Esensi Buku Cetak di Era AI

Dokumen pribadi Helvy Tiana Rosa
Dokumen pribadi Helvy Tiana Rosa

Esensi Buku Cetak di Era AI

Oleh: Helvy Tiana Rosa, Sastrawan dan Peraih IKAPI Award 2026

Saya kira kita perlu membedakan antara memiliki akses terhadap informasi dan memiliki pengetahuan. AI membuat manusia dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik, tetapi kecepatan memperoleh jawaban tidak dengan sendirinya membuat seseorang lebih memahami persoalan. Pengetahuan memerlukan proses: membaca, mempertanyakan, menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain, mengingat, meragukan, memverifikasi, kemudian menyimpulkan.

Karena itu, saya tidak melihat AI sebagai musuh buku. AI adalah alat yang luar biasa jika digunakan oleh manusia yang sudah memiliki kemampuan membaca, berpikir kritis, dan memverifikasi. Masalah muncul ketika AI tidak lagi menjadi alat bantu berpikir, tetapi menjadi pengganti berpikir.

Saya juga akan berhati-hati mengatakan bahwa AI telah menyebabkan IQ manusia modern terus menurun. Hubungan sebab-akibat semacam itu belum dapat dinyatakan sebagai fakta ilmiah. Yang mulai mendapat dukungan penelitian adalah risiko cognitive offloading, yaitu kecenderungan menyerahkan sebagian kerja kognitif kepada teknologi. 

Penelitian Microsoft Research dan Carnegie Mellon terhadap 319 pekerja pengetahuan, misalnya, menemukan bahwa semakin tinggi kepercayaan seseorang kepada AI, semakin rendah keterlibatan berpikir kritis yang dilaporkannya dalam tugas-tugas berbantuan AI. Artinya, persoalannya bukan keberadaan AI, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.

Di sinilah buku, terutama kegiatan membaca secara mendalam, menjadi sangat penting. Membaca buku memaksa kita tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan. Kita tidak sekadar mendapatkan jawaban. Kita mengikuti jalan menuju jawaban itu. Kita belajar menahan ketidaktahuan, mengikuti argumen, mengenali kontradiksi, mengingat tokoh atau konsep yang muncul puluhan halaman sebelumnya, lalu membangun pemahaman secara bertahap.

Bagi saya, ancaman terbesar zaman AI bukan manusia kekurangan informasi. Kita justru kebanjiran informasi, tetapi terancam kehilangan kesabaran untuk menjadi berpengetahuan.

Karena itu pertanyaannya bukan lagi, “Apakah AI akan menggantikan buku?” Pertanyaannya jauh lebih mendasar: setelah semua jawaban tersedia begitu cepat, apakah manusia masih bersedia berpikir?

Yang menarik, Denmark dan Swedia tidak sedang meninggalkan teknologi. Mereka justru melakukan koreksi terhadap digitalisasi pendidikan yang terlalu jauh.

Pada 2024, Denmark membuat kesepakatan kebijakan pendidikan yang antara lain mengalokasikan 540 juta kroner untuk menambah buku fisik sebagai penyeimbang pembelajaran berbasis layar. Otoritas pendidikan Denmark juga merekomendasikan sekolah memberi ruang bagi pembelajaran analog dan menggunakan layar hanya ketika memang memiliki alasan pedagogis.

Swedia mengambil arah serupa. Pemerintahnya secara eksplisit mendorong lebih banyak waktu membaca dan lebih sedikit waktu layar, meningkatkan penyediaan buku teks fisik, serta menegaskan kembali kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sebagai fondasi pendidikan.

Saya melihat ini bukan sebagai gerakan romantik untuk kembali ke masa lalu. Ini justru respons yang sangat modern terhadap problem manusia modern: krisis perhatian.

Kehidupan digital melatih kita bergerak cepat: membuka, menggulir, berpindah, mengeklik, menutup. Buku melatih kemampuan yang berbeda: berhenti, mengikuti, mengingat, menghubungkan, dan bertahan. Kita memerlukan keduanya.

Bahkan penelitian tentang membaca digital dan cetak tidak membenarkan kesimpulan sederhana bahwa semua pembacaan melalui layar pasti lebih buruk. Meta-analisis terhadap 37 studi eksperimental yang diterbitkan pada 2024 menemukan bahwa secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam pemahaman membaca antara kertas dan digital; hasilnya dipengaruhi karakteristik pembaca, teks, dan kondisi membaca. Jadi yang perlu kita bela bukan fetish terhadap kertas, melainkan ekologi membaca yang memungkinkan manusia berkonsentrasi dan membaca secara mendalam.

Dalam dunia yang semuanya ingin dipercepat, mungkin justru ada sesuatu yang harus kita pertahankan agar tetap lambat.

Membaca adalah salah satunya.

Sebab tidak semua yang lambat berarti tertinggal. Ada kelambatan yang diperlukan manusia untuk berpikir, memahami, berimajinasi, berempati, dan menjadi dewasa.

Saya kira kita harus sangat serius terhadap persoalan ini, tetapi sekali lagi jangan sampai salah mendiagnosisnya. Persoalannya bukan anak membaca buku digital atau buku cetak. Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah anak tidak memiliki stamina membaca teks panjang dalam medium apa pun.

Data PISA 2022 harus menjadi peringatan. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai setidaknya Level 2 dalam kemampuan membaca, dibandingkan rata-rata OECD 74 persen. Artinya, sekitar tiga dari empat siswa Indonesia yang mengikuti asesmen tersebut belum mencapai tingkat kompetensi membaca dasar yang digunakan PISA.

Dalam situasi seperti itu, saya tidak setuju apabila digitalisasi pendidikan dipahami sekadar sebagai memindahkan sebanyak mungkin aktivitas belajar ke layar. Digitalisasi tanpa pedagogi dapat berubah menjadi digitalisasi kedangkalan.

OECD sendiri menemukan sekitar 30 persen siswa di negara-negara OECD melaporkan terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau setiap pelajaran matematika. Pada saat yang sama, penggunaan perangkat digital untuk belajar secara terarah juga dapat memberikan manfaat. Jadi sekali lagi masalahnya bukan teknologi itu sendiri, melainkan tujuan, intensitas, dan cara penggunaannya.

Jika anak sejak kecil terutama dibiasakan berpindah dari satu potongan informasi ke potongan lainnya, saya khawatir yang melemah bukan sekadar kebiasaan membaca buku. Yang dapat tergerus adalah daya tahan menghadapi kerumitan.

Padahal hidup tidak datang dalam bentuk video tiga puluh detik.

Demokrasi, agama, sejarah, ilmu pengetahuan, sastra, persoalan kemanusiaan—semuanya membutuhkan kemampuan memahami konteks. Anak yang tidak tahan membaca beberapa halaman secara utuh akan lebih sulit diajak mengikuti argumen panjang, memeriksa sumber, memahami nuansa, atau membedakan fakta, opini, propaganda, dan manipulasi.

Karena itu saya tidak menginginkan anak Indonesia menjadi anak yang antiteknologi. Justru sebaliknya: mereka harus menguasai teknologi dan AI. Tetapi sebelum seorang anak mempunyai mesin yang dapat menjawab hampir semua pertanyaan, ia harus mempunyai pikiran yang mampu menilai apakah jawaban itu benar, salah, dangkal, bias, atau menyesatkan.

Dan kemampuan itu tidak lahir dari satu-dua kali pelatihan literasi. Ia dibentuk melalui kebiasaan membaca yang panjang sejak kecil.

Saya tidak percaya buku cetak akan mati. Tetapi saya juga tidak ingin mengatakan masa depannya otomatis aman.

Buku cetak kemungkinan tidak lagi menjadi satu-satunya medium utama pengetahuan seperti pada masa lalu. Ia akan hidup berdampingan dengan e-book, audiobook, platform digital, mesin pencari, media sosial, dan AI. Itu tidak perlu ditakuti. Peradaban membaca selalu berubah ketika teknologi berubah.

Yang harus kita perjuangkan bukan kemenangan buku cetak atas teknologi digital. Yang harus kita perjuangkan adalah kemenangan budaya membaca atas budaya serba-sekilas.

Buku cetak masih mempunyai fungsi yang sangat penting karena ia menyediakan sebuah ruang membaca yang relatif bebas dari notifikasi, tautan, iklan, pesan masuk, dan godaan berpindah aplikasi. Ia memberikan ruang bagi perhatian untuk menetap.

Tetapi masa depan buku cetak Indonesia sangat bergantung pada ekosistemnya. Kalau rumah tidak menyediakan buku, perpustakaan sekolah tidak menarik, perpustakaan publik tidak mudah dijangkau, harga buku terlalu mahal bagi sebagian keluarga, guru sendiri tidak mempunyai kebiasaan membaca, dan kegiatan literasi hanya menjadi seremoni, kita tidak bisa menyalahkan anak karena tidak mencintai buku.

Saya ingin buku kembali menjadi benda yang biasa hadir dalam kehidupan anak: ada di meja makan, kamar tidur, ruang kelas, perpustakaan, ruang tunggu, kereta, taman, dan tas sekolah. Bukan benda sakral yang hanya disentuh ketika ada tugas.

Kita juga perlu berhenti mempertentangkan buku dan AI. Anak-anak kita membutuhkan keduanya. Buku melatih kedalaman; teknologi memberi keluasan dan kecepatan. AI dapat membantu pencarian dan pengolahan informasi; manusia tetap harus melakukan penilaian, pemaknaan, dan pengambilan keputusan.

Saya justru membayangkan bahwa semakin canggih AI, kemampuan membaca mendalam akan semakin berharga. Ketika mesin dapat menghasilkan ribuan kata dalam beberapa detik, kemampuan manusia yang langka bukan lagi sekadar menghasilkan banyak kata, tetapi membaca dengan jernih, berpikir dengan mandiri, membedakan yang bernilai dari yang sekadar meyakinkan, dan memberi makna pada apa yang dibacanya.

Jadi masa depan buku cetak menurut saya tidak ditentukan oleh pertanyaan apakah kertas mampu mengalahkan layar.

Pertanyaannya adalah: apakah kita masih ingin membesarkan generasi yang sanggup duduk tenang bersama sebuah gagasan sampai mereka benar-benar memahaminya?

Jika jawabannya ya, buku masih mempunyai masa depan. Dan Indonesia masih sangat membutuhkannya. 

Disarikan dari wawancara bersama Suara Muhammadiyah tanggal 1 Oktober 2026