Dua Laut yang Bertemu

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
63
Ilustrasi

Ilustrasi

Dua Laut yang Bertemu 

Cerpen Hamdy Salad 

Entah dari arah mana angin itu datang. Dari barat atau timur, aku tak tahu. Sebab kedua mataku sedang lamur. Yang jelas, ada sesuatu yang menyusup ke pundak. Membuat bulu romaku berdiri di tengah malam sunyi. 

Secepat kilat, sang kakek menepuk pundakku. Secepat itu pula ia tampakkan diri di depanku. Berpakaian jubah motif garis seperti kain sorjan. Seperti motif pakaian yang selalu digunakan oleh Sunan Kalijaga. Tapi jelas, tidak sedikit pun ada kemiripan wajahnya dengan sang sunan. Tidak juga dengan para wali songo. Hanya ada sedikit, sepintas lalu, ada kemiripan dengan kakekku, yang sudah lama meninggalkan sejarah dunia. 

“Sedang di manakah aku ini, Kek?” 

“Di negeri Saba.” 

“Haa? Di negeri Saba? Di daerah Wanasaba, maksud kakek? 

“Bukan! Tapi negeri dua surga!” 

“Haa!?“ Aku terkejut dengan jawabnya. 

Aku berpikir cepat, jangan-jangan kakek ini seorang penyihir. Yang bisa menghadirkan bayang-bayang dua burung raksasa yang baru saja menghilang dari pandangan mataku. Ya, mungkin saja. Bayang-bayang itu merupakan siasat dari penampakan sepasang jin yang dibuang, dan mencari jalan pulang ke tempat asalnya. Jin-jin yang dihukum karena curang. Karena khianat pada tuannya. Jangan-jangan, sepasang bayang itu juga merupakan jelmaan dari sang kakek. Atau bayang-bayang yang dihadirkan oleh kakek yang bersuara lembut ini. 

Ah. Merinding lagi bulu kudukku.

Ya. Aku memang pernah membaca buku yang berkisah tentang makhluk gaib itu. Sebuah buku yang memceritakan tentang kehidupan jin dan istana-istananya. Aku masih ingat, masih terngiang, bahwa jin itu memiliki banyak istana, dan sering berpindah dari istana satu ke istana lainnya. 

Anak-anak jin yang berkelamin perempuan, kata buku itu, selalu dikawal oleh jin preman. Jin berwatak kasar yang diberi tugas sebagai pengawal. Sedangkan anak-anak jin laki-laki yang sudah dewasa akan diberi istana yang sangat besar, seperti gedung-gedung mewah yang dibangun sebagai rumah dinas para pejabat dan penguasa di dunia nyata. Dari rumah itulah para jin bermusyawarah dan mufakat untuk mengendalikan seluruh aktivitas penyesatan terhadap manusia dengan cara yang berbeda-beda. Namun tujuan akhirnya tetaplah sama, merealisasikan cita-cita “sang iblis” yang dianggap sebagai raja, sebagai tuhan di alam jin yang harus ditaati sampai akhir hayatnya. 

“Jangan menduga yang bukan-bukan. Kakek ini tidak seperti yang ada dalam pikiranmu.” 

“Ehm… maaf, Kek.” 

“Tidak usah minta maaf. Tidak ada yang salah.” 

“Eh, ehhh, maksudku, siapa sebenarnya Kakek ini?” 

“Tidak usah banyak bertanya, tidak usah menduga-duga.” 

“Baiklah, Kek. Tapi kenapa aku ada di sini?” 

“Karena engkau memang pernah ke sini?” 

“Tidak, Kek. Belum pernah. Aku belum pernah ke tempat ini.” 

“Kau memang belum pernah ke sini, Nak. Tapi eyang kakungmu pernah bermalam di sini. Di wilayah ini.” 

“Mungkin saja. Tapi kenapa Kakek menemuiku.” 

“Karena engkau sedang sendiri. Di tempat seperti ini tidak baik duduk sendiri tanpa teman. Tanpa sesuatu pun yang mendampingi.” 

“Hanya karena itu, Kek?” 

“Salah satunya.” 

“Yang lain, Kek. Yang kedua atau …?” 

“Karena pikiramnu kosong melompong.” 

“Bukan kosong, Kek. Tapi terlalu penuh.” 

“Kakek ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, Nak. Karena engkau selalu memikirkannya, membayangkannya.” 

Kakek itu menjawab ringan dan lembut. Tapi, darimana kakek itu tahu tentang apa yang selalu kuimpikan. Mungkinkah itu juga merupakan bayanganku sendiri? Ah, tidak! Tidak mungkin sebuah impian menjadi nyata dalam sekejap mata. 

Aku hanya bisa menduga-duga. Jangan-jangan aku sedang bermimpi di dalam mimpi. Sedang bercermin di dalam cermin, dan di dalam cermin itu ada lagi bayanganku yang juga sedang bercermin. Ah, biarlah. Apa yang akan terjadi, terjadilah. 

“Pejamkan kedua matamu, Nak. Diamlah terhadap apa saja yang engkau saksikan. Tidak usah heran dan bertanya yang bukan-bukan. Tidak usah menduga-duga!” 

Suara lembut sang kakek, terasa membelai dalam telingaku. Tetapi aku ragu untuk mengikuti perintahnya. Belum sempat keraguanku berakhir, kedua mataku sudah terpejam. Walau tidak ngantuk dan tidak pula ingin tidur. Bahkan seingatku, tidak sebutir pun pil tidur yang telah kutelan, apalagi obat penenang, sebelum peristiwa ini terjadi. 

Dan tiba-tiba saja, seperti boneka robot yang ditekan tombolnya, aku berdiri dan melangkahkan kedua kaki di sisinya, di sisi sang kakek. Walau sudah tua dan bertongkat, kakek itu mampu berjalan lebih cepat dari orang biasa. Tidak kaku dan terseok. Apalagi membungkuk dan batuk-batuk. 

Betapa kejutnya aku, dalam sekejapan saja kami berdua sudah berada di jalan lebar dan lempeng. Melangkah bersama di jalan besar yang di kiri dan kanan berwarna hijau. Seperti berjalan di tengah taman raya. Sejuta indah mempesona. Seakan berada di tanah dua surga. Kebun-kebun gandum dan tumbuhan bahan makanan di sebelah kiri, serta tanaman buah-buahan di sebelah kanan. 

Dengan suara yang tenang dan jelas, kakek itu bercerita sembari melangkah tanpa terengah. Aku pun turut, mendengarkan segala yang diucapkan. 

“Di zaman dahulu, Nak, jazirah ini sudah terbelah menjadi dua bagian. Bagian utara dan bagian selatan. Boleh juga kau sebut bagian barat dan timur…” 

Kakek itu berhenti sejenak, aku juga berhenti di sisinya. Aku tidak tahu kenapa kakek itu menatapku. Meski hanya sekejap, telinga kananku terasa bergerak-gerak untuk mendengarkan dan menyimak cerita selanjutnya. 

“Entah di bagian yang mana, kau pikir sendiri nanti. Penduduknya sangat terbuka dan selalu berubah untuk berkembang. Karena banyak pelabuhan yang dapat digunakan sebagai lalulintas perdagangan bagi bangsa-bangsa dari penjuru dunia. Sedang di sebelah lainnya, penduduknya sangat tertutup, bathok kepalanya sekeras batu, karena memang daerahnya terdiri dari pegunungan batu-batu. Maka itu kata-katanya juga keras dan…”

Tiba-tiba saja, Kakek menarik tanganku untuk menepi ke pinggir jalan, dan memintaku dengan isyarat agar aku tetap diam dan duduk tenang di atas batu. Suara ringkik kuda mulai terdengar. Dari arah belakang kami berjalan. Rombongan kereta kuda melaju setengah kencang. Debu-debu naik ke atas dan hilang ditelan angkasa luas. 

Dua orang berpakaian tentara di masa lalu, dengan tombak di tangannya, melangkah tegap mendekati kami berdua. Secepat kilat menyapa, secepat kilat pula Kakek yang berada di sisiku hilang entah kemana. Tapi dua tentara itu masih berdiri tepat di hadapanku. Aku takut. Ragaku bergetar dan jatuh dari kursi batu. 

Lalu terbangun dari tidur. Termangu dan tercekat. Tubuhku penuh keringat. Pakaian pun basah seakan baru saja melintasi hujan. Beberapa saat setelah sadar seratus persen, kueja kembali halaman buku yang masih terbuka. 

“Suatu masa, pasukan raja itu sedang menuju ke sebuah tempat, tapi di tengah jalan mereka melihat sebuah pantai dan makhluk-makhluk aneh serupa manusia berwajah anjing, dan ketika lidahnya menjulur seakan lidah api yang menyalanyala. Kata orang, itu pasukan Dzulkarnain, yang tidak takut untuk menyerang hingga makhluk-makhluk aneh itu berlari ke tengah samudra, dan masuk ke dalam sebuah istana yang tampak megah seperti gumpalan kristal batu-batu mulia. Banyak pengembara yang sudah masuk ke dalam istana itu, lalu tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Kata orang, itu istana jin, kerajaan para iblis…” 

Pada bagian akhir di halaman buku itu, ada kata yang membuatku merenung sepanjang hari. “Dua lautan mengalir, dan kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh masing-masing.” 

Malam pun pergi. Rasa sunyi menghilang entah kemana. Adzan Subuh terdengar dari empat penjuru bumi.• 

Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 01 Tahun 2024 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Selamat Jalan Kyai Muhammad Jazir ASP: Sang Arsitek Kemakmuran Masjid Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zu....

Suara Muhammadiyah

28 December 2025

Humaniora

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah  Suara jejarum hujan yang membentur atap seng teras tak dapat men....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Humaniora

Di tengah lingkungan yang mayoritas beragama Katolik, Masjid Nurul Asfar di Minggir, Sleman, Yogyaka....

Suara Muhammadiyah

17 March 2025

Humaniora

Kang Dayat, Pak Guru yang Bermanfaat Sepanjang Hayat Oleh: Yudha Kurniawan, Ketua LPO PDM Bantul K....

Suara Muhammadiyah

31 October 2025

Humaniora

Dua Laut yang Bertemu  Cerpen Hamdy Salad  Entah dari arah mana angin itu datang. Dari b....

Suara Muhammadiyah

2 January 2026