Ikhtiar Istiqomah Paska Ramadhan

Publish

3 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
55
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ikhtiar Istiqomah Paska Ramadhan

Ir. Tito Yuwono, Ph.D, Dosen Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sekretaris Majelis Dikdasmen PCM Ngaglik, Sleman

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Ketika nyawa ditenggorokan

Sakaratul maut datang

Ketakutan datang bak gelombang

Hati sedih berguncang mendalam


Takut, karena amal masih terasa sangat ringan

Maksiat dan dosa yang telah dilakukan

Di alam kubur datang siksaan

Bayangan hisab dan neraka membuat jiwa semakin tertekan


Bagi yang bertauhid dan istiqomah

Malaikat turun dengan wajah yang ramah

Memberi kabar gembira 

Menenangkan jiwa yang sangat gelisah

Dua pekan Ramadhan berlalu. Masih segar diingatan kita, semangat ibadah kaum muslimin di Bulan Ramadhan luar biasa. Setiap hari dari pagi sampai sore malaksanakan ibadah puasa, shalat tarawih/shalat malam tidak ada yang terlewatkan, interaksi dengan Quran sangat erat karena sering dan lama dalam membaca, semangat tolabul ilmi juga tinggi baik menjelang buka, menjelang atau setelah tarawih juga ba’da subuh. Disamping itu semangat berbagi kepada yang memerlukan juga sangat tinggi. Kesemuanya kita lakukan dengan ringan dan bahagia.

Takbir malam satu syawal merupakan tanda kesyukuran kita kepada Allah swt. Sebagaimana dalam Surat Albaqarah ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Takbir malam satu syawal bukanlah penanda berhentinya kita dalam beramal ibadah. Betapa banyak setelah takbir ini, kaum muslimin terlalai dalam ibadah. Shalat jamaah terasa berat, apalagi shalat lail ataupun shalat sunnah lainnya. Membaca Quran juga terasa berat, padahal Quran merupakan tuntunan sepanjang masa dan banyak fadhilah membacanya. 

Kita kawatir, semangat yang musiman ini akan menganggu keistiqmahan kita dalam beragama. Dalam Quran Surat Ali Imran ayat 102 Allah swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Dalam ayat di atas Allah swt memperintahkan kita untuk istiqomah, dengan takwa yang sebenar-benar taqwa. Taqwa dikala sendiri maupun bersama orang banyak. Taqwa dimanapun dan kapanpun. 

Allah swt juga mengingatkan kita untuk tidak meninggal melainkan dalam keadaan muslim. Allah swt mewanti-wanti kita untuk tidak meninggal melainkan dalan keadaan berserah diri pada –Nya dan dalam ketaatan. Tentu meninggal dalam keadaan taat adalah dengan jalan istiqomah dalam menjalani kehidupan ini.  Seseorang meninggal sesuai kebiasannya, sebagaimana ungkapan para ulama:

مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ

 “Barang siapa hidup di atas suatu kebiasaan (amalan), maka ia akan mati di atasnya.”

Ketika manusia menjelang mati atau dalam keadaan sakaratul maut, maka perasaan takut dan sedih hati menyelimuti dirinya. Perasaan takut terhadap nasib di alam kubur, takut ketika dihisab ditampakkan keseluruhan amalnya dan ditimbang, takut nasib setelah melalui jembatan shirat apakah gagal dan jatuh ke neraka atau berhasil meleawatinya masuk surga. Hati juga bersedih hati karena meniggal anak dan istri yang dicintai, meninggalkan harta benda yang telah diusahakan dengn susah payah.

Maka ketika masa-masa gentingnya sakaratul maut ini, hati diliputi rasa takut yang luar biasa, serta bersedih yang mendalam, bagi orang yang bertauhid dan istiqmah, Allah Ta’ala turunkan malaikat untuk mengiburnya. Hal ini sebagaimana dalah Quran Fushilat ayat 30:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Oleh karena menjaga istiqomah paska Ramadhan adalah sesuatu yang sangat penting. Tulisan ringan ini akan didiskusikan beberapa ikhtiar untuk istiqmah paska Ramadhan. 

Pertama, Bersemangat menuntut ilmu, mengikuti majelis taklim. Ilmu menempati kedududukan yang sangat penting. Karena ilmu akan menuntun dan menjadi panduan bagi amal. Imam Bukhari menyampaikan al’ilmu qabla alqouli wa ‘amali, yakni ilmu sebelum berkata dan dan berbuat atau beramal. Orang yang beramal tanpa disertai ilmu maka akan mudah tersesat. Bagaikan musafir yang melakukan perjalanan tanpa petunjuk jalan dan tidak ada yang orang yang bisa ditanya dalam perjalanan. Mengikuti majelis ta’lim akan semakin memperkuat keteguhan dan keistiqomahan. Disamping mendapatkan tambahan ilmu juga akan mendapatkan motivasi maupun penguatan-penguatan dalam beramal. Terkadang kita telah paham sebelumnya apa yang disampaikan Ustadz dalam majelis ta’lim. Namun kita memerlukan penguatan-penguatan hati untuk beramal dari Ustadz tersebut. Di samping itu kita memerlukan suasana yang sejuk dan relijius, yang kita dapatkan dalam majelis ta’lim. 

Kedua, beramal yang rutin atau kontinyu walaupun sedikit. Salah satu jalan menuju istiqamah adalah beramal secara rutin atau kontinyu walaupun sedikit. Amal yang rutin akan membekas dalam pribadi kita. Dan amalan bisa kita rutinkan jika amalan tersebut terasa ringan kita lakukan. Amalan seperti ini yang dicintai oleh Allah swt. 

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR.  Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Sebagai contoh amalan rutin yang ringan adalah shalah dhuha 2 rekaat sebelum kerja, puasa syawal dan seninn kamis, membaca Alquran 3 lembar setelah maghrib dan setelah subuh, Shalat fardhu secara berjamaah di masjid, shalat lail dua rekaat disambung satu rekaat witir, jika 11 rekaat terasa masih berat, infaq yang ringan-ringan dan lain sebangainya. Seseoarang akan berhenti beramal ketika merasakan amalannya berat untuk dilakukan. 

Ketiga, memilih teman yang baik. Pergaulan akan mempengaruhi keadaan agama seseorang. Ketika berteman dengan orang baik maka akan berpengaruh baik pada dirinya. Demikian sebaliknya jika berteman dengan orang yang kurang baik dan jauh dari agama akan berdampak jelek bagi dirinya. Hati manusia sangat lemah dan mudah terpengaruh oleh orang disekitarnya. Maka dalam bergaul kita mendekat kepada teman yang membantu kita untuk lebih istiqamah. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Imam Abu Daud)

Keempat sering-sering muhasabah atau intorspeksi diri. Sering introspeksi dan evaluasi diri akan menjadikan kita semakin istiqamah dan cepat untuk bertaubat. Mengevaluasi dosa-dosa dan kekurangan-kekurangan yang telah diperbuat. Kemudian menyesalinya, bertaubat dan mengiringinya dengan amal kebaikan. Allah swt berfirman dama Surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Introspeksi ini bisa dilakukan menjelang tidur.

Kelima, bersemangat berdoa kepada Allah swt agar hati ini diteguhkan dalam agama Allah swt. Dengan doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Artinya: Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Juga doa berikut:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala yang memberikan hidayah dan taufiq, sehingga kita bermunajat, berdoa dan berharap kepada-Nya. Orang yang bersemangat berdoa, biasanya disertai dengan semangat ikhtiar juga. 

Demikian beberapa ikhtiar untuk tetap istiqomah paska Ramadhan, semoga Allah swt memberikan taufik kepada kita untuk mampu istiqomah sampai ajal menjemput kita, sehingga kita menjadi orang yang husnul khatimah.

Wallahu a’lamu bishshowab. Nashrun minallahi wa fathun qarib.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tragedi Ballpoin: Cermin Retak Sistem Pendidikan Dasar Kita Oleh: Syahnanto Noerdin*) Surat perpis....

Suara Muhammadiyah

7 February 2026

Wawasan

Ancaman terhadap Demokrasi Kita Oleh: Leonita Siwiyanti Baru-baru ini masyarakat dan mahasiswa tur....

Suara Muhammadiyah

27 August 2024

Wawasan

Ketika Uang Tak Boleh Tidur: Pelajaran dari Purbaya dan Al-Qur’an Oleh: Rusydi Umar, Dosen FT....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Wawasan

Maulid dan Transformasi Profetik: Agenda Indonesia Beradab Abdur Rauf Labib Ramdhany, M.Si, Dosen A....

Suara Muhammadiyah

4 September 2025

Wawasan

(Catatan Keempat Business Gathering Suryaganic MNU) Oleh: Khafid Sirotudin   Dr Agung Danart....

Suara Muhammadiyah

11 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah