YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sedikitnya 77 pelaku UMKM mengikuti Business Matching yang diselenggarakan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat Aisyiyah pada Kamis, 15 Oktober 2026. Mengusung tema Inklusi Keuangan dan Kemitraan UMKM Berkemajuan, Ketua PP Aisyiyah yang membidangi ekonomi Latifah Iskandar menyebut bahwa kegiatan ini terselenggara sebagai bentuk respon sekaligus persiapan Aisyiyah menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks disebabkan banyak faktor.
Berbekal pengalamannya sebagai pelaku UMKM, Latifah bercerita bahwa UMKM sejatinya memiliki daya resiliensi yang cukup tinggi terhadap segala situasi ekonomi. UMKM menjadi salah satu unsur dalam sistem ekonomi modern yang telah teruji mampu menghadapi pasang surut pasar. Menjadi yang terdepan menggerakkan roda perekonomian di saat krisis terjadi.
Maka tak heran jika di kondisi ekonomi yang tidak mudah seperti sekarang, bahasa Gen Z-nya in this economy, Latifah masih menaruh harapan besar kepada UMKM untuk terus maju dan berkembang. Bergerak dengan penuh optimis meski badai ekonomi telah siap menghadang.
“Siang ini kita ingin menggelorakan bisnis UMKM melalui Business Matching,” ujarnya di Kantor PP Aisyiyah Yogyakarta.
Menurutnya, Aisyiyah memiliki posisi strategis dalam memberikan pendampingan kepada UMKM untuk naik kelas. Menfasilitasi para pelaku UMKM untuk belajar mengembangkan bisnisnya agar selalu relevan dengan tantang yang dihadapi UMKM.
“Sampai saat ini, melalui Aisyiyah, saya terus berkampanye mengajak masyarakat, khususnya warga Persyarikatan untuk membeli produk-produk UMKM,” paparnya.
Latifah menegaskan, hanya dengan membeli dan membela produk UMKM, perekonomian di tingkat akar rumput dapat terus hidup. Sehingga para pelaku UMKM dapat merasakan lebaran di tengah kondisi ekonomi yang kian menantang.
Wakil Ketua LP UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Suhaji Lestiadi mengatakan, di Indonesia, sumbangan UMKM kepada APBD sangat besar, sebanyak 61 persen. Dan tenaga kerja yang terserap sangat tinggi, berada di angka 97 persen. Potensi besar ini menurutnya perlu dikapitalisasi melalui sejumlah cara. Selain modal yang cukup, agar UMKM bisa berkembang, dibutuhkan keahlian terhadap literasi bisnis yang jitu. Membaca ke mana arah angin ekonomi akan berhembus.
“UMKM yang berkemajuan adalah UMKM yang mau terus belajar, membuka diri terhadap segala sesuatu yang positif, dan tetap optimis,” tegasnya di hadapan seluruh pelaku UMKM yang mayoritas adalah ibu-ibu.
Senior Vice President Micro Busines Group, Adjat Djatmika mengatakan, pertemuan antara pelaku UMKM dengan penyedia modal dapat menjadi upaya strategis untuk mendorong UMKM naik kelas. Terdapat banyak sekali skema dan bentuk kerjasama yang saling menguntungkan satu sama lain. Yang harapannya, UMKM dapat terus mengembangkan bisnisnya tanpa harus terkendala modal maupun skema yang rumit dan memberatkan.
Oleh sebab itu, Pimpinan Pusat Aisyiyah tidak sendirian. Bersama Bank Syariah Indonesia (BSI), Telkomsel, dan LP UMKM PP Muhammadiyah, Aisyiyah mencoba mewujudkan wadah kemitraan untuk mendukung UMKM menjadi pemain ekonomi yang terus berkembang dan berkemajuan. (diko)

