relasi sosial memerlukan upaya saling memahami. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. al-Hujurat [49]: 13). Di ruang digital, “saling mengenal” berarti memahami gaya komunikasi, ritme, dan sensitivitas masing-masing. Namun akomodasi tidak berarti meniadakan batas.

Relasi digital juga memerlukan negosiasi etis. Kapan pesan cukup, kapan perlu percakapan langsung. Kapan bercanda, kapan harus serius. Kapan berbagi, kapan menahan diri. Tanpa negosiasi ini, ruang digital mudah berubah menjadi sumber salah paham dan luka relasional.

Islam memberikan panduan jelas tentang adab komunikasi. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar” (QS. al-Ahzab [33]: 70). Ayat ini menegaskan bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, tetapi membawa konsekuensi moral. Di era digital, prinsip ini meluas: bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi kapan, bagaimana, dan dengan niat apa.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini sangat relevan di era notifikasi, ketika dorongan untuk segera merespons sering mengalahkan pertimbangan etis. Diam sejenak—memberi jeda—sering kali lebih menyelamatkan relasi daripada respons tergesa.

Teknologi Netral, Etika Tidak

Sebagian beranggapan bahwa teknologi bersifat netral dan persoalan sepenuhnya terletak pada pengguna. Pandangan ini perlu dilengkapi. Platform digital hari ini dirancang untuk menarik perhatian, mempercepat respons, dan memicu reaksi. Dalam konteks ini, etika tidak bisa hanya dibebankan pada individu.

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan panduan etis di ruang digital. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di mimbar dan majelis, tetapi juga di grup pesan, linimasa, dan kolom komentar. Ruang digital adalah medan baru amal shaleh—atau sebaliknya, sumber mudarat jika tidak dikelola dengan nilai.

Isra Mikraj sebagai Kritik Etis Zaman Digital

Di sinilah Isra Mikraj berbicara tegas kepada zaman yang tergesa. Perjalanan agung Nabi Muhammad ﷺ berlangsung dalam keheningan, bukan kebisingan; dalam fokus, bukan distraksi. Pesannya jelas: kedekatan tidak dibangun dengan kecepatan, tetapi dengan kesungguhan hadir.

Salat, yang diwajibkan dalam peristiwa Isra Mikraj, adalah latihan harian untuk menghadirkan diri secara utuh. Ia mendidik umat untuk mengatur waktu, memberi jeda, dan menjaga fokus. Jika nilai ini benar-benar diinternalisasi, cara kita berkomunikasi pun akan berubah: lebih beradab, lebih empatik, dan lebih bertanggung jawab.

Merayakan Isra Mikraj di era notifikasi bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah panggilan tanwir—pencerahan—untuk menata ulang kekerabatan digital. Kurangi kecepatan, tambah jeda. Kurangi reaksi, perbanyak perhatian. Bukan menjauhi teknologi, melainkan menundukkannya pada nilai Islam.

Jika umat ingin relasi sosial dan keluarga tetap kokoh di tengah derasnya arus digital, kita harus memilih hadir—secara sadar, beradab, dan bertanggung jawab. Dari langit ke layar, Isra Mikraj memberi arah yang jelas: kehadiran yang sadar adalah inti kekerabatan.

Tanpa kesadaran itu, teknologi secanggih apa pun tidak akan membawa kemaslahatan. Dengan kesadaran itu, ruang digital justru dapat menjadi medan silaturahmi, dakwah, dan penguatan ukhuwah yang menyejukkan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ziarah Pertapaan Rawaseneng Oleh: Khafid Sirotudin Gereja Santa Maria dan Yosef di sisi kanan jala....

Suara Muhammadiyah

27 December 2025

Wawasan

HEBATNYA PEREMPUAN: Menguatkan Peran di Rumah dan Organisasi Oleh: Bahren Nurdin Dalam lintasan se....

Suara Muhammadiyah

24 November 2023

Wawasan

Mengarungi Kecenderungan Tafsir Klasik Al-Qur`an (2) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buday....

Suara Muhammadiyah

29 May 2024

Wawasan

Re-branding Organisasi Kemahasiswaan : Membangun Citra dan Makna IMM untuk Semua  Oleh: Pheby ....

Suara Muhammadiyah

25 March 2025

Wawasan

Muhammadiyahku Berikhtiar Selamatkan Semesta Oleh: Amalia Irfani 18 November 2023 menjadi momen is....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023